Bahaya Asumsi dan Prasangka yang Keliru

1 Samuel 25:1-11

Sentimen pribadi, kesan negatif tentang orang lain–yang tidak sesuai dengan fakta dapat membuat orang mengambil sikap dan keputusan yang jahat atau hostile kepada orang lain. Di samping tentu saja sifat atau karakter seseorang juga punya peran yang sangat besar. Orang yang hatinya mmang sudah jahat dan egois dan arogan, ditambah dengan sentimen pribadi atau prasangka negatif tentang orang lain akan menghasilkan sikap yang tidak menghargai, bahkan menyerang orang lain. Dan itu bisa berakibat fatal bagi dirinya sendiri.

Ayat 1. Samuel mati, dan dengan demikian berakhirlah masa kepemimpinan Para Hakim. Sistem kehidupan umat TUHAN berganti menjadi sistem kerajaan full, di mana pemerintahan terpusat di tangan raja. Para nabi hadir sebagai penasihat, sebagai referensi tentang kehendak TUHAN. Tetapi keputusan dan kekuasaan ada di tangan para raja.

Secara khusus, kematian Samuel menjadikan kekuasaan Saul semakin besar–secara manusiasi–sebab tidak ada lagi figur yang lebih senior dan berotoritas–satu-satunya orang yang disegani oleh Saul sudah mati. Seolah-olah Saul sekarang tidak ada yang bisa mengendalikan lagi. Mungkin itu yang dipikirkan Daud, sehingga setelah Samuel mati, Daud berkemas lalu pergi ke padang gurun Paran–lokasinya cukup jauh dari wilayah Israel; di man kemungkinan Saul mengejarnya menjadi kecil.

Ayat 2-3. Ada seorang pengusaha yang sangat kaya bernama Nabal yang tinggal di Maon. Disebutkan bahwa Nabal ini seorang yang kasar dan jahat kelakuannya, tetapi istrinya yang bernama Abigail adalah seorang perempuan yang bijak dan cantik. Pada musim pengguntingan bulu domba-dombanya, Nabal berada di Karmel. Musim pengguntingan bulu domba adalah musim “panen” bagi peternak domba. Masa ini bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan waktu panen yang meriah. Suatu hari raya (ayat 8) di mana pemilik ternak biasanya mengadakan pesta besar dan bersyukur kepada Tuhan.

Ayat 4-9. Mendengar kabar bahwa Nabal sedang menggunting bulu domba-dombanya, Daud menyuruh 10 orang pengikutnya untuk datang, menyampaikan salam dan memohon kemurahan hati Nabal untuk berbagi berkat kepada Daud dan orang-orangnya, karena mereka selama ini secara sukarela ikut menjaga kawanan domba dan tidak pernah mencuri atau merampas. Daud memakai kata-kata yang sopan dan hormat: ada ucapan salam, memohon belas kasihan, menyebut dirinya sebagai anak dan hamba-hamba Nabal.

Apa yang dilakukan Daud adalah sesuatu yang wajar pada waktu itu–umat TUHAN diperintahkan oleh TUHAN untuk tidak egois, tetapi untuk memberikanbelas kasihan kepada mereka yang berkekurangan: janda, anak yatim, dan orang asing. Sikap murah hati kepada orang lain merupakan karakter yang TUHAN inginkan untuk dimiliki umat-Nya, sebagai kesaksian dari karakter TUHAN yang Mahamurah dan penuh belas kasihan. Kedua, Daud tidak setiap saat datang minta bantuan; ia hanya datang ketika di hari raya, di mana memang lazimnya para peternak mengadakan pesta sebagai ucapan syukur kepada TUHAN atas panen yang mereka terima.

Ayat 10-11. Tetapi, Nabal menolak mereka: (1) Nabal memandang Daud sebagai seorang yang tidak pantas untuk diberi bantuan. Sebab ia mengkhianati Saul; ia memakai sebutan “anak Isai”–sebutan yang dipakai oleh Saul, ia juga menyebut Daud sebagai hamba atau budak yang bekhianat dan memberontak melawan tuannya; (2) Nabal tidak mengakui kebaikan Daud dan orang-orangnya kepadanya, dengan mengatakan ia tidak mau memberikan makanan dan minuman yang adalah hak dari para pekerjanya kepada orang-orang yang tidak jelas. Nabal menghina identitas Daud, Nabal tidak mengakui jasa/kebaikan Daud kepadanya.

Secara sepintas, sikap Nabal ini bisa diterima. Tetapi, sikapnya didasari pada asumsi yang salah. Pertama, Daud bukan pemberontak, tetapi ia dibenci Saul dan akan dibunuh, sehingga ia melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya. Daud adalah orang yang diurapi TUHAN, dan menunjukkan integritasnya untuk meghormati TUHAN. Kedua, Nabal tidak tahu bahwa selama ini Daud dan orang-orangnya telah menahan diri untuk tidak merampok atau merampas ternaknya–sekalipun mereka bisa–karena Daud orang yang takut kepada TUHAN.

Sikap dan respons Nabal kepada Daud menunjukkan karakternya: sombong, arogan, mudah menghakimi/ menilai orang lain secara negatif. Ia tidak mencari informasi atau fakta, hanya mendasarkan pada asumsinya, yang ternyata salah. Ia merasa benar dengan asumsi dan prasangkanya sendiri. Padahal semua asumsinya itu salah–tapi ia terlalu sombong untuk mau mendengarkan penjelasan atau informasi yang berbeda dari keyakinannya. Dan sikap itu akan mendatangkan malapetaka kepadanya.

Penerapan:
Memohon hati yang bijaksana dan humble, yang bersedia untuk mendengarkan dan diluruskan ketika asumsi atau prasangka atau cara berpikir saya ternyata salah–terutama pikiran saya tentang orang lain, supaya saya tidak bersikap dan berrespons salah kepada orang lain.

Views: 13

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.