Iman Yang Tulen

2 Timotius 1:3-5

Paulus memandang bahwa hal yang paling berharga (karena sangat mendasar) dan patut untuk terus disyukuri adalah: iman yang sejati di dalam Tuhan. Iman yang tidak berpura-pura atau tidak meniru-niru atau dibuat-buat, melainkan iman yang asli, yang sungguh-sunguh, yang jujur, yang tulen. Dan iman yang sejati itu hanya bisa ditumbuhkan dan dikembangkan oleh Tuhan, karena anugerah-Nya.

Ayat 3-4. Paulus mengucap syukur kepada Allah, yaitu Allah yang dilayaninya dengan hati nurani yang murni sebagaimana telah dilakukan oleh para leluhurnya; ketika ia mengingat Timotius di dalam doanya siang dan malam. Kehidupan Timotius mendatangkan ucapan syukur serta kerinduan Paulus untuk bertemu kembali dengannya, karena pertemuan itu akan membawa sukacita bagi Paulus.

Apa yang dimaksud Paulus dengan melayani dengan hati nurani yang murni seperti para leluhurnya? Paulus adalah keturunan Yahudi murni, seorang yang dididik secara ketat untuk mentaati Taurat sesuai tradisi sekte Farisi yang paling keras. Mereka memiliki iman dan komitmen total kepada Allah Israel dan Hukum-hukum-Nya. Dalam semangat keagamannya, Paulus telah berkomitmen untuk menghancurkan pengikut Kristus.

Lalui bagaimana Paulus–yang sekarang telah percaya kepada Kristus–bisa berkata bahwa ia melayani Allah seperti para leluhurnya yang justru menolak dan membunuh Kristus, dan ia sendiri menganiaya pengikut Kristus? Paulus memandang dan meyakini bahwa iman kepada Kritus itu merupakan kelanjutan dari iman orang Israel kepada Allah–mengkonfirmasi bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang dijanjikan Allah di dalam Kitab Suci, bahwa Yesus Kristus adalah penggenapan semua nubuat dan rencana keselamatan Allah Israel.

Kekristenan berasal dan berakar dari Yudaisme, yaitu pernyataan Allah melalui keturunan Abraham dalam bangsa Israel. Sejarah yang begitu panjang, sejak janji Allah tentang keturunan perempuan yang akan meremukkan kepala Si Ular. Mulai dari janji/panggilan khusus kepada Abraham untuk dijadikan bangsa yang besar, yang melalui bangsa itu seluruh dunia akan diberkati.

Perjalanan panjang bangsa Israel dengan jatuh bangun iman mereka kepada Allah; bangsa yang beberapa kali terancam punah, tapi terus dipelihara oleh Tuhan; yang pernah dibuang dan diserakkan ke segala penjuru bumi, tapi dikembalikan Tuhan lagi ke Tanah Perjanjian, karena di sana Mesias itu harus dilahirkan. Dan pada waktu-Nya, “Firman [yang adalah Allah] itu telah menjadi anusia dan diam di antara kita … dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia … dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yoh. 1:1, 14, 16,17).

Di bagian ini Paulus mengatakan bahwa, setiap kali ia mengingat Timotius di dalam doanya, ia bersyukur kepada Allah dan ia merindukan untuk bertemu Timotius–yang akan mendatangkan sukacita baginya. Apa yang ada pada Timotius sehingga Paulus mengucap syukur kepada Tuhan dan bersukacita?

Ayat 5. Paulus teringat akan: iman Timotius yang tulus ikhlas, yang diwarisi Timotius dari neneknya:Lois, dan dari ibunya: Eunike. Paulus membuat paralelisme dengan mensejajarkan imannya yang berdfasar hati nurani yang murni seperti para leluhurnya dengan iman Timotius yang tulus ikhlas sepeti nenek dan ibunya. Paulus menunjukkan bahwa iman Timotius tidak tiba-tiba, melainkan ada antisedennya dalma hidup leluhurnya.

Apa yang dimaksud dengan iman yang tulus ikhlas? Kata aslinya adalah “anupokritos“, dari kata a (tanpa, without) dan hupokrinomai (berpura-pura/pretend, simulasi, meniru). Beberapa terjemahan menggunakan kata sincere, honest, atau genuine, yang memberi makna: sungguh-sungguh, tidak palsu, tidak pura-pura, asli atau bukan tiruan. Iman Timotius adalah iman yang asli dan tidak pura-pura, tidak untuk tampil di hadapan orang. Iman yang sejati.

Iman yang sejati ini, mulai-mula dilihat oleh Paulus ketika awal mula bertemu dan mengenal Timotius, dan kemudian seiring berjalannya waktu dan berbagai macam peristiwa–baik kesesakan, persoalan, penderitaan, atau juga kesuksesan–yang merupakan ujian iman; terbukti bahwa iman Timotius tetap teguh, tidak berubah, justru bertambah kuat dan dalam. Timotius tetap setia dengan imannya–sementara ada orang-orang yang menjadi murtad dan meninggalkan iman–sampai saat Paulus menulis suratnya.

Latar belakang Paulus dan latar belakang Timotius dipakai oleh Tuhan untuk meletakkan dasar iman mereka, dan kemudian membangunnya semakin kokoh. Iman yang kokoh tidak jadi dengan instan, melainkan melalui proses yang panjang. Proses untuk memulai iman itu ada, dan proses untuk menumbuhkan, mematangkan, dan menyempurnakan iman itu. Tuhan memakai sejarah keluarga, perjalanan hidup, dan segala situasi dan relasi untuk memulai dan menumbuhkan iman seseorang.

Penerapan:
Bersyukur untuk semua latar belakang dan perjalanan hidup yang dipakai Tuhan untuk memulai dan menumbuhkan iman di dalam diri saya. Itu adalah kasih karunia Tuhan, dan bukan hasil dari kemauian atau usaha saya.

Views: 6

This entry was posted in 2 Timotius, Perjanjian Baru, Saat Teduh. Bookmark the permalink.