1 Samuel 19:24
Siapa yang bisa melawan Tuhan? Tuhan terlalu besar untuk dilawan kemauannya oleh manusia–absurd sekali orang yang mencoba melawan kehendak Tuhan! Tuhan dengan sangat mudah untuk membuat seseorang itu tidak berdaya–bahkan bisa jadi malah merendahkannya sehingga menjadi bahan tontonan dan bahan cerita/anekdot orang banyak. Tuhan adalah tempat paling aman untuk berlindung, tetapi musuh yang paling menakutkan untuk dilawan!
Ayat 18. Daud melarikan diri dari rumahnya dan sampai ke Rama, kepada Samuel. Ia memberitahu Samuel segala yang dilakukan oleh Saul kepadanya. Samuel membawa Daud pergi ke Nayot. Beberapa ahli menduga bahwa Nayot (yang artinya tempat tinggal atau perkemahan) adalah semacam asrama tempat tinggal kumpulan nabi yang berlokasi di dekat kota Rama–tempat domisili Samuel.
Yonatan berusaha untuk melepaskan Daud dengan cara argumen membela Daud di hadapan Saul. Mikhal membantu Daud melarikan diri dengan tipu muslihat. Sekarang, tidak nampak ada upaya apa-apa dari Samuel. Langkah yang diambil adalah: membawa Daud ke perkemahan para nabi. Apa aktivtas para nabi? Belajar firman TUHAN dan berdoa. Daud dibawa Samuel ke kumpulan pendoa, tentu saja untuk berdoa memohon pertolongan TUHAN.
Ayat 19-21. Saul mendapat informasi bahwa Daud ada di Nayot-Rama. Maka ia mengirim orang-orangnya untuk menangkap Daud. Ketika mereka mereka sampai di Nayot, mereka melihat sekumpulan nabi sednag bedoa dan bernubuat, dipimpin oleh Samuel. Lalu, Roh TUHAN menghinggapi orang-orang Saul, sehingga merekapun “kerasukan” dan tidak bisa melakukan keinginannya untuk menangkap Daud.
Ini terulang sampai 3 kali. Semua rombongan suruhan Saul tidak bisa menangkap Daud, karena Roh TUHAN menghinggapi mereka. Bukan argumen, bukan siasat dan tipu muslihat–itu cara-cara yang dilakukan oleh agen manusia. TUHAN bekerja dengan cara-Nya sendiri untuk melindungi dan menyelamatkan hamba-Nya.
Ayat 22-24. Melihat 3 rombongan utusannya semuanya gagal, Saul memutuskan pergi sendiri ke Rama untuk menangkap Daud. Apakah dia berpikir bahwa apa yang menimpa 3 rombongan utusannya itu tidak akan terjadi kepadanya? Yaitu TUHAN menggagalkan maksud mereka? Apakah ia berpikir–karena ia adalah raja–maka ia bisa “kebal” terhadap pekerjaan TUHAN? Tidak sadarkah Saul bahwa terlalu mudah bagi TUHAN untuk menundukkannya?
Ketika ia sampai dekat sumur Sekhu, ia bertanya di mana lokasi Samuel dan Daud–memastikan bahwa mereka belum pergi menghindar darinya? Mendapat konfirmasi bahwa Samuel dan Daud masih berada di Nayot, Saul melanjutkan perjalanannya. Dan Roh TUHAN menghinggapinya, sehingga selama perjalanan dari Sekhu sampai Nayot Saul kerasukan juga–hanya dicatat Saul yang kerasukan, sementara rombongannya tidak mengalami.
Kondisi Saul lebih hebat daripada rombongan sebelumnya: (1) Saul kerasukan sejak dalam perjalanan ke Nayot; (2) hanya dia sendiri yang kerasukan–rombongannya tidak tercatat mengalaminya; (3) begitu hebatnya kerasukan itu, sampai Saul menanggalkan pakaiannya dan telanjang terkapar di hadapan Samuel sehari-harian dan semalam-malaman itu! Betapa ia menjadi tontonan banyak orang: Samuel, kumpulan para nabi, rombongannya, dan orang-ornag yang ada di sana–karena pasti orang berkumpul karena raja datang ke situ.
Sampai-sampai peristiwa itu menjadi anekdot di antara orang Israel: “Apakah juga Saul termasuk golongan nabi?” (ayat 24). Peristiwa kepenuhan ini pernah di alami oleh Saul, sebagai tanda pemilihan TUHAN atasnya (1 Sam. 10:10), kemudian ia kerasukan roh jahat yang menyiksa mentalnya, dan sekarang ia kerasukan di mana TUHAN membuatnya tak berdaya untuk mencelakai Daud.
Penerapan:
(1) Berlindung kepada Tuhan di dalam masa kesesakan dan persoalan, berserah diri kepada cara Tuhan untuk menyelamatkan saya: “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.” (Maz. 46:2).
(2) Merendahkan diri dengan berpuasa selama merampungkan dokumen akreditasi, untuk memohon belas kasih dan kemurahan Tuhan.
Views: 1