1 Samuel 26:1-12
Orang dengan hati nurani yang murni adalah: yang memilih untuk tetap melakukan apa yang jelas diperintahkan Tuhan ketika ada di area abu-abu! Tidak mengambil risiko melanggar–sekalipun belum ada kepastian, dan masih ada perdebatan tentang situasi itu, melainkan memilih jalan yang paling aman! Jalan yang jelas-jelas sesuai dengan kehendak Tuhan! Sekalipun itu berarti akan kehilangan kesempatan/peluang.
Ayat 1-3. Orang-orang Zif memberitahu Saul bahwa Daud bersembunyi di wilayah mereka, bahkan bahkan bisa menyebutkan nama bukit yang ditempati oleh Daud. Maka Saul membawa 3.000 pasukan terpilih untuk mencari Daud (yang pasukannya sekitar 600 orang). Saul dan pasukannya berkemah di bukit Hakhila.
Ini berulang lagi apa yang dilakukan Saul. Ia sudah menyatakan pertobatannya untuk tidak mengejar Daud, bahkan dengan emosional ia melakukannya katika tahu Daud tidak mau membunuhnya walau ada peluang yang sangat besar–tetapi kembali ia melanggar komitmennya. ini menunjukkan Saul yang keras karena membiarkan dosa, yaitu kedengkian kepada Daud, terus ada di dalam hatinya. Dosa yang terus dipelihara–masih dipikirkan, diberi ruang di dalam hati dan pikiran, dibayangkan kemungkinan melakukannya–akan terus mejadi jerat.
Ayat 3-6. Setelah mendapat kepastian bahwa Saul benar-benar datang dan mengetahui lokasi perkemahan Saul, Daud mengajak salah seorang pasukannnya untuk mendatangi Saul. Daud dan satu pengikutnya–yaitu Abisai–mendatangi perkemahan Saul pada malam hari, hingga sampai di lokasi Saul tertidur dikelilingi pasukannya.
Kali ini Daud yang berinisatif untuk mendekati Saul–beda dengan dulu yang kebetulan saja Saul masuk ke goa persembunyian Daud. Mengapa Daud melakukannya? Mengapa ia hanya berdua saja menantang bahaya dengan masuk ke perkemahan Saul yang pasukannya 3.000 orang itu? Apakah Daud memohon pimpinan TUHAN dan meyakini penyertaan TUHAN untuk melakukannya?
Ayat 7-11. Apapun motivasi Daud, TUHAN memberikan kesempatan kepadanya. Dari 3.000 orang pasukan Saul tidak satupun yang melihat Daud, bahkan Daud sudah di posisi yang sangat dekat dengan tempat Saul tidur–tidak ada satupun pengawal yang terbangun. Sehingga sangat mudah untuk membunuh Saul–seperti yang dinyatakan oleh Abisai. Tapi, sekali lagi Daud tidak mau membunuh Saul–sebab ia yakin bahwa TUHAN akan menghukum orang yang tidak menghormati-Nya. Maka Daud tidak mau menjamah orang yang diurapi TUHAN.
Ketika situasi sangat kondusif, bahkan boleh dikatakan Tuhan seperti memberikan berkatnya: membuka peluang, membuka jalan, melancarkan urusan–tetapi situasi itu punya potensi bertentangan dengan prinsip kebenaran Tuhan–yang bisa ditafsirkan secara berbeda atau di daerah abu-abu–ambillan pilihan teraman! Sebab Tuhan masih bisa melakukan dengan berbagai cara yang lain, yang tidak abu-abu.
Ayat 11-12. Daud meyakini bahwa kalaupun Saul harus mati, biarlah TUHAN yang melakukannya, dan bukan tangannya yang menjamah Saul, sebab TUHAN berhak atas nyawa Saul dan TUHAN tidak akan kekurangan cara untuk mengambil nyawa Saul–tetapi Daud tidak mau ambil risiko melanggar kekudusan TUHAN. Daud lebih menghormati TUHAN ketimbang memanfaatkan kesempatan yang ada–yang TUHAN sendiri membukanya, sebab dicatat bahwa “TUHAN membuat mereka tidur nyenyak” (ayat 12).
Penerapan:
Ketika berada di wilayah abu-abu yang tidak mutlak dan bisa diperdebatkan dan bisa ditafsirkan dengan cara yang berbeda-beda, saya harus memilih untuk tidak ambil risiko melanggar kekudusan Tuhan!
Views: 12