1 Samuel 27:1-7
Paulus dalam Roma 8:28 menuliskan: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Tuhan Mahakuasa, Tuhan Setia–Ia berkuasa untuk melakukan apa yang telah Ia janjikan! Tidak ada situasi atau tindakan manusia yang bisa mengagalkan rencana-Nya! Supaya Ia yang dimuliakan, dan bukan keterlibatan manusia.
Ayat 1. Daud menjadi ragu, ia merasa bahwa cepat atau lambat Saul akan bisa menangkap dan membinasakannya. Daud berpikir–kali ini tanpa bertanya kepada TUHAN–bahwa yang paling aman adalah keluar dari tanah Yehuda dan bersembunyi di wilayah Filistin, karena Saul pasti tidak akan menyerbu ke Filistin untuk menangkapnya. Ini bertentangan dengan pernyataan TUHAN melalui nabi Gad, yang memeirntahkan Daud untuk kembali pulang ke Yehuda (1 Sam. 22:5).
Daud, karena dikuasai oleh kekuatiran/ketakutan, lalu mencari cara sendiri untuk menyelamatkan dirinya–ia melupakan firman TUHAN, ia tidak meminta petunjuk dari TUHAN. Apakah Daud sebenarnya ingat akan perintah TUHAN lewat nabi Gad, sehingga karena sudah tahu bahwa pikirannya tidak sesuai dengan firman TUHAN, maka ia sengaja tidak meminta petunjuk dari TUHAN.
Ayat 2-7. Daud dan pasukannya pergi mencari perlindungan kepada Akhis, raja Gat. Dulu Daud pernah mencoba ke sana, tapi ia ketakutan dan kemudian pura-pura jadi orang gila. Saat itu dia hanya seorang diri–sehingga orang tidak terlalu yakin apakah dia itu Daud atau bukan, maka ia biasa lolos dengan tipu muslihatnya. Tetapi sekarang, Daud disertai 600 pasukan–beserta keluarga mereka. Jadi rombongan Daud mungkin besarnya mencapai sekitar 2.000 orang. Kemungkinan besar, inilah yang menjadi pertimbangan Akhis sehingga mau memberikan suaka politik kepada Daud dan pasukannya.
Daud–dengan siasatnya lagi–kemudian meminta agar tidak tinggal di kota kerjaaan (Gat), tetapi memohon untuk diberi satu kota di luar kota kerajaan Akhis. Daud beralasan bahwa ia tidak pantas dan tidak mau merepotkan keluarga/pegawai istana Akhis, maka ia minta untuk diijinkan tinggal di satu kota agar bisa hidup sendiri. Akhis memberikan kota Ziklag kepada Daud, sehingga Daud sekarang menjadi pemimpin di satu kota.
Lihatlah perkembangan hidup Daud dari sisi kepemimpinan dan kekuasaan dan pengaruhnya. Sejak lari dari Saul, Daud adalah zero–seorang diri, buron, minta makanan dengan berbohong; lalu pura-pura gila agar bisa lolos dari bencana; kemudian mulai ada orang mengikuti dia–tapi masih mengembara, menjadi gerombolan liar, lalu jumlahnya bertambah banyak, dan sekarang diberi kekuasaan atas satu kota–sekalipun itu kota orang Filistin.
TUHAN itu terus bekerja menggenapi rencananya, sekalipun hamba-Nya serong ke kanan dan ke kiri, dan hidup hamba-Nya tidak selalu berada di dalam kehendak TUHAN. Tetapi TUHAN itu maha kuasa, Ia mengendalikan segala sesuatu dan semua periistiwa–bahkan kegagalan, kelicikan, kebodohan, dan dosa manusia–untuk dipakai menggenapi rencana-Nya. TUHAN tidak berkenan kepada kesalahan/kebebalan/dosa, tetapi itu semua tidak cukup untuk menggagalkan rencana TUHAN.
Penerapan:
Memuji Tuhan sebab Ia Mahakuasa sehingga tidak ada satupun–termasuk kelemahan dan kegagalan dan dosa manusia–dapat mengagalkan rencana-Nya.
Views: 14