1 Samuel 20:24-42
Kasih yang besar menyebabkan orang melakukan pengorbanan kepada orang yang dikasihinya. Tuhan Yesus menyatakan bahwa: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh. 15:13). Kalau pengorbanan adalah bukti kasih, maka orang yang tidak mau berkorban menunjukkan hatinya tidak memiliki kasih. Kasih juga ditunjukkan dengan upaya yang maksimal untuk orang yang dikasihinya.
Ayat 24-29. Daud bersembunyi di padang menunggu kabar. Selama 2 hari ia berada di sana. Pada perayaan Bulan Baru, Daud tidak hadir–Saul mengira ia berhalangan karena sedang tidak tahir, sehingga tidak berkata-apa-apa. Ketika di hari kedua, Daud juga tidak hadir, Saul bertanya kepda Yonatan mengapa Daud tidak datang. Dijawab Yonatan bahwa Daud sudah minta ijin kepadanya untuk mengikuti ibadah di Betlehem bersamm keluarganya.
Ayat 30-34. Saul menjadi sangat marah kepada Yonatan, memakinya dan mengatakan bahwa Yonatan berpihak kepada Daud padahal menurut Saul Daud akan mengancam kelangsungan hidup Yonatan dan kerajaannya. Ketika Saul menyuruh Yonatan memanggil Daud untuk dibunuh, Yonatan membatah ayahnya. Saul mengambil tombak dan melemparkannya kepada Yonatan untuk membunuhnya. Yonatan menjadi marah dan sangat sedih hatinya karena sikap ayahnya yang menghina dan hendak membunuh Daud.
Ayat 35-43. Keesokan paginya, Yonatan keluar ke padang, sesuai janjinya kepada Daud. Ia memberi kode sesuai kesepakatannya dengan Daud. Lalu ia menyuruh budaknya pulang. Setelah itu, tampillah Daud dari persembunyiannya, ia sujud dengan mukanya di tanah dan menyembah tiga kali. Mereka bertangisan karena sudah pasti akan berpisah untuk selamanya. Yonatan menyuruh Daud pergi dengan mengingat sumpah mereka di hadapan TUHAN bahwa TUHAN akan selalu berada di antara mereka dna keturunan mereka sampai selamanya.
Karena kasihnya, Yonatan melepaskan kemungkinan untuk berkuasa sebagai raja kepada Daud. Yonatan menjadi gambaran Tuhan Yesus, yang melepaskan segala-galanya: Ia yang setara dengan Allah telah mengosongkan dirinya, merendahkan diri, untuk mati demi memberikan Kerajaan-Nya kepada manusia yang dikasihi-Nya.
Penerapan:
Mengakui dosa saya di hadapan Tuhan, karena saya tidak mengasihi Tuhan, saya tidak mengasihi istri saya dan anak-anak saya, saya tidak mengasihi orang lain–tetapi saya hanya mengasihi diri saya sendiri. Terbukti dari saya tidak mau berkorban dan tidak mau melakukan yang terbaik untuk Tuhan dan orang lain, tetapi saya hanya mengejar apa yang saya inginkan dan saya senangi sendiri.
Views: 0