2 Timotius 1:6-7
Setiap orang–bahkan orang dengan kaliber tinggi–akan mengalami masa-masa lemah dan lesu, terintimidasi, bahkan bisa jadi putus asa. Abraham punya masa-masa di mana ia goyah iman. Musa mengalami rasa minder sampai menolak panggilan Tuhan. Daud dan pemazmur yang lain sering menyerukan ketakutan mereka. Elia, yang doanya menghentikan hujan dan menurunkan api dari langit, pernah begitu frustasi sampai minta mati saja. Timotius tidak luput dari serangan ketakutan semacam itu, karenanya Paulus menulis surat untuk menguatkannya.
Ayat 6. Paulus mengingatkan Timotius supaya mengobarkan kembali (to kindle afresh – NASB) karunia Tuhan yang ada pada Timotius melalui penumpangan tangan. Di masa lalu, Timotius pernah didoakan/ditumpangi tangan, dan itu menjadi permulaan hadir dan bekerjanya karunia rohani dari Tuhan dalam hidupnya. Namun, agaknya Paulus melihat bahwa kobaran api rohani itu menjadi redup oleh berjalannya waktu di dalam hidup Timotius. Sehingga Paulus mengingatkan Timotius agar kembali mengobarkannnya seperti pada saat pertama karunia itu diterima.
Pada bagian sebelumnya, Paulus mengapresiasi iman Timotius yang tulus ikhlas. Sebuah starting point yang sangat baik. Paulus memulai nasihatnya dengan frasa “Karena itulah” (For this reason – NASB). Karena Timotius sudah memulai perjalanannya di dalam Tuhan dengan iman yang tulus ihklas, maka Paulus mengingatkan agar Timotius menjaga nyala api Tuhan yang ada dalam dirinya. Sebab, permulaan yang baik tidak menjamin kelanjutan dan penyelesaian yang baik jug. Ada kemungkinan kemunduran, bahkan kehancuran iman.
Pengajaran yang pertama adalah: realitas karunia Tuhan itu bisa menjadi redup di dalam hidup seseorang–bahkan seseorang yang sekaliber Timotius. Bukan karunianya yang redup–sebab karunia Tuhan tidak pernah berubah, tetapi relasi dan pengalaman seseorang dengan karunia itu yang bisa redup. Yang semula bersemangat dan sangat kuat serta efektif serta mendatangkan berkat bagi banyak orang, sekarang menjadi biasa, tanpa passion dan vitalitas, atau bahkan dilupakan dan sama sekali tidak digunakan lagi.
Apa penyebab keredupan itu? Penyebab terbesar: kejatuhan dalam dosa yang menghalangi aliran kuasa dan berkat Tuhan. Penyebab lainnya: rutinitas kehidupan bisa membuat orang mulai berhenti menggunakan dan mengembangkan karunianya–merasa bisa mengerjakan tanpa karunia itu. Masalah atau tantangan atau kegagalan bisa membuat orang mejadi lemah hatinya (discourage) untuk menggunakan karunia itu, karena merasa karunia itu tidak terlalu berguna atau tidak berdampak seperti yang diinginkannya. Pengaruh pengajaran/opini lingkungan yang tidak mengakui atau memandang karunia itu tidak penting, atau merendahkan/menghina karunia itu. Keraguan/ketakutan seseorang untuk menerima tanggung jawab yang melekat atau diberikan seiring dengan penggunaan karunia itu.
Ayat 7. Dalam kasus Timotius, agaknya ada faktor keraguan/ketakutan (deilia: fearful, timid, cowardice, fearfullness) di dalam hatinya. Dari mana ketakutan ini muncul? Apakah karena ada banyak masalah atau tanggung jawab yang besar yang harus dihadapinya? Apakah karena faktor usianya yang masih muda, sehingga membuatnya merasa minder dan keder di tengah pemimpin dan jemaat yang lebih tua daripadanya? Apakah ada pekerjaan Si Jahat yang membisikkan ancaman dan intimidasi ke dalam pikirannya?
Apapun penyebabnya, Paulus mengingatkan Timotius bahwa ketakutan atau kepengecutan itu tidak berasal dari Tuhan–itu pasti dari si jahat atau dari kedagingan manusiawi. Tuhan tidak pernah memberikan roh ketakutan. Justru, Tuhan memberikan roh dengan karakteristik: kuasa (dunamis: power, kekuatan), kasih (agape: bukan kasih emosional aja, tetapi kasih Illahi), dan ketertiban (sophronismós: to discipline, correct. self-discipline, sobriety, sound mind, sound judgment).
Ketika mengalami ketakutan atau intimidasi, orang bisa melakukan berbagai hal untuk berusaha mengatasinya. Memotivasi diri sendiri, mencari kekuatan atau nasihat dari orang lain, berusaha untuk refreshing/healing, atau melakukan penyangkalan/denial, atau menyerah kepada ketakutan itu sehingga menjadi lumpuh. Dari petunjuk Paulus kepada Timotius bisa dilihat bahwa, secara tidak langsung Paulus meminta agar Timotius tidak melawan ketakutan dengan upayanya sendiri, melainkan dengan datang kepada Tuhan, Sang Sumber Karunia, meminta kuasa, kasih, dan ketertiban untuk mengatasi ketakutannya.
Tuhan, yang menjadi sumber karunia yang telah diterima Timotius, adalah Tuhan yang setia dan bertanggungjawab. Kepada jemaat Filipi, Paulus menuliskan: “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Fil. 1:6). Paulus meminta Timotius berlari kepada Tuhan, Sang Pemberi Karunia itu, yang setia, yang ketika memberikan panggilan, amanah, karunia, tidak akan meninggalkan atau membiarkan, melainkan akan menyertai hamba-Nya. Tuhan Yesus, menjelang naik ke sorga, menyertai Amanat Agung kepada murid-murid-Nya dengan janji: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat. 28:20)
Penerapan:
(1) Mengingat kembali karunia-karunia apa yang sudah diberikan Tuhan kepada saya, dan bersyukur kepada Tuhan untuk karunia-karuni itu.
(2) Berkomitmen untuk tidak mengabaikan, meainkan untuk terus menggunakannya dalam melayani orang lain, dan bertumbuh mengembangkannya.
(3) Berdoa untuk teman-teman pelayanan agar mereka terus mengobarkan karunia Tuhan yang sudah mereka terima, dan tidak menjadi lemah atau pudar.
Views: 6