1 Timotius 2:8-10
Oleh karena doa itu merupakan hal yang fundamental–dan Allah berkenan atasnya, maka Paulus meminta agar orang percaya laki-laki berdoa dari hidup yang kudus dan hati yang tanpa kemarahan dan perselisihan. Ada dua sikap hati yang diperintahkan sebagai alas seorang berdoa: kesucian hidup dan kasih-pengampunan kepada orang lain.
Benar, bahwa doa merupakan curahan hati seseorang; benar bahwa di Pejanjian Lama ada doa-doa yang berisi kemarahan kepada musuh dan permintaan agar Tuhan menimpakan murka kepada orang fasik. Tetapi sekarang, ketika karya keselamatan sudah digenapi oleh Tuhan Yesus, ketika keadilan dan murka Tuhan sudah ditanggung sepenuhnya oleh Tuhan Yesus Kristus di Golgota; maka doa yang penuh kemarahan dan permintaan penghukuman kepada orang fasik sudah tidak lagi dilakukan.
Karena Tuhan Yesus sendiri mengajarkan untuk mendoakan musuh. Dan Ia tidak hanya bicara, tetapi Ia sendiri melakukannya ketika dipaku dan tergantung di atas kayu salib: di dalam sengsara dan kehinaan-Nya oleh tangan orang-orang fasik, Ia justru mendoakan mereka: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk. 23:34).
Lalu bagaimana dengan sikap para Rasul kepada orang-orang fasik? Dalam pimpinan Roh Kudus Petrus menyatakan hukuman Tuhan kepada Ananias dan Safira. Paulus menegor dengan keras jemaat Korintus yang membiarkan ada kejahatan berat di tengah mereka; bahkan menyerahkan beberapa orang kepada Iblis agar jera berbuat jahat. Bagaimana mereka berdoa tanpa kemarahan dan permusuhan? Mereka berdoa dalam kedukaan dan kesedihan, tidak dalam kebencian dan dendam pembalasan.
Penerapan:
(1) Berdoa, kalau Tuhan berkenan dan sesuai dengan kehendak Tuhan, agar mereka sungguh-sungguh bertobat sehingga bisa dipulihkan semuanya.
(2) Berdoa agar kami memiliki hati yang mengasihi dan mengampuni, sekalipun mengalami sakit hati dan kesedihan besar.
Views: 12