Ciri Pengajaran Palsu

1 Timotius 6:3-5

Jemaat Efesus dan jemaat di tempat lain pada masa itu mulai menghadapi gelombang pengajaran palsu, di mana para pengajar-pengajarnya aktif mengajarkan prinsip mereka kepada jemaat. Paulus memberi nasihat kepada Timotius sebagai gembala jemaat, bagaimana mengenali karakter dan praktik para pengajar palsu tersebut, supaya Timotius bisa menjaga jemaat dari pengaruh mereka.

Ayat 3. Paulus beralih kepada petunjuk terkait orang-orang yang menolak pengajaran yang benar, dan mengajarkan ajaran yang lain. Pengajaran mereka bukanlah pengajaran yang sehat, karena (1) tidak berdasarkan kepada perkataan atau pengajaran Tuhan Yesus Kristus, dan (2) tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah atau jalan hidup mengikut Tuhan yang benar.

Ayat 4. Karakter atau sifat orang itu adalah: (1) berlagak tahu, padahal tidak tahu apa-apa–bukan orang yang memiliki pengertian dari belajar yang sungguh-sungguh, tapi sok tahu kebenaran; (2) suka mencari-cari soal/isu dan bersilat kata, suka berdebat, padahal tidak tahu kebenaran–pokoknya hanya megandalkan kepandaian bicara dan suka membuatr kontroversi.

Ayat 5. Dampak yang ditimbulkan di dalam jemaat: munculnya dengki, cidera, fitnah, curiga, dan percekcokan. Hanya orang-orang yang tidak berpikiran sehat dan yang sudah tidak punya pegangan kebenaran yang akan terbawa arus kegaduhan pengajar-pengajar palsu itu. Mereka punya pandangan bahwa: ibadah atau hidup menurut jalan Tuhan itu adalah cara untuk mendapatkan keuntungan finansial.

Ciri-ciri pengajaran yang meyimpang adalah: (1) tidak Alkitabiah, tapi berdasar pengertian manusia; (2) menimbulkan kontr0versi dan sensasi dan memancing perdebatan; (3) menimbulkan perpecahan di dalam jemaat; dan (4) ibadahnya berorientasi kepada keuntungan finansial–baik pengajarnya maupun pengikutnya. Motivasi pengajarnya ingin mendapat uang, pengikutnya juga beribadah supaya menjadi kaya.

Penerapan:
Tekun belajar firman Tuhan, agar prinsip atau keyakinan saya itu memiliki dasar kebenaran yang sejati.

Views: 36

This entry was posted in 1 Timotius, Perjanjian Baru, Saat Teduh. Bookmark the permalink.