1 Samuel 19:9-17
Manusia berdosa menggunakan segala cara untuk mendapatkan keinginannya, manusia menghalalkan segala cara untuk mempertahankan hidupnya. Saling menipu, saling bermuslihat, membuat strategi dan counter strategi, merencanakan dan melakukan tindakan apapun. Akan tetapi, Tuhan mengatasi semuanya itu; dan Tuhan menggunakan segala sesuatu–termasuk situasi hasil tipu muslihat manusia–untuk melakukan kehendak-Nya. Tuhanlah Penentu segalanya.
Ayat 9. Situasi damai tidak berlangsung terus. Roh jahat kembali merasuki Saul dan ia kembali mencoba membunuh Daud–justru ketika Daud sedang mencoba menennangkannya dengan permainan kecapi. Terapi mental itu sudah tidak manjur, sebab Saul tidak pernah menyelesaikan penyakitnya yang paling mendasar dengan pertobatan yang sejati.
Pertobatan sejati adalah pertobatan yang bukan dengan niat atau kemauan sendiri, tetapi pertobatan yang merendahkan diri mengakui sebagai manusia yang bangkrut san tak berdaya dikuasai dosa, memohon belas kasihan dan kemurahan Tuhan agar membebaskannya dari dosa yang membelenggu.
Ayat 10-13. Daud lari ke rumahnya, dan Mikhal anak Saul yang menjadi istrinya, membuat tipu muslihat untuk melindungi Daud. Saul menyuruh suruhannya untuk mendatangi rumah Daud mengawasinya malam itu dan membunuhnya di pagi hari. Mengapa tidak malam itu langsung dibunuh? Kemungkinan Saul masih menjaga perasaan anaknya perempuan.
Mikhal memberitahu Daud bahwa pagi hari ia akan dibunuh, maka ia menyuruh Daud pergi dan menolongnya lari dengan menurunkannya dari jendela rumah. Mikhal lalu mengambil terafim (patung berhala) dan meletakkan di tempat tidur, lalu diberi tenunan bulu domba sebagai rambut, dan menyelimutinya.
Ayat 14-16. Mula-mula Saul menyuruh orang untuk memanggil Daud, tetapi dijawab Mikhal bahwa Daud sakit. Maka Saul menyuruh orang-orangnya melihat dan membawa Daud dari tempat tidurnya. ketika didapati bahwa ternyata yang berbaring adalah patung, Saul marah kepada Mikhal karena telah menipunya. Mikhal menjawab dengan tipuan juga: Daud telah mengancam untuk membunuhnya bila tidak membiarkan pergi.
Kelicikan dibalas dengan tipuan. Cara kerja orang dunia. Memakai siasat dan tipu muslihat untuk mempertahankan hidup dan untuk mencapai tujuannya. Siapa menabur, ia akan menuai. Saul menabur kebencian dan pengingkaran janji, ia menulai penipuan dan tipu muslihat dari anak perempuannya sendiri.
Tetapi, di tengah kelicikan dan tipu-muslihat manusia, Tuhan yang berdaulat di atas segala-galanya, Tuhan yang adalah Pengendali segala peristiwa dan segala sesuatu, mengatur semuanya itu dan memakai semua itu untuk melakukan kehendaknya: melindungi dan menyelamatkan orang pilihan-Nya.
Penerapan:
(1) Mengucap syukur kepada Tuhan yang sudah berjanji untuk memimpin dan melindungi saya dalam melakukan panggilan-Nya.
(2) Tidak mengandalkan upaya, siasat dan cara saya sendiri, tetapi mengikuti pimpinan Tuhan: memakai akal sehat di dalam pencarian dan penundukan diri kepada kehendak Tuhan.
Views: 12