Mengikuti Pimpinan Tuhan

1 Samuel 32:1-6

Paulus menulis kepada jemaat di Roma: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rom. 8:31). Keyakinan akan fakta bahwa Tuhan adalah Penentu segala sesuatu. Relasi dengan Tuhan, posisi seseorang di hadapan Tuhan–itu lebih penting daripada segala-galanya. Tuhan yang memiliki segala sesuatu, Ia menjadi jaminan kemenangan dan pemeliharaan dan perlindungan bagi umat-Nya.

Ayat 1. Daud mendapatkan berita bahwa orang Filistin menyerang kota Keilah dan menjarah tempat-tempat pengirikan gandum. Sebenarya, apa relevansi berita ini untuk Daud? Dia sudah bukan lagi kepala pasukan Saul, bahkan sekarang ia diposisikan sebagai musuh Saul dan buronan yang lari dari Saul. Daud tidak perlu terlibat dengan urusan itu–itu tanggung jawab Saul sebagai raja Israel untuk melindungi kota yang diserang musuh.

Ayat 2. Tetapi, Daud tidak menggunakan pertimbangan manusia semata. Ia mencari kehendak TUHAN. Yang menarik adalah pertanyaannya kepada TUHAN: “Apakah aku akan pergi mengalahkan orang Filistin itu?” (ayat 2). Berarti sudah ada dorongan dalam diri Daud untuk maju berperang membela kota itu–posisinya sebagai buronan dan dimusuhi Saul tidak membuat hatinya berubah terhadap kesejahteraan umat TUHAN; dan bisa jadi pengurapan TUHAN atasnya itu menanamkan hati seorang pemimpin di dalam diri Daud! TUHAN menjawab Daud bahwa ia harus pergi untuk mengalahkan orang Filistin dan menyelamatkan Kehila. Ada konfirmasi dari TUHAN kepada pertanyaan Daud.

Ayat 3. Tetapi itu tidak cukup, karena akal sehat atau pertimbangan pengikutnya yang kuatir: mereka sdaat ini posisinya sednag ketakutan, karena sudah meninggalkan kubu gunung, dan sekarang berada di wilayaYehuda yang berisiko lebih tinggu ntuk ditemukan dan diserang oleh Saul. Ini pemikiran yang sangat masuk akal: kita sedang dalam kondisi rapuh, mestinya kita fokus kepada melakukan konsolidasi agar kita kembali kuat, bukannya malah mengurusa masalah orang lain.

Ayat 4. Mendengar pendapat dari para pengikutnya, Daud tidak langusng memutuskan untuk menolak atau mengiayan. Ia tidak menggunakan apa yang didengarnya secara pribadi dari TUHAN untuk deterapkan pada pengikutnya. Tetapi, ia kembali bertanya kepada TUHAN, membawa keberatan dari orang-orang-Nya. Dan kemungkinan Daud melakukannya di hadapan pengikutnya sehingga jawaban dari TUHAN itu juga didengar atau diketahui oleh semua pengikutnya.

Pemimpin bisa memiliki keyakinan pribadi yang kokoh. Tetapi keyakinan pribadi itu tidak bisa begitu saja dipaksakan kepada pengikutnya. Kalau pengikutnya tidak memiliki keyakinan yang sama, maka akan terjadi konflik dan membuat kelompok itu tidak solid, serta akan mengancam kepemimpinannya sendiri. Langkah untuk membangun keyakinan bersama sangat penting–dan itu harus dilakukan secara komunal: meminta Tuhan berbicara dan memberi keyakinan kepada semua orang.

Ayat 4-5. TUHAN menjawab keraguan orang-orang Daud, dengan memerintahkan mereka untuk pergi berperang, dan TUHAN memberikan janji atau jaminan: “sebab Aku akan menyerahkan orang Filistin itu ke dalam tanganmu.” (ayat 4). Mereka percaya kepada janji TUHAN, dan pergi ke Kehila untuk berperang melawan orang Filistin. TUHAN menepati janjinya: mereka menimbulkan kekalahan besar pada orang Filistin dan menyelamatkan penduduk Kehila.

Ayat 6. Sebuah catatan akhir (postcript): insiden penumpasan keluarga imam di Nob mendatangkan berkat bagi Daud. Karena, satu-satunya yang lolos dari tragedi itu, yaitu Abyatar anak imam Ahimelekh, lari bergabung kepada Daud dengan membawa efod (baju imam besar). Dan di dalam efod itu, ada batu Urim dan Tumim yang biasa digunakan untuk mencari kehendak TUHAN!

Efod Imam Besar yang dibawa Abyatar menjadi simbol kehadiran dan penyertaan TUHAN atas Daud dan pasukannya. Daud mungkin sangat lemah secara manusiawi: pengikutnya hanya 400 orang–terlalu kecil dibandingkan pasukan Saul; dan isinya adalah keluarganya sendiri dan orang-orang yang terbuang dari masyarakat–bukan prajurit profesional. Tapi, TUHAN hadir di antara mereka. Dan TUHAN adalah yang paling penting, sebab TUHAN adalah sumber segala berkat dan kemenangan!

Penerapan:
(1) Terus belajar untuk mencari dan mentaati pimpinan Tuhan dalam segala sesuatu, dalam mengambil keputusan. Secara khusus: membawa apa yang timbul, atau dorongan atau beban yang timbul dalam hati, mmemohon pimpinan dan keputusan dari Tuhan.
(2) Belajar untuk mengkomunikasikan keyakinan pribadi kepada orang lain yang berada di bawah atau di lingkup otoritas saya. Memohon Tuhan memberikan atau menumbuhkan keyakinan yang sama kepada-Nya.

Views: 28

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.