Bergantung kepada Tuhan dalam Menghadapi Tantangan

2 Tesalonika 3:1-2

Hanya orang naif dan bodoh saja yang selalu berpikir bahwa segala sesuatu itu akan baik-baik saja dan tanpa hambatan atau tantangan atau kegagalan sama sekali. Apalagi di dalam pekerjaan Tuhan, di mana si Jahat juga sedang berjuang untuk menghalangi, merusak, dan menggagalkan karya Tuhan, kemungkinan untuk adanya hambatan, gangguan, dan kegagalan itu akan selalu ada. Bagaimana seorang hamba Tuhan merespons fakta ini? Dengan bergantung total kepada Tuhan melalui doa.

Paulus meminta–bukan basa-basi, tapi karena tahu bahwa ia memerlukan dukungan dosa dari orang lain–agar jemaat mendoakannya dalam dua hal: Pertama, agar firman Tuhan mendapat kemajuan dan dimuliakan, sama seperti yang terjadi di antarjemaat Tesalonika: firman Tuhan diterima bukan sebagai perkataan manusia, dan orang percaya dan menyerahkan diri kepada Tuhan, menerima keselamatan dan mengalami pertumbuhan (ayat 1).

Kedua, agar Paulus dan rombongannya terlepas dari para pengaca dan orang-orang jahat–sebagaimaa mereka juga pernah mengalami di Tesalonika. Paulus itu realisitis, mengetahui bahwa tidak semua orang akan mau menerima Injil, melainkan akan selalu ada orang yang menolak Injil dan menolak untuk percaya–dan mereka ini yang kadang menjadi pengacau yang menganiaya hamba Tuhan dan menghalangi pekerjaan Tuhan (ayat 2).

Kedua hal yang dimintakan Paulus untuk didoakan oleh jemaat ini adalah hal yang riil terjadi di dalam pelayanan pemberitaan Injil atau pemberitaan firman Tuhan. Ada situasi di mana orang menolak kebenaran Firman dan berita Injil, sehingga membuat pemberitaan firman Tuhan tidak menghasilkan buah. Kadang-kadang orang-orang yang tidak mau percaya atau yang menolak Injil akan melakukan langkah untuk mengacau, mengganggu, menghambat, dan menyerang pekerjaan Tuhan dan pekerja-pekerja Tuhan.

Menghadapi realitas potensi atau kemungkinan penolakan itu, Paulus menggantungkan harapannya bukan kepada kemampuannya dan timnya, bukan kepada strategi atau rencana program kerja yang bagus, bukan kepada pertolongan maunsia, melainkan kepada kuasa Tuhan–yang diwujudkan di dalam doa dan permintaan agar didoakan. Bagi Paulus, doa dan permohonan didoakan itu bukan basa-basi atau formalitas, melainkan kebutuhan yang vital dan esensial bagi keberlangsungan hidup dan pekerjaannya.

Penerapan:
Terus menanamkan di dalam diri sendiri bahwa saya mutlak memerlukan pertolongan Tuhan dalam segala perkara–terkait pekerjaan saya. Keberhasilan bersumber dari Tuhan, dan saya harus bergantung penuh kepada pertolongan Tuhan di dalam doa.

Views: 3

This entry was posted in 2 Tesalonika, Perjanjian Baru, Saat Teduh. Bookmark the permalink.