Kesombongan Awal Konflik dan Kehancuran

2 Samuel 2:12-23

Kesombongan selalu menimbulkan pertentangan atau konflik. Dan kesombongan membuat orang lupa diri sehingga merasa lebih kuat daripada kemampuan yang sebenarnya. Sehingga melakukan tindakan yang salah, yang mecelakakan dirinya sendiri dan orang lain. Penulis Amsal mengajarkan: “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” (Ams. 16:18), dan “Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.” (Ams. 18:12)

Ayat 12-13. Abner memimpin pasukan Isyboset bergerak dari Mahanaim ke Gibeon, Yoab memimpin pasukan Daud ke tempat yang sama, sehingga kedua pasukan itu bertemu dan berhadapan di telaga Gibeon.Tidak jelas apa alasan gerakan kedua pasukan itu, terutama gerakan Abner–apa yang menjadi tujuan Abner untuk pergi ke Gibeon dengan pasukannya. Gibeon terletak di antara Mahanaim dan Hebron–mengapa Abner tidak pergi ke Hebron yang menjadi pusat pemerintahan Daud?

Ayat 14-17. Mula-mula ada pembicaraan antara Abner dengan Yoab, di mana Abner mengusulkan agar diadakan pertandingan kekuatan (semacam pertandingan antar gladiator) antara wakil pasukan Abner dan pasukan Yoab untuk “hiburan”. Masing-masing pihak mengajukan 12 orang anak-anak muda untuk mengikuti pertandingan itu. Ternyata mereka sama-sama kuat, dan semua anak muda itu saling membunuh–24 orang mati dalam pertandingan itu. Dan kemudian pecahlah pertempuran antara pasukan Abner dan pasukan Yoab, di mana psukan Abnet mengalami kekalahan.

Bagaimana permainan atau pertandingan bisa menimbulkan pertempuran? Apakah ini pertadingan seperti yang dibuat oleh orang Filistin pada zaman Goliat? Di mana dilakukan pertarungan di antara wakil dua pasukan yang saling berhadapan untuk menentukan kemenangan? Dan ketika tidak ada yang menang atau kalah dalam pertaurngan itu, kemudian seluruh pasukan maju bertempur?

Ketika dua pihak merasa kuat dan ingin memamerkan atau membuktikan kekuatannya, maka itu menjadi potensi konflik dan peperangan. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa berbahagialah orang yang membawa damai (Mat. 5:9); lebih lanjut Tuhan mengajar: “segera berdamailah dengan lawanmu…” (Mat. 5:25). Sementara Paulus mengajarkan: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Rom. 12:18). Pamer kekuatan mendatangkan konflik, kerendahan hati membawa perdamaian.

Ayat 18-19. Dalam pertempuran itu, salah satu saudara Yoab, yaitu Asael terus mengejar Abner–Asael ini punya kelebihan daripada prajurit yang lain, ia bisa lari kencang dan staminanya sagat besar. Ia terus mengejar Abner dan tidak menyimpang ke kiri atau ke kanan, artinya Asael ini menjadikan Abner targetnya dan tidak mau melepaskan sama sekali. Mengapa? Apakah ia merasa kuat? Merasa bisa menandingi bahkan mengalahkan Abner yang adalah panglima perang Saul sehingga menujukkan kehebatannya dan menjadi tenar?

Ayat 20-23. Ketika Abner mengetahui bahwa ia terus dikejar oleh Asael, Abner mengatakan agar Asael berhenti mengejarnya dan mencari lawan yang lain. Tetapi, Asael menolak berhenti. Dan ia mati konyol! Abner membunuhnya dengan menusukkan tombak ke belakang–menunjukkan kemampuan Abner itu lebih tinggi dari Asael. Abner tidak perlu melawan Asel dengan berhadapan muka, ia bisa membunuh Asael tanpa melihatnya!

Kalimat yang digunakan Abner: “Apa aku harus memukul engkau sampai jatuh? Bagaimana aku dapat memandang muka Yoab, abangmu itu?” (ayat 22) menunjukkan dua hal: (1) Abner tahu bawa Asae bukan tandingannya, dan Asael pasti akan kalah; (2) Abner menghargai Yoab, panglima Daud, dan tidak ingin ada konflik pribadi dengannya–karena itu Abner menyuruh Asael untuk mencari lawan yang lain saja. Abner, yang lebih kuat, berusaha mencegah Asael. Tapi Asael yang arogan dan merasa kuat, tidak mau mendengarkan, sehingga tewas karena kesombongannya.

Penerapan:
Minta hati yang humble–tidak merasa kuat, tidak merasa mampu lebih daripada kemampuan saya yang sebenarnya. Minta hati yang: tidak memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut saya pikirkan, tetapi yang menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada saya (Rom. 12:3).

Views: 20

This entry was posted in 2 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.