1 Samuel 25:12-35
Ketulusan seseorang itu diuji ketika pekerjaan atau perbuatan baiknya tidak dihargai oleh orang lain. Kalau seseorang berbuat baik disertai dengan pamrih tertentu–mendaat pujian/apresiadi, mendapat balasan kebaikan; maka ia akan tersinggung dan marah dan merasa perbuatannya yang baik itu tidak ada gunanya; ketika orang lain tidak berterima kasih, tidak membalas dengan kebaikan; bahkan justru merendahkan atau menghinanya. Tuhan Yesus berkata: “Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” (Mat 6:16). Kebaikan dengan pamrih itu tidak ada nilainya di hadapan Tuhan, dan berpootensi membawa persoalan/konflik.
Ayat 12-13. Orang-orang suruhan Daud kembali dan melaporkan apa yang dikatakan Nabal kepada mereka–dan Daud menjadi marah, lalu memerintahkan pasukannya untuk mengambil senjata. Daud membawa 400 orang pasukannya untuk menyerang dan membunuh Nabal. Daud berpikir: Nabal ini orang yang tidak tahu terima kasih, karena membalas kebaikan Daud dengan kejahatan; dan Daud bersumpah akan membunuh semua orang laki-laki yang ada pada Nabal (ayat 21-22).
Ini reaksi manusiawi–Daud merasa sudah berjasa atau berbuat baik, tapi dibalas tidak saja dengan absennya ucapan terima kasih, malah dibalas dengan penghinaan. Tetapi, kalau dilihat lebih dalam, sikap Daud ini bukan sikap yang benar! Ini adalah luapan kedagingannya. Pertama, tidak ada yang menyuruh Daud untuk menjaga domba Nabal–ia melakukan dengan inisiatif sendiri, dan ternyata ada pamrihnya: supaya dibalas dengan kebaikan pula oleh Nabal. Kedua, sekalipun apa yang dilakukan Nabal itu memang jahat: egois, tidak mau berbagi, dan menghina orang lain. Tapi itu bukan jadi bagian Daud untuk membalasnya! Kemarahan Daud menunjukkan kesombongannya karena merasa dihina dan tidak dihargai jasanya!
Waspadalah kepada hati yang punya pamrih. Apakah hatimu benar-benar tulus? Atau ada pamrih yang tersembunyi? Cara mengujinya adalah: bagaimana sikap dan responsmu ketika orang tidak menghargai, bahkan mungkin malah merendahkan apa yang sudah kauusahakan? Bagaimana sikapmu ketika orang tidak memberikan ucapan terima kasih atau tidak membalas perbuatanmu dengan kebaikan?
Ayat 14-17. Salah seorang bujang yang mengetahui insiden Nabal dengan orang-orang Daud itu melaporkannya kepada Abigail, istri Nabal. Isinya: Daud menyuruh orang-orangnya datang untuk memberi salam, tetapi dimaki-maki oleh Nabal–ini kesalahan nabal yang seharusnya memberi kemurahan kepada orang yang membutuhkan. Kemudian, bujang itu mengatakan bahwa selam ini Daud dan orang-orangnya telah berbuat baik, karena turut menjaga ternak Nabal–seperti tembok siang dan malam melindungi kawanan ternak itu. Bujang itu juga memberi tahu bahwa pasti akan ada pembalasan dari Daud atas nabal dan seisi rumahnya.
Ayat 18. Abigail segera mengambil makanan dan minuman yang sangat banyak–dia mungkin sudha diberitahu oleh bujangnya kira-kira berapa banyak jumlah pasukan Daud. Semua itu dimuatkan di atas keledai-keledai; jumlah keledainya lebih dari satu; sehingga itu nanti menjadi karavan beberapa ekor keledai penuh muatan makanan dna minuman. Tidak hanya itu, Abigail sendiri juga pergi menunggang keledai untuk mengantarkan semua perbekalan itu kepada Daud.
Abigail adalah perempuan bijak. Ia tahu, bahwa ini bukan hanya masalah perbekalan atau pemenuhan kebutuhan makanan dan minuman bagi Daud dan pasukannya; sebab Daud bisa saja datang menyernag dan merampas semua yang diinginkannya. Tetapi, ini masalah meredakan konflik yang telah dibuat oleh suaminya. Karena itu, Abigail merasa perlu untuk datang sendiri untuk menemui Daud dan mencari perdamaian dengannya. Kebijaksanaan Abigail juga terlihat dari keputusannya untuk tidak memberitahu suaminya. Ia tahu suaminya seornag yang bebal, sehingga kalau diberitahu bisa jadi malah menyulut konflik yang lebih besar lagi. Karena itu, Abigail bertindak diam-diam untuk berusaha menyelesaikan masalah itu.
Hikmat di tengah krisis yang berbahaya: (1) mempertimbangkan emosi dan pikiran dan relasi dengan orang lain, tidak semata-mata menghitung materi saja; bukan pemberian, tetapi pemulihan relasi lah yang diperlukan; (2) tidak perlu melibatkan orang yang justru bisa tambah merusak suasana.
Penerapan:
Mengakui bahwa hati saya tidak 100% tulus, ada keinginan/pamrih yang kadang ada–dan saya menjadi tersinggung ketika orang lain tidak mengapresiasi apa yang saya pikir sebagai kebaikan yang sudah saya lakukan
Views: 13