Hamba yang Mendengarkan Sang Tuan

1 Samuel 3:1-10

Di titik terendah kehidupan rohani umat-Nya, TUHAN sedang menyiapkan sebuah kebangunan rohani, yang akan dimulai dari penggilan-Nya kepada seorang anak kecil, yang diserahkan oleh ibunya untuk menjadi nazir TUHAN seumur hidupnya. TUHAN tidak membiarkan umat-Nya terus dalam keterpurukan–itu pola yang terus dilakukan sejak kejatuhan Adam. Ada rencana penyelamatan yang disiapkan oleh TUHAN untuk menolong umat-Nya.

Ayat 1. Latar belakang peristiwanya adalah: saat itu Samuel masih muda/remaja dan menjadi pelayan TUHAN di Silo di bawah pengawasan Imam Eli. Dan konteks situasi spiritualitas bangsa Israel sedang berada pada titik bawah; sebab terjadi kejahatan dan dosa yang dengan keras kepala dilakukan oleh pemimpin agama, yaitu anak-anak Eli, dan pada masa itu “firman TUHAN jarang; penglihatan-penglihatanpun tidak sering”. Ada kekeringan moralitas dan kekeringan pernyataan TUHAN.

Ayat 2-3. Pada suatu malam, Eli–yang matanya mulai kabur dan tidak bisa melihat dengan baik–sedang berbaring di tempat tidurnya Ia belum tertidur. Sementara Samuel kecil sudah tidur di dalam Kemah Suci, tempat Tabut Perjanjian berada–di hadirat TUHAN! Ketiganya, TUHAN, Eli dan Samuel berada di tempat yang sama, yaitu tempat bersemayam TUHAN.

Betapa puitisnya TUHAN itu! Ada 3 entitas yang berbaring (rest): imam Eli berbaring dalam “kebutaannya” sehingga tidak tahu apa-apa, Samuel berbaring dalam kelelahannya seharian bekerja–dan dalam kemudaan dan ketidaktahuannya, serta Tabut Perjanjian TUHAN “dibaringkan” (rested) di Kemah Suci, ilustrasi TUHAN yang Mahatahu, yang selalu hadir di antara umat-Nya dan menunggu waktu-Nya untuk mulai bekerja.

Ayat 4-7.  Lalu TUHAN memanggil nama Samuel. Di dalam ketidaktahuannya–karena “Samuel belum mengenal TUHAN” artinya sekalipun ia melihat dan terlibat dan melakukan ritual ibadah setiap hari, tetapi ia belum memiliki relasi pribadi dengan TUHAN; dan karena “firman TUHAN belum pernah dinyatakan kepadanya” sehingga Samuel tidak tahu bahwa TUHAN yang berbicara kepadanya–maka ia mengira suara itu adalah imam Eli yang memanggilnya.

Ayat 8. Ketika tiga kali peristiwa itu terjadi, barulah imam Eli sadar dan mengerti, bahwa itu bukan mimpi, itu bukan hanya imajinasi Samuel, atau salah dengar, melainkan itu adalah suara TUHAN memanggil Samuel. Maka Eli mengajari Samuel bagaimana cara merespons panggilan TUHAN itu.

Sejahat-jahatnya Eli, selemah-lemahnya ELi sebagai kepala keluarga dan pemimpin agama, ia masih memiliki  hati yang mau mendengar dan menjadi fasilitator untuk menolong Samuel memulai relasi pribaid dengan TUHAN. Eli tidak menghalangi, bahkan ia siap mendengarkan pernyataan TUHAN melaui anak kecil itu. Ada sisi kerendahan hati dan rasa takut akan TUHAN yang masih tersisa di hati Eli.

Namun, ironisnya adalah–dan betapa kebenaran ini sudah Engkau nyatakan kepada saya sejak lama: Eli mengajari Samuel bagaimana mendengarkan suara TUHAN, sementara ia sendiri sudah tidak bisa atau TUHAN sudah tidak berkenan untuk berbicara kepadanya. Karena Eli tidak bertobat dari dosanya, maka TUHAN berhenti berbicara kepadanya, dan justru bicara kepada anak yang diajarinya.

Ayat 10. Lalu datanglah TUHAN dan berdiri di sana–apakah sebelumnya hanya suara-Nya saja yang terdengar? Sekarang, setelah Samuel mengerti bagaimana merespons suara TUHAN, maka TUHAn hadir secara fisik–Theofani untuk menemui dan berbicara kepada Samuel. Sekarang Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar”

SIkap sebagai hamba! Duduk diam dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh TUHAN. Bukan mendikte, bukan mengatur agar TUHAN melakukan ini dan itu. Tetapi merendahkan diri, menyerahkan agenda sepenuhnya kepada TUHAN: “Berbicaralah”, dan menempatkan diri sebagai hamba: “hamba-Mu ini mendengar”; bukan membantah, bukan memprotes, bukan menyalahkan; tetapi mendengarkan TUHAN!

 

Views: 5

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.