1 Timotius 2:11-15
Tuhan mendesain relasi dalam kehidupan. Ada pembagian otoritas yang ditetapkan oleh Tuhan. Ketika desain itu ditaati dan dilakukan, maka kehidupan akan harmonis dan berkenan kepada Tuhan. Sebaliknya, ketaika tatanan dan otoritas yang didesain Tuhan itu dilanggar, maka akan terjadi persoalan dan kehidupan tidak seperti yang Tuhan inginkan sejak pada mulanya. Setiap orang harus mengerti desain Tuhan, dan hidup sesuai desain itu.
Ayat 11. Paulus mengajarkan agar perempuan berdiam diri dan mendengarkan ajaran firman Tuhan dalam ibadah dengan patuh. Paulus juga tidak mengizinkan perempuan mengajar laki-laki dan memerintah laki-laki; melainkan agar perempuan di dalam jemaat berdiam diri. Pengajaran dan otoritas dalam hal doktrin merupakan bagian laki-laki. Laki-laki harus menjadi pemimpin rohani di dalam jemaat.
Ayat 13-14. Paulus tidak mengacu kepada konteks budaya, melainkan kepada doktrin firman Tuhan, yang menyatakan bahwa Allah memang menciptakan Adam sebagai kepala yang punya otoritas lebih tinggi dari Hawa. Laki-laki berarti memang diciptakan untuk posisi pemimpin. Ketika ini tidak dilakukan–entah karena kelemahan laki-laki atau ambisi perempuan–maka situasinya tidak akan seperti yang didesain oleh Tuhan.
Ayat 15. Perempuan memiliki bagian yang tidak bisa dilakukan oleh laki-laki, yaitu terkait dengan mengandung, melahirkan, dan mengasuh anak. Itu adalah peran dan fungsi yang tidak pernah bisa diambil atau dilakukan oleh laki-laki–secara biologi tidak memungkinkan. Hanya ketika setiap orang menempati dan mengerjakan sesuai dengan peran dan posisi yang didesain oleh Allah, maka kehidupan menjadi harmonis dan berkenan kepada Tuhan.
Lalu bagaimana harus bersikap ketika seseorang berada di dalam gereja atau jemaat yang memberikan otoritas dan kepemimpinan rohani kepada perempuan? Laki-laki harus mempelajari firman Tuhan dengan sungguh-sungguh untuk mengerti prinsip kebenaran Tuhan–pengajaran yang disampaikan oleh perempuan menjadi referensi atau sharing peneguhan atau pengayaan.
Keputusan iman atas doktrin harus dibangun sendiri–tidak menerima secara membabi buta, tetapi meneliti apakah benar demikian. Sehingga ketaatan bukan semata-mata karena tunduk kepada perkataan perempuan, melainkan karena keyakinan pribadi tentang kebenaran dan kehendak Tuhan, dan keputusan pribadi untuk tunduk kepada Tuhan dan kepada firman Tuhan.
Penerapan:
(1) Berdoa meminta cara pandang dan sikap yang benar mengenai posisi otoritas laki-laki dan perempuan di dalam hidup di keluarga, masyarakat, dan gereja.
(2) Mengambil tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga: mengambil keputusan, mengambil inisiatif, menjadi “sumber” prinsip kebenaran firman Tuhan.
Views: 8