1 Samuel 23:7-13
Dunia ini kejam, kata orang. Kadang-kadang orang yang sudah berjasa besar tidak mendapatkan ucapan terima kasih, bahkan kadang justru dibalas dengan pengkhianatan. Alasannya bisa macam-macam, tapi salah satunya adalah: karena masalah survival. Demi menyelamatkan diri sendiri, orang bisa tega menghianati orang yang sudah berjasa besar kepadanya. Karena itu, manusia tidak bisa diandalkan; hanya Tuhan yang bisa diandalkan kesetiaan-Nya.
Ayat 7-8. Saul mendengar bagaimana Daud masuk ke kota Kehila. Dan berpikir bahwa TUHAN sudah menyerahkan Daud ke tangannya, sebab Daud masuk ke dalam kota, sehingga bisa dikepung dan dikunci di dalam kota untuk dibinasakan. Saul menggerakkan pasukannya untuk pergi berperang ke Kehila, untuk mengepung Daud dan orang-orangnya di dalam kota itu.
Kontras antara Daud dan Saul. Daud pergi ke Kehila karena didorong beban untuk menyelamatkan penduduknya dari musuh. Saul pergi ke ke sana untuk mengepung dan membunuh Daud, tidak mempertimbangkan bahwa Daud sudah melakukan kebaikan bagi umat-Nya–yang seharusnya menjadi tanggung jawab Saul. Kebencian membutakan mata dan hati orang kepada jasa dan kebaikan orang lain–isinya hanya nafsu untuk menghancurkan ornag yang dibenci.
Ayat 9-12. Ketika mendengar berita bahwa Saul bergerak ke Kehila untuk mencelakakan dirinya dan pengikutnya serta penduduk Kehila, Daud memanggil Abyatar untuk mencari kehendak TUHAN. Yang p[ertama ditanyaka adalah: (1) apakah Saul benar-benar akan datang ke Kehila; (2) apakah penduduk Kehila, yang sudah ditolongnya itu akan menyerahkannya kepada Saul. Dan TUHAN menjawab bahwa Saul benar-benar akan datang, serta penduduk Kehila akan menyerahkan Daud kepada Saul supaya kota mereka tidak dibinasakan.
Tidak ada kemarahan Daud kepada penduduk Kehila. Daud memahami posisi penduduk kota itu yang sangat sulit. Mereka baru saja diserang oleh pasukan Filistin, dan setelah ditolong oleh pasukan Daud, sekarang mereka mendapat ancaman kehancuran dari Sauil karena kehadiran Daud di antara mereka. Daud menyadari bahwa kota itu terancam karena kehadiran-Nya–memori tentang dirinya yang menjadi faktor penyebab dimusnahkannya kota Nob mungkin membayangi Daud.
Tetapi terlepas dari petimbangan akal sehat, atau pembicaraan dengan penduduk kota Kehila, atauy beban rasa bersalah akan pemusnahan kota Nob, keputusan Daud ditentukan oleh apa yang dinyatakan TUHAN kepadanya. Bukan pertimbangan logis, bukan pengaruh ornag lain, bukan pula dorongan dari hatinya, melainkan kehendak TUHAN yang menjadi acuan dan ditaati oleh Daud. Menurut catatan dalam Kisah Rasul: “Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” (Kis. 13:22).
Ayat 13. Daud dan pasukannya–sekarang sudah bertambah menjadi 600 orang–keluar dari kotra Kehila dan pergi ke manapun mereka dapat pergi. Ketika Saul mendengar kabar bahwa Daud sudah meninggalkan Kehila, Saul tidak jadi maju berperang–sehingga kota Kehila juga selamat dari ancaman kehancuran dari Saul.
Ada fakta yang menarik: hidup Daud menarik hati orang sehingga mereka bersimpati dan bergabung kepadanya. Ketika di Adulam ada 400 orang bergabung sebagia pengikutnya, dan sekarang jumlah itu bertambah menjadi 600 orang. Kenaikan 50% dalam waktu yang relatif singkat! TUHAN bisa menambahkan resources kapan saja–sebab Ia adalah sumber segala sumber daya. TUHAN yang menambahkan apa yang diperlukan bagi orang yang dipilihnya untuk melakukan kehendak-Nya.
Di mata manusia, nasib Daud itu sungguh suram: sudah berjuang menolong kota Kehila, tapi malah akan diserahkan kepada Saul demi survival penduduk Kehila, bukannya dihargai malah dikhianati oleh penduduk yang ditolongnya. Daud pergi dari Kehila tidak tahu harus ke mana, mereka pergi ke manapun tanpa tujuan dan masa depan yang jelas. Tapi, melalui mata rohani, Daud sesungguhnya ada di posisi yang paling aman, sebab TUHAN menyertainya. TUHAN mengasihi dan menghargainya, TUHAN memimpin dan melindungi dan mencukupi semua kebutuhan-Nya.
Penerapan:
(1) Tidak perlu merasa marah kalau orang tidak berterima kasih, bahkan mungkin justru “mencelakakan” saya demi menyelamatkan hidup atau kepentingan mereka. Yang penting saya disertai oleh Tuhan, itu adalah sumber kekuatan dan keselamatan saya.
(2) Kehendak Tuhan itu mengatasi pertimbangan logis, pendapat orang, atau suasana hati saya sendiri. kalau mau selamat, maka hanya kehendak Tuhan saja yang harus saya ikuti dan taati.
Views: 15