Takut akan Tuhan dan Kasih akan Orang Lain

2 Samuel 1:1-16

Manusia sering merasa mampu memahami keadaan, memperhitungkan segala kemungkinan, dan menentukan tindakan yang paling menguntungkan dirinya. Padahal, pengetahuan manusia sangat terbatas dan pertimbangannya sering dipengaruhi kepentingan pribadi. Kesombongan membuat manusia mengandalkan perhitungannya sendiri, tetapi takut akan Tuhan dan kasih kepada sesama menuntun manusia untuk tetap hidup dalam kebenaran.

Ayat 1-4. Peperangan di Gilboa yang menewaskan Saul itu terjadi sekitar waktu yang sama dengan peperangan Daud melawan orang Amalek. Baru 2 hari di Ziklag setelah mengalahkan Amalek, seorang muda pengikut Saul datang kepada Daud dan menyembahnya, lalu memberitahu Daud bahwa pasukan Israel dikalahkan Filistin dan Saul dan Yonatan telah terbunuh.

Siap ayang pernah tahu apa yang terjadi di tempat lain di waktu yang sama? Ornag hanya tahu apa yang terjadi sekarang yang dialaminya, tetapi untuk semua hal yang lain ia tidak dapat mengetahuinya. Tetapi Tuhan tahu segala sesuatu, tak ada misteri bagi-Nya, dan Tuhan berkuasa atas dan mengendalikan segala sesuatu untuk menggenapi kehendak-Nya. Karena itu, jangan arogan dengan berpikir bahwa bisa menebak apa yang sedang dan akan terjadi dan bertindak berdasarkannya. Hanya bertindak berdasar pernyataan dan pimpinan Tuhan yang Mahatahu.

Ayat 5-10. Ketika ditanya lebih detil, orang muda itu bercerita–dan ceritanya ini cerita bohong karangannya sendiri. Ia bercerita bahwa melihat Saul luka parah dan sudah sekarat, dan Saul minta agar ia membunuhnya. Maka orang itu membunuh Saul–dengan dalih mentaati Saul dan berbelas kasihan kepada Saul. Di dalam ceritanya ia menyebut–mungkin tidak sengaja–bahwa dirinya seorang Amalek dan membawa jejamang serta gelang yang menurutnya adalah milik Saul sebagai bukti bahwa ceritanya itu benar.

Kemungkinan besar orang ini hanya menemukan mayat Saul, dan mengambil jejamang dan gelang Saul, akrena kemungkinan besar Daud mengenali erhiasna mlik Sul itu sebab Daud pernah sangat dekat dengan Saul. Tapi orang ini membuat cerita bohong dengan tujuan menunjukkan kemuliaan hatinya menolong Saul lepas dari penderitaan–menurut pikirannya; dan berharap mendapt apresiasi dari Daud karena–menurut pikirannya lagi–Daud akan senang sebab musuhnya sudah mati. Contoh orang yang arogan: berpikir menurut caranya sendiri, yakin dengan perhitungannya sendiri, dan yakin bisa membohongi orang lain untuk kepentingannya sendiri.

Ayat 11-12. Reaksi Daud tidak seperti yang dibayangkan orang Amalek itu. Bukannya senang, Daud justru mengoyakkan pakaiannya sebagai tanda kesedihan yang besar, demikian pula para pengikutnya. Mereka meratap dan menangis dan berpuasa sampai matahari terbenam karena Saul, karena Yonatan, karena umat TUHAN, dan karena kaum Israel–perkabungan karena memikirkan orang lain, bukan karena memikirkan diri sendiri. Orientasi hati Daud dan pengikutnya bukan kepada kepentingan sendiri, tetapi kepada: Saul, Yonatan, umat TUHAN, dan bangsa Israel!

Ayat 13-16. Setelah berkabung, Daud memanggil dan mengkonfrontasi anak muda yang melapor tadi. Orang itu mungkin sudah mulai ragu apakah rencananya berhasil–karena melihat reaksi Daud dan orang-orangnya yang justru berkabung karena kematian Saul. Ia menjawab bahwa ia seorang Amalek–dia tidak tahu, bahwa baru saja Daud membinasakan orang Amalek yang menyerang dan menjarah harta keluarganya sampai menimbulkan kepahitan yang dalam. Daud memerintahkan salah satu pengikutnya untuk membunuh orang itu karena sudah berani memusnahkan orang yang diurapi TUHAN.

Daud tidak terpengaruh oleh cerita orang itu karena Daud secara pribadi sangat mengasihi dan menghormati Saul–sekalipun Saul memusuhinya; dan Daud juga secara pribadi sangat mengasihi Yonatan, anak Saul. Di samping itu, Daud memegang prinsip kebenaran Tuhan: menghormati Tuhan dalam bentuk tidak mencelakai orang yang diurapi Tuhan. Sikap Daud yang taat dan hormat kepada Tuhan serta kasihnya kepada Saul membuat ia tetap memiliki integritas dan bertindak yang benar, tidak terbujuk atau terjebak oleh siasat orang yang jahat.

Penerapan:
(1) Memohon hati yang takut dan hormat kepada Tuhan, sehingga takut dan gentar untuk melakukan dosa dan melanggar perintah Tuhan.
(2) Memohon hati yang mengasihi orang lain, sehingga takut dan gentar melakukan dosa dan perbuatan yang mengancam, membahayakan, dan menyakiti hati orang lain.

Views: 6

This entry was posted in 2 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.