Panggilan Tuhan dan Iman Manusia

1 Timotius 1:1-2

Ayat 1. Paulus menyebutkan siapa dirinya: ia adalah seorang rasul (utusan) dari Yesus Kristus–ia tidak independen, melainkan mewakili Yesus Kristus. Sekalipun seorang utusan diberi otoritas dan kekuasaan untuk melakukan sesuatu atau mengambil keputusan, otoritas dan kekuasaannya itu harus sejalan dengan perintah atau misi dari Yesus Kristus. Seorang rasul tidak memiliki agenda sendiri, malainkan hanya menjalankan agenda dan rencana dari Yesus Kristus.

Paulus menjadi rasul bukan karena keinginan atau pilihan atau ambisinya sendiri–ia tidak menunjuk atau mengangkat dirinya menjadi rasul, melainkan karena perintah resmi dari Allah dan Tuhan Yesus Kristus. Kata yang dipakai adalah epitage yang berarti keputusan resmi, keputusan yang otoritatif, keputusan yang memiliki kekuatan hukum/otoritas, yaitu otoritas Allah sendiri. Bukan kompetensi, motivasi, atau ambisi pribadi–melainkan panggilan dan perintah/pengutusan dari Allah.

Orang bisa saja merasa memiliki kemampuan atau kopetensi dan pengalaman, orang bisa saja memiliki hati yang terbeban dan kerinduan, ia bisa saja memiliki gagasan-gagasan untuk melakukan sesuatu bagi pelayanan Tuhan. Tetapi, tanpa panggilan dan perintah dari Tuhan, ia tidak bisa melakukan pelayanan. Kalaupun bisa, maka itu adalah pekerjaannya sendiri, dan bukan pelayanan Tuhan.

Ayat 2. Surat ditujukan kepada Timotius, yang disebut oleh Paulus sebagai: anaknya sendiri (yang asli, genuine, true) di dalam iman. Ada kemungkinan Timotius tidak diinjili oleh Paulus, yang berarti Timoius sudah percaya ketika bertemu Paulus. Akan tetapi Paulus yang mengasuh dia sencara iman–sejak ia mengajak Timotius untuk mengikutinya di Listra (Kis. 16:1).

Paulus pernah ke Listra sebelumnya (Kis. 14:1), di sana ia memberitakan Injil, melakukan mujizat, dan kemudian dilempari dengan batu oleh penduduk kota itu karena hasutan orang-orang Yahudi. Jadi kemungkinan besar, Timotius sudah pernah menyaksikan hidup Paulus dan penyerahannya serta komitmennya dalam membertakan Injil. Timotius juga sudah melihat penderitaan/penganiayaan yang dialami Paulus, dan bagaimana penderitaan itu tidak membuat Paulus mundur dari pelayananan.

Apa yang membuat Paulus memanggil Timoptius untuk mengikutinya? Karena imannya yang jelas di dalam Tuhan, ditunjukkan dengan predikat bahwa Timotius adalah seorang murid, dan ia memiliki reputasi yang baik–sebagai murid–di antara saudara-sudara seiman di Lestra dan Ikonium (Kis. 16:1-2). Tetapi, Paulus melihat Timotius memiliki iman yang tulus (sincere faith: iman yang sungguh-sungguh, tidak berpura-pura)– 2Tim. 1:5.

Paulus menyebut Timotius sebagai: anaknya yang asli di dalam iman. Bisa jadi Paulus melihat kualitas iman Timotius yang sama dengan imannya–sekalipun secara karakter/temperamen berbeda, sekalipun secara usia terpaut jauh, sekalipun secara pengetahuan dan pelayanan Paulus lebih dewasa; tetapi bagi Paulus, faktor terpenting adalah: iman Timotius, yaitu kepercayaan yang penyerahan yang tulus kepada Tuhan.

Paulus menuliskan salam kepada Timotius: “Kasih karunia, kemurahan, dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus” diberikan kepada Timotius. Kasih karunia (charis: favor from God, perkenanan Tuhan), kemurahan/belas kasihan (eleos: compassion, kasih sayang), dan damai (eirine: ketenangan, kedamaian, kesejahteraan hidup). Tiga hal yang sebenarnya merupakan kebutuhan dasar manusia–hanya bisa diberikan oleh Tuhan saja.

Penerapan:
(1) Yang paling penting adalah panggilan Tuhan, karena kalau Tuhan memanggil, maka ia akan melengkapi dengan semua yang saya perlukan untuk menjalankan panggilannya.
(2) Bagian saya adalah: dengan pertolongan Tuhan, bertumbuh dalam iman yang tulus, iman yang sejati, iman yang tidak berpura-pura atau munafik

Views: 15

This entry was posted in 1 Timotius, Perjanjian Baru, Saat Teduh. Bookmark the permalink.