Kekuasaan Politik dalam Kerajaan Allah

2 Samuel 2:1-7

Prinsip kepemimpinan dan politik dalam kerajaan Allah terlihat dalam bagian ini. kekuasana politik itu berasal dari Tuhan, sehingga harus ditundukkan di bawah kehendak dan rencana Tuhan. Tidak perlu mengimpose/memaksakan kekuasan kepada orang lain, melainkan bersikap dan berbuat baik kepada orang lain, dan biarlah secara aalami mereka mengakui kepemimpinan atau kekuasaan kita. Jangan mengangkat diri sendiri, melainkan biarlah Tuhan yang menempatkan di posisi apapun menurut caranya pada waktunya.

Ayat 1. Hal pertama yang dilakukan Daud setelah selesai berkabung untuk Saul dan Yonatan adalah: bertanya kepada TUHAN! Bukan membuat rencana atau strategi untuk menjadi raja–sesuai dengan janji TUHAN yang sudah divalidasi melalui urapan oleh Samuel, melainkan bertanya kepada TUHAN apa yang harus dilakukannya. Mula-mula Daud memohon konfirmais apakah ia harus pergi dari Zigklak dan pindah ke wilayah Yehuda, dan kemudian bertanya lebih spesifik ke kota atau daerah mana ia harus pergi.

Daud bertanya tidak tanpa pikiran atau ide: Pertama, ia membawa apa yang dipikirkannya untuk dimintakan petunjuk apakah TUHAN berkenan atau mengkonfirmasi; Daud tahu dengan kematian Saul dan anak-anaknya, maka tidak ada raja di Israel; padahal ia sudah diurapi TUHAN menjadi raja, dan saat itu ia sedang di wilayah Filistin. Maka langkah logisnya adalah: kembali ke wilayah Yehuda, Tapi ia membawa pikiran logis itu kepada TUHAN untuk memperoleh konfirmasi, untuk memastikan apa yang TUHAN kehendaki.

Kedua, setelah mendapat konformasi bahwa TUHAN mengendaki ia untuk pulang ke Yehuda, Daud bertanya lebih lanjut dan spesifik ke wilayah mana ia harus pergi. Dapat diduga bahwa Daud memiliki daftar kota-kota yang dapat menjadi tujuannya dan menanyakan satu-satu kepada TUHAN. Dan TUHAN memberi petunjuk bahwa Daud harus pergi ke wilayah Hebron. Maka, Daudpun taat membawa semua keluarganya, seluruh pasukan dan keluarga mereka untuk tinggal di kota-kota di wilayah Hebron (ayat 2-3).

Ayat 4. Kemudian datanglah orang-orang Yehuda, lalu mengurapi Daud sebagai raja atas kaum Yehuda. Sekalipun TUHAN telah memilih dan mengurapi Daud untuk menjadi raja atas seluruh Israel, tetapi prosesnya tidak langsung demikian, karena saat itu belum semua umat Israel bisa menerima Daud sebagai raja menggantikan Saul–nanti di bagian selanjutnya dicatat bahwa Saul masih memiliki anak laki-laki yang didukung oleh panglima perangnya menjadi raja menggantikan Saul.

Penggenapan janji Tuhan tidak selalu langusng dan seketika, melainkan kadang ada proses yang harus dilewati–di mana Tuhan sedang menyiapkan dan menata segala sesuatunya, waktu, orang, alam, situasi, dan sebagainya. Seperti kepingan-kepingan puzzle yang dikumpulan dan diletakkan satu-persatu di tempatnya, sampai kemudian rencana itu tergenapi dengan lengkap dan sempurna.

Ayat 4b-7. Setelah diurapi menjadi raja suku Yehuda di Hebron, keputusan politis/diplomatik yang dilakukan Daud adalah menjalin persahabatan dengan penduduk Jabesh Gilead, yang merupakan pendukung kuat Saul, sebab mereka pernah diselamatkan Saul, dan mereka menunjukkan komitmen kesetiaan kepada Saul. Daud mengapresiasi loyalitas penduduk kota itu kepada Saul, dan memohon agar Tuhan membalas kebaikan mereka. Di samping itu, Daud juga menyampaikan bahwa Saul–pemimpin yang mereka dukung–rtelah mati, dan Daud diangkat oleh suku yehuda seagai raja atas suku tersebut.

Daud melakukan tindakan yang cerdik secara politik: memberikan apresiasi dan sikap yang baik kepada pendukung kuat Saul, tidak mendeklarasikan diri sebagai raja pengganti Saul sehingga pendukung Saul sekaarang harus bergabung dan tunduk kepadanya, melainkan menyatakan dirinya sudah diangkat sebagai pemimpin suku Yehuda (salah satu suku yang besar dan disegani) dan berniat menjalin relasi dengan orang Israel sebagai pemimpin Yehuda.

Penerapan:
Bertanyalah dan selalu carilah pimpinan Tuhan untuk setiap keputusanmu–bukan hanya keputusan yang terkait dengan moralitas, tetapi keputusan yang bersifat profesional dalam pekerjaanmu. Milikilah rencana, tetapi bawalah rencana itu kepadaa Tuhan agar Tuhan yang memutuskan apa yang dikehendaki-Nya.

Views: 1

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.