Bukan Legalitas, tetapi Kasih Kepada Tuhan dan Sesama

2 Samuel 1:1-5

Legalitas itu tidak cukup. Seorang yang legalis berarti hanya mempertimbangkan butir-butir aturan, masalah “do” dan “don’t” saja. Karena ada esensi yang lebih dalam dari sekedar melakukan aturan tertulis–Tuhan Yesus mengkritik legalisme para pemimpin agama Yahudi. Karena “hukum” yang tertinggi adalah: mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia. Pertanyaan yang harus diajukan bukan “Apakah tindakan ini melanggar aturan?” tetapi “Apakah tindakan ini mengasihi Tuhan dan orang lain?”.

Ayat 1-5. Ada permusuhan antara kelurga Saul dan keluarga Daud, di mana Daud makin lama makin kuat, sedangkan keluarga Saul makin melemah. Daud dicatat telah menetap dan mapan sebagai raja suku Yehuda di Hebron, ia memerintah dan membangun keluarganya di sana. Ada catatan, Daud menambah jumlah istrinya. Di Hebron ia memiliki 6 orang istri, masing-masing melahirkan anak-anak baginya.

Agaknya bagian ini memberi catatan tentang karakter Daud, yang punya integritas dalam kaitan hukum dan prinsip kebenaran, yang pemberani dan hebat sebagai prajurit dan panglima, akan tetapi tidak bisa mengendalikan diri dalam hal perempuan. Ketika masih “kecil” Daud hanya punya 1 istri, tetapi ketika mulai berkuasa, Daud mengambil banyak istri. Dan nanti, keinginan seksual yang tak terkendali ini akan menjadi sumber kejatuhan Daud!

Kemungkinan yang lain adalah: Daud melakukan politik perkawinan untuk memperkuat posisi kekuasannya. Misalnya, pernikahannya dengan Maakha, anak perempuan Talmai, raja Gesur. Tetapi, yang lain adalah perempuan-perempuan “biasa”, sekalipun ada yang sangat kaya, yaitu Abigail, janda Nabal. Nanti, Daud menuntut agar istri pertamanya, yaitu Mikhal, anak Saul, untuk dikembalikan kepadanya, sekalipun sudah dinikahkan dengan orang lain.

Bisa jadi, memang ada agenda politik dan strategi memperkuat kekuasaan yang dilakukan oleh Daud melalui perkawinan-perkawinan itu, akan tetapi, tindakan poligami yang dilakukan Daud–sekalipun tidak ada hukum yang melarang; bahkan dalam tegoran TUHAN kepada Daud: “seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu.” (2 Sam. 12:8); tetapi keputusan dan cara hidup Daud dengan banyak istri ini akan menimbulkan kesulitan dan penderitaan yang sebenanrya tidak perlu terjadi.

Penerapan:
Mendasarkan keputusan tidak semata-mata atas legalitas/aturan normatif, tetapi berdasar hikmat dan kasih kepada Tuhan dan orang lain.

Views: 0

This entry was posted in 2 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.