1 Timotius 6:17-19
Mmelengkapi pengajaran sebelumnya tentang harta dan cara hidup yang mencukupkan diri dengan apa yang ada–di mana seakan perintah itu ditujukan untuk mereka yang dalam kondisi tidak melimpah atau kaya secara materi; pada bagian ini Paulus memberikan petunjuk khusus kepada orang percaya yang diberkati Tuhan dengan kekayaan materi lebih daripada orang lain.
Ayat 17. Paulus memerintahkan Timotius untuk menuntut (menggunakan kata yang sama, “paraggello“) orang percaya yang kaya di dunia ini (kaya dalam hal materi) agar mereka tidak tinggi hati (highminded, proud, arrogan) dan agar tidak berharap (mengandalkan) harta yang mereka miliki, tetapi agar mengandalkan Tuhan, Sang Sumber Kekayaan. Cara hidup terkait kekayaan atau materi dimulai dari perspektif atau pandangan seseoang tentang materi.
Hal yang pertama bisa ditarik adalah: Paulus tidak anti kekayaan atau anti orang kaya. Paulus tidak memerintahkan agar orang-orang kaya memiskinkan diri sehingga semua jemaat sama-sama miskinnya. Orang kaya dan miskin adalah sebuah realitas yang harus diterima–Tuhan juga yang mengijinkan seseorang berada di dalma salah satu posisi itu. Tuhan Yesus pernah menantang agar orang muda kaya itu menjual seluruh hartanya–sebab harta itu telah menjadi penghalang baginya untuk menyerahkan diri kepada Tuhan (Luk. 18:22-23).
Kedua, Paulus mengingatkan ada dua bahaya atau pencobaan besar yang bisa timbul dari kekayaan: (1) orang menjadi sombong, merasa lebih berharga, merasa lebih mulia, merasa lebih tinggi karena ia memiliki harta lebih dari orang lain–harga/nilai diri diukur dengan banyaknya harta; (2) orang bergantung/mengandalkan kekayaan sebagai sumber kehidupan, sebagai senjata pemecahan masalah–ia berpikir tidak bisa hidup kalau tidak memiliki harta.
Ketiga, Paulus menekankan bahwa bukan harta, melainkan Tuhanlah yang menjadi sumber kehidupan dan pertolontgan seorang percaya. Tuhan yang memberikan harta yang banyak kepada seseorang, dengan tujuan agar orang itu mensyukuri dan menggunakannya sesuai dengan kehendak Tuhan. Seseorang tidak perlu merasa bersalah kalau ia kaya, tidak perlu memiskinkan diri–karena harta itu diberikan Tuhan untuk dinikmati. Tapi tidak untuk disalahgunakan!
Ayat 18. Selanjutnya, Paulus memberikan perintah yang sifatnya positif: meminta agar orang-orang kaya berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, bersedia dan siap untuk memberi atau mendistribusikan kekayannya kepada orang lain yang memerlukan dengan murah hati, dan bersedia untuk saling berbagi (koinonikos: dalam KJV diterjemahkan menjadi to communicate)–menjadi bagian dari komunitas orang percaya dengan wajar; tidak menempatkan diri sebagai orang yang lebih tinggi yang membagi-bagikan sedekah kepada mereka yang lebih rendah derajatnya.
Ayat 19. Berbuat kebaikan dan kemurahan menggunakan harta yang dimiliki merupakan investasi (mengumpulkan harta yang sejati) untuk masa depan di dalam kekekalan. Motivasi mengumpulkan harta dan mendapatkan upah (keuntungan) itu tidak tabu, bahkan itu dipakai Tuhan untuk memotivasi orang percaya: memperoleh upah atau makhota. Tuhan memotivasi umatNya untuk mengejar upah dan harta yang kekal.
Penerapan:
Menjaga hati agar tidak menjadi sombong karena merasa sudah lebih murah hati lebih daripada orang lain; menjaga hati agar tidak merasa lebih tinggi dari orang lain atau memandang rendah orang lain yang dibantu secara materi.
Views: 5