1 Timotius 4:13-16
Setelah memberi petunjuk terkait bagaimana hidup pribadinya harus menjadi teladan bagi jemaat, Paulus memberikan petunjuk praktis kepada Timoptius terkait aktivitas pelayanan yang harus dikerjakannya di Efesus. Dan tekanan utama pelayanan Timotius adalah: mengajarkan kebenaran firman Tuhan menggunakan semua kapasitas yang Tuhan sudah berikan kepadanya.
Ayat 13. Tipmotius harus memberikan perhatian (prosecho: devoted, memberi perhatian khusus, memberi fokus) kepada pembacaan firman Tuhan di depan publik, mengkhotbahkan firman Tuhan, dan mengajarkan firman Tuhan. Ada tiga kata kerja yang digunakan: membaca (reading), menghotbahkan (preaching), dan mengajar (teaching).
Membaca sudah jelas, yaitu membaca bagian Kitab Suci. Bukan membaca filsafat, bukan membaca pikiran orang, bukan membaca berita terkini. Yang terpenting di dalam jemaat adalah membaca Kitab Suci. Mekhotbahkan (preaching: paraklesei, exhortation) berarti mendorong/menasihati orang untuk melakukan kebenaran firman Tuhan; sedangkan mengajar (teaching: didaskalia) berarti menjelaskan isi firan Tuhan agar memahami maksud Tuhan. Membaca, memahami, dan melakukan firman Tuhan!
Ayat 14. Timotius tidak boleh meninggalkan/mengabaikan karunia rohani yang sudah diterimanya melalui penumpangan tangan para panatua atasnya. Paulus menggunakan kata “neglect” (ameleo: careless, not care, tidak dirawat, tidak diperhatikan, tidak dilatih, tidak dipakai). Tuhan sudah memberikan karunia roh kepada Timotius: tanggung jawabnya adalah mengapresiasinya.
Ayat 15. Timotius harus sungguh-sungguh menyerahkan dirinya (berkomitmen) untuk menggunakan, melatih, dan mengembangkan panggilannya menggunakan karunia yang Tuhan sudah berikan, sehingga semua orang akan bisa melihat pertumbuhan atau kemajuannya. Seorang hamba Tuhan tidak hanya melayani, tetapi ia sendiri harus terus bertumbuh dan maju di dalam karunia, pemahaman, pengajaran (doktrin), dan ketrampilan pelayanannya.
Ayat 16. Yang paling utama–yang akan menyelamatkan orang lain (jemaat) dan Timotius sendiri–adalah apabila Timotius terus setia untuk mengamat-amati atau menjaga pengajarannya: agar tidak menyimpang dari doktrin yang benar. Ada dua hal yang harus terus dilakukan Timotius: mengawasi hidupnya sendiri dan mengawasi pengajarannya. Itu adalah kunci seorang pemimpin rohani: karakter/integritas dan doktrin.
Penerapan:
(1) Bersyukur telah diberi perlengkapan untuk belajar memahami firman Tuhan dan bagaimana melakukannya dalam hidup sehari-hari.
(2) Berkomitmen untuk terus tekun dan konsisten memberikan diri saya untuk membaca, mempelajari, dan menerapkan firman Tuhan seumur hidup saya.
Views: 12