2 Timotius 3:6-9
Pengajaran sesat berkembang karena ada orang-orang yang bisa disesatkan di dalam jemaat. Orang-orang yang tidak bertumbuh di dalam kedewasaan rohani, yang tidak kuat komitmennya, dan yang masih diombang-ambingkan oleh berbagai keinginan, yang tidak sungguh-sungguh memahami firman Tuhan. Mereka adalah mangsa bagi para penyesat. Paulus menasihati Timotus mengenai fakta ini di tengah jemaat dan bagaimana harus bersikap.
Ayat 6-7. Paulus mengingatkan Timotius bahwa ada di antara orang-orang fasik itu yang menyelundup ke dalam rumah orang lain dan menjerat kelompok tertentu. Ada kelompok orang–dalam hal in perempuan di kota Efesus, tapi bisa berlaku untuk siapapaun juga–yang menjadi mangsa para penyesat. Ciri-ciri dari kelompok ini adalah: lemah, sarat dengan dosa, dan dikuasi oleh berbagai-bagai nafsu, yang walau inginbelajar tapi tak pernah mengenal kebenaran.
(1) Lemah (silly, weak-willed, unstable and needy): orang-orang yang hidupnya tidak stabil, yang tidak memiliki komitmen yang kokoh kepada Tuhan, gampang berubah kehendak/komitmennya;
(2) Sarat dengan dosa (dibebani oleh dosa): bisa jadi ada kebiasaan dosa yang tidak pernah ada petobatan sejati, atau beban dosa/rasa bersalah yang tidak pernah tuntas dibereskan di hadapan Tuhan;
(3) Dikuasi berbagai hawa nafsu (led on by various impulses, controlled by variopus desires): punya terlalu banyak keinginan atau ambisi yang mengombang-ambingkan mereka, yang ingin mereka penuhi atau puaskan.
(4) Ingin belajar, mau tahu banyak hal, selalu tertarik kepada hal-hal baru, tetapi tidak pernah berakar di dalam kebenaran Tuhan, tidak pernah sampai kepada pengertian yang penuh tentang kebenaran firman Tuhan, tidak paham dan tidak memegang ajaran yang benar.
Ayat 8-9. Paulus menyamakan orang-orang fasik pengajar kesesatan itu seperti Yanes dan Yambres–ini dari legenda yang berkembang di antara orang Yahudi tentang dua penyihir Firaun yang menentang Musa (Kel. 7:11, 9:11). Implikasi paralelisme ini adalah: Paulus dan Timotius adalah seperti Musa–yaitu utusan Tuhan yang membawa kebenaran berhadapan dengan para penyesat yang bukan dari Tuhan.
Karakteristik para penyesat itu digambarkan sebagai: Pertama, akal mereka bobrok (depraved, korup), sehingga pikiran dan logika mereka tidak bisa mencerna dan menerima kebenaran Tuhan–senada dengan pernyataan Paulus: “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” (1 Kor. 2:14).
Kedua, iman mereka tidak tahan uji. Karena apa yang mereka ajarkan itu bukan berasal dari Tuhan, tetapi darii rekaan manusia di bawah pengaruh si Jahat, pengajaran mereka tidak tahan uji–akan terbuki bahwa pengajaran mereka gagal atau salah. Berbeda dengan firman Tuhan yang teruji, yang: “… keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” (Yes. 55:11).
Ayat 9. Dengan demikian, karena pengajaran yang disebarkan orang-orang itu bukan berasal dari Tuhan, maka para pengajar sesat itu tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat orang akan bisa melaihat kepalsuan dan kebodohan mereka. Jadi sekalipun, dalam waktu tertentu pengajaran-pengajaran itu muncul, tapi tidak akan bertahan. Kebodohan pengajaran itu akan terbongkar di bawah terang kebenaran Tuhan.
Melalui nasihatnya ini, Paulus menolong Timotius untuk mengenali jemaatnya, agar tahu siapa-siapa yang ada di titik rentan untuk disesatkan, agar Timotius bisa menolong mereka. Paulus juga menguatkan hati Timotius, dengan keyakinan bahwa sekalipun ajaran sesat itu akan muncul, ia tidak akan kekal; sementara kebenaran firman Tuhan akan tetap selamanya.
Penerapan:
Gabungan dari keinginan daging, komitmen/ketaatan yang lemah kepada Tuhan, dan ketidakkonsistenan memegang firman Tuhan akan membuat seseorang rentan kepada penyesatan.
Views: 2