Anugerah Dimuridkan dan Memuridkan

2 Timotius 1:1-2

Surat Paulus kepada Timotius yang kedua ini ditulis di dalam penjara di Roma. Menurut tradisi, tidak lama setelah menulis surat ini, Paulus dihukum pancung oleh pemerintah Romawi. Jadi, surat ini menjadi semacam wasiat untuk Timotius–yang dipandang sebagai anak yang disayangi oleh Paulus–berisi nasihat/petunjuk terakhir seorang bapa kepada anak yang menjadi tumpuan harapannya.

Ayat 1. Paulus memulai dengan kembali menyebut identitasnya sebagai rasul Yesus Kristus, utusan Yesus Kristus, bukan utusan lembaga atau individu tertentu, tetapi utusan Tuhan Yesus Kristus, yang kepadanya Paulus mempertanggungjawabkan hidup dan pekerjaannya. Pemanggilan Paulus sebagai rasul bukan merupakan kehendak manusia atau keinginannya sendiri, melainkan kehendak Allah. Dan panggilan itu sesuai dengan janji tentang kehidupan yang ada di dalam Kristus. LAI menerjemahkannya sebagai: “untuk memberitakan janji tentang hidup di dalam Kristus Yesus“.

Ayat 2. Dalam suratnya ini, Paulus menyebut Timotius sebagai “anakku yang kekasih“. Berbeda dengan sebutan di surat pertamanya, yaitu: “anakku yang sah di dalam iman“–yang bernuansa relasi yang datang karena iman sehingga menjadi bagian dari keluarga Allah, dalam surat kedua ini Paulus memberikan tekanan kepada relasi personal dan emosional dengan Timotius. Relasi Paulus dan Timotius itu terbangun lama: sekitar 18-19 tahun, sejak Paulus mengenalnya di Listra pada awal perjalanan misi Paulus. Relasi pemuridan selama itu membangun ikatan iman dan emosional yang kuat.

Saya tidak pernah menjadi seorang Paulus atau Timotius. Saya tidak pernah memiliki atau mengalami relasi iman dan emosional dengan seseorang. Bahkan dengan kakak rohani saya sekalipun, relasi itu tidak sedalam yang dimiliki Paulus kepada Timotius. Secara intelektual atau pemikiran mungkin iya, tetapi tidak sampai melibatkan kehidupan pribadi yang dalam. Demikian juga saya tidak memiliki seorang yang kepadanya saya menyerahkan dan menginvestasikan hidup saya sampai mendalam.

Saya tahu, bahwa tidak harus selalu begitu, dan relasi semacam itu bukan sesuatu yang wajib. Karena yang paling utama adalah: membangun pengenalan akan Allah dan kehidupan yang taat kepada Allah. Format relasinya bisa beragam dalam bentuk dan tingkat kedalaman. Karena konteks situasinya juga berbeda dengan zaman Paulus. Fokus utama pemuridan adalah: menolong orang untuk menjadi murid Kristus, hidup sebagai murid Kristus.

Penerapan:
Saya bersyukur karena pernah memiliki kesempatan untuk dimuridkan dan memuridkan orang lain; pernah diberi kesempatan untuk ambil bagian dalam pelayanan pemuridan: menolong orang untuk mengenal Allah dan bertumbuh di dalam Dia.

Views: 3

This entry was posted in 2 Timotius, Perjanjian Baru, Saat Teduh. Bookmark the permalink.