1 Samuel 28:3-25
Betapa celaka orang yang mengandalkan diri sendiri dan manusia. Karena manusia itu tidak konsisten, tidak kekal, bahkan rapuh. Mungkin pada waktu normal dan kuat, ia bisa menanggung beban dengan kemampuan dan kekuatannya sendiri. Tapi ada waktunya diri sendiri sedang sangat lemah dan mutlak membutuhkan kekuatan dan pertolongan dari sumber di luar dirinya. “sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5).
Ayat 3-6. Latar belakang krisis yang dihadapi Saul: Samuel sudah mati dan Imam Besar sudah dibunuh Doeg, sehingga tidak ada orang yang bisa menyatakan kehendak TUHAN kepada Saul. Selain itu, Saul juga sudah memusnahkan semua cenayang dan orang yang bisa berhubungan dengan roh orang mati di seluruh wilayah Israel. Saul sudah memutus semua jalur komunikasi rohani–baik dengan TUHAN maupun dengan roh-roh jahat. Tidak ada saluran komunikasi spiritual yang dimiliki oleh Saul.
Ketika melihat perkemahan pasukan Filistin, Saul menjadi takut dan gatinya sangat gemetar. Tetapi, Saul tidak bisa mencari petunjuk TUHAN. Tidak ada nabi yang mendampinginya, tidak ada Imam Besar yang bisa memakai Urim dan Tumim untuk mencari kehendak TUHAN. Saul sendirian dengan ketakutannya, tidak punya pegangan apa-apa di luar dirinya sendiri. Padahal ia ada di posisi puncak kekuasaan di mana semua orang mendengarkan dan menantikan kehendaknya.
Ayat 7-10. Dalam kegentaran dan kepanikannya, Saul menyuruh pegawainya mencarikan seorang medium untuk bertanya. Saul menemui seorang perempuan medium di En-dor, dan memintanya untuk menghubungi dunia roh. Perempuan itu mula-mula menolak, sebab ia takut akan dibinasakna oleh Saul kalau ketahuan. Tetapi Saul bersumpah dalam nama TUHAN bahwa perempuan itu tidak akan menerima hukuman.
Kemerosotan Saul ditunjukkan dengan: ia datang kepada praktek medium yang dinyatakannya sendiri sebagai perbuatan dosa dan ia mmebasmi praktik itu; tapi sekarang Saul justru melakukan praktik yang dilarangnya sendiri. Bahkan Saul memakai nama TUHAN untuk bersumpah melindungi praktik pemanggilan roh yang adalah kekejian di mata TUHAN. Sudah jelas melanggar firman TUHAN, masih memakai nama TUHAN untuk melegalkan pelanggaraan itu!
Ayat 11-13. Mendengar jaminan dari Saul, perempuan itu mau mengikuti permintaannya untuk mendatangkan roh Samuel. Ketika perempuan itu melihat penampakan Samuel, ia berteriak ketakutan sebab ia jadi tahu bahwa yang datang kepadanya adalah Saul sendiri–yang bisa membinasakanannya. Tapi Saul tetap menjamin bahwa ia tidak akan mencelakai perempuan itu.
Ayat 13-19. Ketika ditanya Saul, perempuan itu mengatakan ia melihat ada wujud spirit muncul dari tanah dalam bentuk ornag tua yang mengenakan jubah. Karena Saul meminta agar didatangkan roh Samuel dan sekarang ada wujud orang tua dengan mamakai jubah, maka Saul menyimpulkan bahwa itu adalah roh Samuel. Maka ia membungkuk menghormati roh itu.
Terjadi percakapan Saul dengan roh itu. Saul meminta agar roh itu memberitahu kepadanya apa yang harus dilakukan, sebab ia gentar menghadapi pasukan Filistin dan TUHAN sudah tidak lagi berbicara kepada Saul. Roh itu memberi jawaban yang sangat negatif kepada Saul: (1) TUHAN sudah meninggalkan Saul dan sudha menjadi musuhnya; (2) TUHAN akan menyerahkan pasukan Israel kepada ornag Filistin dan besok Saul dan anak-anaknya akan mati.
Kalau yang muncul adalah roh jahat, mengapa ia bisa mengatakan hal-hal yang akan terjadi–dan apa yang dikatakannya itu benar-benar terjadi: kekalahan Israel dan kematian Saul beserta anak-anaknya. TUHAN yang bekerja. Kadang TUHAN mengijinkan roh jahat melakukan sesuatu yang menunjukkan kuasanya. Sebagaimana TUHAN mengijinkan Iblis untuk mencelakai Ayub, tetapi semua itu hanya seijin dan dalam pengendalian TUHAN.
Ayat 20. Mendengar perkataan roh itu, Saul jatuh dan sangat ketakutan, lagipula tubuhnya sangat lemah karena sama sekali tidak amakan dan minum sehari semalam. Betapa memelasnya kondisi Saul, tbuh, jiwa, dan rohnya mengalami kehancuran–tubuhnya lemas, jiwanya penuh ketakutan dan kepanikan, rohnya tidak lagi terhubung dengan TUHAN. Saul menjadi illustrasi orang yang benar-benar telah terputus dari TUHAN–karena kejahatan dan kekerasan hatinya sendiri. Seluruh aspek hidupnya rusak dan sedang menuju kebinasaan total.
Ayat 21-25. Perempuan medium itu sangat ketakutan melihat kondisi Saul–ia bisa jadi takut akan dibunuh oleh pasukan Saul karena dianggap menjadi penyebab jatuhnya Saul. Maka ia memohon agar diijinkan menyiapkan makanan bagi Saul untuk memulihkan kondisinya. Mula-mula Saul menolak, tetapi kemudian ia bisa dibujuk oleh perempuan itu dan para pengawalnya. Setelah makan, Saul dan rombongannya meninggalkan rumah perempuan itu ke dalam kegelapan malam.
Menyedihkan sekali kondisi Saul. Mengalami kehancuran mental dan roh; dan sekarang makan makanannya yang terakhir, lalu berjalan ke dalam kegelapan malam–berjalan kepada kematian yang telah menantinya esok hari dalam pertempuran dengan orang Filistin. Seperti tahanan yang sudah divonis mati memakan makanannya yang terakhir sebelum menuju tempat eksekusinya. Tidak dicatat ada pertobatan dan merendahkan diri di hadapan TUHAN untuk memohon pengamp-unan dan kemurahan-Nya. Saul sudah sampai pada titik di mana ia tidak lagi bisa datang untuk memohon belas kasihan TUHAN, tapi hanya bisa berjalan menuju kebinasaan.
Penerapan:
(1) Bersyukur kepada Tuhan oleh karena masih berbelas kasihan kepada saya sehingga saya tidak kehilangan kesempatan untuk merendahkan diri dalam pertobatan dan memperolah pengampunan dan belas kasihan dari Tuhan. Itu adalah kasih karunia kalau sampai saya akhirnya bisa mengakui dosa saya–karena sebenarnya ada dorongan untuk tidak mau mengakui dosa itu, dan pergi keluar ke dalam kegelapan malam.
(2) Berdoa agar mereka masih diberi kesempatan untuk mengalamai belas kasihan Tuhan sebagai mana Tuhan sudah memberikannya kepada saya.
Views: 10