1 Timotius 4:1-5
Kesesatan yang mulai berkembang di zaman Paulus adalah: ajaran yang menyatakan bahwa hal-hal rohani itu baik, sedangkan perkara-perkara jasmani itu jahat–sehingga harus dimatikan. Ini bertententangan dengan kebenaran Tuhan, karena Tuhan yang menciptakan segala sesuatu–termasuk hal-hal jasmani, dan setelah mencipta, Ia melihat segala yang dijadikan-Nya itu “Sungguh amat baik.” (Kej. 1:31).
Ayat 1. Paulus mengingatkan Timotius bahwa akan ada orang-orang yang meninggalkan iman yang benar dan berbalik mengikuti roh-roh penyesat dan mengikuti ajaran-ajaran sesat yang berasal dari si jahat. Ini bukan pendapat Paulus, melainkan hal yang sudah dinyatakna oleh Roh Kudus: kemurtadan dan penyesatan itu akan terjadi; jadi tidak perlu terkejut apabila itu terjadi.
Ayat 2. Ajaran-ajaran si jahat itu disampaikan atau disebarkan melalui orang-orang atau pengajar-pengajar yang munafik (penampilannya speetti seorang yang saleh, tetapi sebenarnya mereka mengikuti si jahat); orang-ornag ini sudah tidakmemiliki hati nurani yang murni (integritas), sebab hati nurani mereka sudah rusak dan mengeras seperti daging yang dikenai besi panas. Tidak lagi bisa mendengar suara Tuhan; menolak suara Tuhan.
Ayat 3. Beberapa pengajaran sesat itu adalah: melarang orang untuk menikah dan menyuruh orang untuk pantang makanan-makanan tertentu–ajaran yang menyatakan bahwa keinginan alamiah akan seks dan makanan adalah jahat, sehingga tidak boleh dilakukan. Ini menunjukkan pengajaran sesat yang menyatakan: roh itu baik, tapi materi itu jahat.
Ayat 3-4. Paulus menunjukkan kesesatan dari pengajaran itu dengan menyatakan bahwa: Tuhan yang menciptakan keinginan-keinginan dan naluri alamiah tubuh manusia; sehingga keinginan alamiah itu (termasuk seks dan makan) itu tidak jahat–sebab Tuhan tidak menciptakan yang jahat; melainkan keinginan itu harus diterima sebagai pemberian/anugerah Tuhan dengan ucapan syukur oleh orang percaya yang memahami kebenaran.
Ayat 5. Ciptaan dan pemberian Tuhan–termasuk keinginan alamiah tubuh manusia–itu dikuduskan dengan firmanTuhan dan dengan doa; sehingga bisa diterima dan dinikmati dengan penuh ucapan syukur; tanpa katakutan bahwa mengkonsumsinya berarti melanggar kekudusan Tuhan. All the seemingly “ordinary” things of life can then become extraordinary as they are consecrated by the Word of God and prayer.
Penerapan:
Membawa segala sesuatu dan segala aktivitas–bahkan yang paling sederhana atau biasa–di dalam doa agar dikuduskan, dan melakukan/menikmati itu semua denganpenuh ucapan syukur.
Views: 2