Penggunaan Kekuasaan/Previlege Yang Benar

1 Samuel 19:1-8

Seperti apakah penguasa yang baik? Yang menggunakan kekuasaan dan kekuatannya untuk melayani orang lain. Istilah Servant Leadership cukup populer, yang intinya adalah: pemimpin yang melayani: menggunakan otoritas, power, dan previlege-nya bukan untuk mengejar kepentingan sendiri, tetapi untuk membela dan membantu orang lain. Tuhan Yesus adalah modelnya: “Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik.” (Kis 10:38).

Ayat 1. Sekarang, Saul terang-terangan menyatakan kepada orang sekitarnya, yaitu Yonatan dan para pegawainya bahwa Daud harus dibunuh. Entah apa alasan yang dipakai Saul sebagai dasar pernyataannya itu. Karena Daud sangat populer dan disukai oleh semua orang dan para pegawai Saul. Apakah Saul mengungkapkan berdasar informasi rahasia yang diketahuinya, atau entah alasna yang lain–yang semuanya adalah rekayasa, sebab alasan satu-satunya adalah: Saul dengki, benci, dan takut kepada Daud sebab TUHAN menyertai Daud.

Kebencian dan kedengkian kepada orang lain akan membuat orang mencari alasan pembenar bagi kebenciannya–alasan yang dicari-cari, apalagi ketika berbicara denga orang lain. Dan lama-lama orang bisa mempercayai alasan yang dibuatnya sendiri iitu sebagai kebenaran. Kebencian merusak hati orang, menimbulkan fitnah dan kebohongan, menimbulkan pembunuhan.

Ayat 2-3. Tetapi, Yonatan sanbat suka kepada Daud. Posisinya sebagai anak memungkinkan Yonatan untuk lebih leluasa ketimbang para pegawai Saul yang mutlak harus tunduk kepada perintah dan kekuasaan raja. Yonatan memberi peringatan kepada Daud agar berhati-hati, sebab Saul berusaha membunuhnya; dan Yonatan berusaha untuk berbicara kepada Saul agar mengubah sikapnya.

Yonatan contoh orang yang menggunakan kekuasaan dan previlege yang dimilikinya untuk menolong orang lain. Kontras dengan Saul yang menggunakan kekuasaannya untuk mencoba membunuh dan mencelakakan orang lain demi keinginannya sendiri, Yonatan memakai posisinya sebagai anak raja untuk berbicara kepada raja demi keselamatan orang lain. Use your power and your previlege to help other people.

Ayat 4-5. Isi pembicaraan Yonatan kepada Saul: (1) mencegah Saul berbuat dosa–Yonatan menyatakanbahwa apa yang dilakukan Saul itu adalah dosa; (2) Daud tidak pantas dibunuh, sebab ia tidak berbuat salah kepada Saul, jjustru sudah berjasa memberikan kemenangan kepada Israel; (3) kembali menegaskan bahwa membunuh Daud, yang tidak bersalah itu adalah dosa di hadapan TUHAN.

Dalam pembelaannya kepada Saul, Yonatan tidak melakukan menipulasi, tetapi ia menyatakan fakta-fakta. Fakta bahwa Daud tidak bersalah, fakta bahwa Daud berjasa memberi kemenangan, dan fakta prinsip kebenaran bahwa membunuh orang yang tidak bersalah adalah dosa di hadapan TUHAN. Fakat dan prinsip kebenaran–ini yang harusnya menjadi isi argumen mengenai sesuatu,.

Ayat 6-8. Saul mau mendengarkan argumen Yonatan, dan berusumpah demi nama TUHAN bahwa Daud tidak akan dibunuh. Maka Yonatan membawa Daud kembali kepada Saul untuk bekerja seperti semula. Dan Daud terus memberikan performa yang baik, tidak menjadi kendor karena pernah akan dibunuh. Ia maju melawan Filistin dan menimbulkan kekalahan besar pada pasukan mereka.

Penyelesaian masalah yang sementara, Saul bisa diajak bicara dan mau terbuka pikirannya. Tapi ini akan berulang, sebab masalah yang paling mendasar, yaitu kedenngkian dan kebenciannya kepada Daud tidak pernah diselesaikan–cepat atau lambat, kebencian itu akan muncul lagi dan menguasai dirinya sehingga ia sudah tidak bisa lagi diberitahu–semakin keras hatinya untuk mencelakakan Daud.

Penerapan:
(1) Bersyukur untuk psosisi, previlege yang Tuhan berikan kepada saya di lingkungan saya. Memohon hati yang murni agar saya tidak menyalahgunakan itu untuk memuaskan keinginan daging saya, tetapi memakainya untuk membantu orang lain.
(2) Membangun argumen atau alasan kepada orang lain dengan prinsip dan fakta–tidak sekedar opini pribadi berdasarkan selera atau kepentingan saya.

Views: 8

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.