Jalan Pengampunan dari Allah

Ibrani 10:1-9

Hukum Tuhan, yaitu Taurat, diberikan kepada umat Tuhan untuk membaut mereka mengerti bahwa mereka orang berdosa dan tidak bisa memenuhi standar kekudusan Tuhan. Tetapi, melalui hukum Taurat juga, Tuhan menyediakan jalan untuk memperoleh pengampunan dosa, supaya umat Tuhan tidak binasa ditimpa murka Tuhan karena dosa mereka. tetapi, ritual pengampunan dosa di dalam Taurat itu tidak sempurna, hanya sementara, sampai Tuhan Yesus Kristus, Anak Domba Allah itu datang sebagai jalan penghapusan dosa dan keselamatan yang sempurna.

Ayat 1-3. Aturan di dalam hukum Taurat hanyalah bayangan tentang keselamatan, tetapi bukan hakekat dari keselamtan itu sendiri–not the very form, not the reality themselves. Karen bukan hakekat yang sebenarnya, maka ritual korban menurut Taurat itu tidak mungkin dan tidak akan pernah menguduskan orang yang melakukan ritual itu dengan sempurna. Justru persembahan korban yang rutin itu mengingatkan orang bahwa ia tidak sempurna, bahwa ia masih terus berdosa.

Ayat 4-9. Darah domba jantan dan lembu–yang tidak ada kaitannya dengan dosa–tidak mungkin menghapuskan dosa; karena yang berdosa adalah manusia, yang membayar hukuman dosa seharusnya manusia. Di dalam Taurat, seolah Tuhan berkata: “Karena yang sempurna belum ada, kamu bisa memakai cara ini dulu—cara yang tidak sempurna, yang sebenarnya tidak bisa memenuhi tuntutan-Ku, sampai yang sempurna itu datang; yaitu persembahan sempurna yang sesuai dengan kehendak-Ku.”

Tuhan tidak hanya menuntut kekudusan kepada manusia yang tidak kudus dan tidak mungkin memenuhi standar kekudusannya dengan sempurna. Tetapi Tuhan juga menyediakan jalan agar manusia memperoleh pengampunan dosa. Tuhan harus menuntut kekudusan, sebab Tuhan Mahakudus. Tapi di dalam kasih-Nya, Tuhan tahu manusia berdosa tidak akan sanggup memenuhi standar kekudusan-Nya. Sehingga Ia membuat dan menetapkan jalan bagi manusia untuk mendapatkan pengampunan dosa.

Manusia membutuhkan jalan pengampunan dosa itu–sebab mereka pasti dan akan terus-menerus berbuat dosa. Orang yang merasa tidak berdosa, dan tidak memerlukan jalan pengampunan Tuhan adalah orang yang sombong, orang yang buta, yang tertipu oleh dosa, dan yang menipu dirinya sendiri. Maka, Tuhan menolak orang Farisi yang merasa suci, tetapi membenarkan si pemungut cukai yang mengakui dosanya dan mohon belas kasihan Tuhan (Luk. 18:10-14).

Karena Tuhan yang Mahakudus dan yang tahu bagaimana memperoleh pengampunan dari-Nya, maka jalan atau cara yang ditetapkan Tuhanlah yang akan bisa membuat manusia memperoleh pengampunan. Manusia tidak bisa membuat jalan sendiri, tidak berhak menentukan caranya sendiri–kalau ingin menerima pengampunan Tuhan, ya harus melalui cara yang ditentukan oleh Tuhan.

Itulah sebabnya, dalam perjanjian lama, hanya bangsa Israel yang memperoleh pengampunan dosa–karena mereka yang dianugerahi ketetapan Tuhan untuk memperoleh pengampunan dosa di dalam Taurat. Bangsa lain yang ingin memperoleh pengampunan, harus menjadi atau melakukan apa yang dilakukan oleh bangsa Israel. Di luar itu tidak ada jalan pengampunan dosa.

Tapi, jalan yang digunakan di perjanjian lama sesuai Taurat itu adalah jalan yang sementara–sementara menunggu jalan pengampunan dosa yang sempurna, yaitu melalui kematian Tuhan Yesus Kristus sebagai Korban Penebus Dosa yang berkenan dan sempurna memenuhi tuntutan Allah, sehingga menyelesaikan masalah dosa dengan tuntas dan kekal.

Penerapan:
Memuji Tuhan yang mengasihi manusia; yang ditunjukkan dengan penyediaan ruang pengampunan dosa menggunakan cara yang Tuhan tetapkan, sehingga manusia memiliki jalan untuk memperoleh pengampunan dosa.
Keseimbangan antara kekudusan dan kasih Tuhan. Ia menuntut sekaligus memberi jalan bagi manusia untuk memenuhi tuntutan-Nya. Sebab Tuhan tahu, manusia tidak akan pernah bisa membuat jalannya sendiri untuk memenuhi ukuran tuntutan kekudusan Tuhan.

Views: 29

This entry was posted in Ibrani, Perjanjian Baru, Saat Teduh. Bookmark the permalink.