Nasib Orang yang Independen dari Tuhan

1 Samuel 31:1-13

Ketika di luar Tuhan, semestapun akan tidak kooperatif bahkan melawan. Apalagi berhadapan atau melawan Tuhan. Situasi paling celaka adalah ketika seseorang berada di luar Tuhan, meninggalkan Tuhan, melawan atau memberontak kepada Tuhan. Karena itulah ketika jatuh dalam dosa dan diijinkan–ini adalah anugerah Tuhan, karena Tuhan sebenarnya tidak perlu melakukannya–Daud memilih “… biarlah kiranya kita jatuh ke dalam tangan TUHAN, sebab besar kasih sayang-Nya.” (2 Sam. 24:14). Daud tahu betul betapa celakanya orang yang di luar Tuhan, dan sekalipun orang dalam kejatuhan dan hukuman, selama ia ada di tangan Tuhan, ia masih selalu punya harapan.

Ayat 1-3. Sementara itu, peristiwa ini bersamaan atau dikontraskan dengan apa yang dialami Daud dan pasukannya. Ketika Daud berperang melawan orang Amalek dan menang, Saul dan pasukan Israel berperang melawan orang Filistin dan kalah. Banyak pasukan Israel yang mati terbunuh, Yonatan dan 2 saudaranya tewas dibunuh orang Filistin, dan para pemanah melukai Saul dengan parah. Situasi yang tak lagi bisa diharapkan, situasi yang fatal.

Sama-sama berperang, sama-sama menghadapi musuh dan tantangan yang berat. Daud hanya punya 400 orang yang cukup lelah, tidak tahu harus pergi ke mana untuk mengejar orang Amalek. Saul punya pasukan yang jauh lebih banyak, tapi musuhnya juga sangat banyak. Tapi Daud menang, dan Saul kalah. Penentunya adalah: TUHAN menyertai Daud, tetapi telah meninggalkan Saul. Tuhan Sumber Kehidupan, Tuhan Sumber Berkat, Tuhan Sumber Kemenangan.

Ayat 4-7. Melihat situasi yang helpless, setelah menangis sampai habis tenaganya, Daud menguatkan hatinya dan datang mencari TUHAN. Melihat stuasi yang helpless, Saul putus asa dan minta agar pembawa senjatanya membunuh dia agar ia lepas dari prospek penderitaan dan kehinaan yang ada di di hadapannya. Ketika hamba itu tidak mau melakukannya, Saul bunuh diri. Melihat itu, pembawa senjata Saul juga bunuh diri. Hari itu Saul dan ketiga anaknya dan seluruh tentaranya mati. Orang Israel pergi mengungsi, dan kota-kota mereka diduduki oleh orang Filistin.

Tindakan bunuh diri yang dilakukan Saul adalah klimaks dari pilihannya untuk hidup di luar Tuhan, untuk hidup independen dari Tuhan. Itu bentuk atau ekspresi tertinggi seorang yang memutuskan untuk hidup di luar Tuhan–mengambil hidup sendiri, padahal ia bukan pemberi hidup, memutuskan sendiri sesuatu yang ada di tangan Tuhan, merasa berhak untuk mengatur hidupnya sendiri di luar Tuhan, termasuk mengatur nyawanya sendiri. Tuhan Yesus, di puncak penderitaan-Nya berseru: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (Luk. 23:46). Seluruh hidup-Nya sampai mati-Nya, Tuhan Yesus menyerahkan ke dalam kedaulatan Allah Bapa.

Ayat 8-13. Orang Filistin menemukan mayat Saul dan anak-anaknya, lalu memancung kepada Saul dan menjadikan senjata-senjata Saul sebagai piala kemenangan dan mengumumkan berkeliling ke kota-kota Filistin. Mayat Saul dan anak-anaknya dipakukan dipakukan di tembok kota Bet-Sean sebagai monumen kemenangan sekaligus bentuk penghinaan mereka kepada Saul dan bangsa Israel. Tapi, penduduk Yabesh-Gilead, kota yang dilepaskan Tuhan untuk meninggikan Saul sebagai raja, mengirim tentara mereka untuk mencuri mayat Saul dan anak-anaknya dan memberikan penguburan penghormatan bagi Saul lalu berkabung selama 7 hari lamanya.

Di tengah tragedi itu, masih ada ekspresi kasih dan ucapan terima kasih serta penghargaan atas jasa Saul. Bagaimanapun juga, Tuhan pernah memakai Saul menjadi pemimpin yang melawan musuh dan menyelamatkan bangsanya. Dalam kasih karunia-Nya, Tuhan masih mengijinkan penghormatan diberikan kepada Saul oleh bangsa Israel yang pernah dipimpin dan diselamatkannya. Betapa Tuhan itu baik dan penuh belas kasihan kepada manusia–bahkan kepada mereka yang meninggalkan Dia.

Penerapan:
(1) Memohon diberi hati yang berserah penuh dan melekat kepada Tuhan, sebab Tuhan sumber kehiupan, dan di luar Tuhan saya tidak bisa hidup–tidak bisa melakukan apa-apa.
(2) Memohon hati yang tidak independen sehingga merasa berhak dan bisa mengatur dan menentukan hidup saya sendiri, tetapi mencari Tuhan dan mentaati Tuhan.

Views: 9

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.