Demonstrasi Hikmat atau Kebijaksanaan yang Benar

1 Samuel 25:20-35

Bijaksana atau berhikmat dalam konsep Illahi itu bukan masalah memiliki pengetahuan yang banyak atau memiliki kecerdikan dan kepintaran berstrategi. Hikmat atau wisdom dalam Alktab dimaknai sebagai kemampuan seseorang untuk mengertai apa yang benar menurut standar Tuhan dan hidup di dalam kebenaran itu. Sehingga hikmat itu bukan merupakan previlege kelompok terpelajar atau golongan atas, tetapi bisa dimiliki oleh semua orang dari semua strata sosial, sebab intinya adalah: hati yang mengerti kehendak Tuhan dan mentaatinya.

Ayat 20-23. Abigail bertemu dengan rmbongan Daud di tengah jalan. Ketika melihat Daud, ia segera turun dari atas keledainya lalu sujud menyembah di depan Daud. Merendahkan diri karena memang dala keadaan tidak berdaya dan sudah ada di ujung jurang maut. Tidak ada tempat untuk kesombongan dan harga diri lagi–erlutut merendahkan diri serendah-rendahnya dan berharap untuk memperoleh kemurahan dan belas kasihan.

Ayat 24-31. Abigail lalu bicara kepada Daud: (1) mengakui kesalahan suaminya, yang telah memaki-maki dan menghina Daud; ia juga mengakui kesalahannya karena tidak tahu kalau Daud mengirm utusan ke rumahnya; (2) mengingatkan Daud agar tidak melakukan dosa pembalasan sendiri dan tidak mencari keadilan dari TUHAN; (3) memohon Daud menerima pemberian berupa makanan yang berlimpah, sebagaimana yang semuala diminta oleh Daud; (4) mengingatkan Daud bahwa TUHAN menyertainya, dan suatu saat akan mejadi raja, karenanya jangan sampai kerajaan Daud tercemari oleh kejahatan menumpahkan darah tanpa alasan.

Kerendahan hati dan kebijaksanaan Abigail terlihat dari perkataannya kepada Daud–ia tidak menutupi kesalahan suaminya, tetapi ia meminta Daud untuk mempertimbangkan tindakannya yang akan menunut balas tanpa alasan, yaitu tanpa alasan yang dibenarkan oleh Tuhan, sebab semata-mata hanya karena terdorong kemarahan karena dihina oleh Nabal. Mengingatkan perkara yang lebih besar daripada sekedar melampiaskan kemarahan sesaat, yaitu suatu saat akan menjadi raja, dan luapan amarah ini bisa mencari cacat bagi kerajaannya.

Ayat 32-35. Daud berkata kepada perempuan itu: memuji TUHAN yang mengutusnya datang menemui Daud dan mencegah Daud melakukan pembalasan sendiri dan membuat hutang darah. Daud mengakui bahwa Abigail adalah alat TUHAN untuk menjaga integritasnya–sebab Daud sendiri sudah memutuskan untuk membunuh semua orang laki-laki di rumah Nabal malam itu juga. Lalu Daud menerima pemberian Abigail, menyuruhnya pulang, dan berjanji tidak akan mencelakakan keluarga Nabal sesuai perkataan Abigail.

Daud menunjukkan karakter yang berintegritas; hati yang mau mendengar perkataan Tuhan melalui Abigail. Sekalipun kemarahannya berkobar-kobar, namun hati nuraninya murni, sehingga masih bisa mendengarkan peringatan Tuhan. Kontras dengan Saul yang ketika marah, tidak bisa lagi mendengarkan kebenaran.

Penerapan:
Memohon hati yang murni sehingga terus bisa mendengar suara Tuhan dan mau untuk tundak dan taat kepada apa yang Tuhan katakan, sekalipun sedang emosional atau kalut.

Views: 14

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.