Aman Dalam Tuhan Di Tengah Serangan Musuh

1 Samuel 18:10-30

Tuhan membela orang pilihan-Nya. Karena itu, Tuhan melawan dan menentang orang-orang yang melawan atau berusaha mencelakakan oang pilihan-Nya. Apapun usaha dan siasat orang–dengan cara kasar atau halus, terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, langsung atau tidak langsung–untuk mencelakai orang yang disertai Tuhan, tidak akan berhasil mencelakai–justru Tuhan bisa memakai semua serangan itu untuk membuat orang pilihan-Nya semakin kuat dan semakin besar.

Ayat 10-12. Suatu saat, roh jahat mengganggu Saul sehingga ia kerasukan di rumahnya. Seperti biasa, Daud dipanggil untuk bermain kecapi supaya menenangkan Saul. Tapi kali ini, bukannya menjadi tenang, justru Saul mencoba membunuh Daud dengan melontarkan tombak kepadanya. Daud bisa mengelakannya sampai dua kali. Saul menjadi takut kepada Daud, karena TUHAN menyertai Daud dan telah meninggalkan Saul.

Orang yang membenci bisa melakukan serangan langsung–ketika ia sudah tidak bisa mengendalikan diri–untuk mencelakai orang yang dibencinya. Tetapi Tuhan yang melindungi orang pilihan-Nya. Bahkan mungkin ornag tu tidak tahu/sadar bahwa ia sedang dicelakakan–Tuhan memberikan perlindungan kepadanya; justru orang lain yang melihat penyertaan Tuhan itu.

Ayat 13-16. Saul takut–menjadi tidak tenang–kalau berada di dekat Daud, maka ia mengangkat Daud sebagai kepada pasukan seribu, sehingga ia selalu ada dalam tugas berperang di luar istana. Tetapi, TUHAN membuat Daud selalu menang di setiap operasi militer yang ditugaskan kepadanya. Itu semakin membuat Saul takut, tetapi semakin membuat pasukan dan rakyat Israel mencintai Daud.

Orang yang dengki–dan punya otoritas–bisa membuang atau sengaja memberi pekerjaan yang sulit, dengan harapan agar gagal. Tetapi, kegaalan atau kesuksesan seseorang itu ada di tangan Tuhan. Penyertaan Tuhan yang membuat seseorang berhasil, dan akan bisa menggagalkan maksud di pendengki. Alih-alih gagal dan ditolak orang, Tuhan bisa membuat berhasil dan makin disukai orang banyak.

Ayat 17-27. Saul berpikir ia bisa menjebak atau mencelakakan Daud secara tidak langsung, dengan meminjam tangan orang lain. Saul menawari Daud untuk jadi menantunya, dengan syarat ia menjadi orang yang gagah melakukan perang TUHAN–tujuannya supaya Daud terbunuh dalam perang itu. Bahkan Saul meminta mas kawin 100 anggota tubuh orang Filistin yang harus dibunuhnya dalam perang. Tujuannya agar Daud terbunuh di medan perang. Tetapi TUHAN melindungi Daud sehingga ia bisa memenuhi mas kawin itu, sehingga Saul tidak punya pilihan lain untuk memberikan anaknya sebagai istri Daud.

Pendengki bisa mencoba berbuat licik untuk mencelakai orang yang dibencinya. Ia bisa seolah akan memberikan penghargaan bila melakukan sesuatu, tetapi sebenarnya sedang menjerumuskan orang lain agar celaka. Pendengki bisa merekayasa agar bukan tangannya sendiri, melainkan tangan orang lain yang mencelakai orang yang dibencinya. Pura-pura baik, tapi sebenarnya sedang mencelakai. Tetapi Tuhan Mahatahu–penyertaan-Nya kepada orang pilihan-Nya melampaui segala rekayasa dan siasat licik manusia.

Ayat 28-30. Ketka segala usahanya untuk mencelakakan Daud gagal, Saul menyadari bahwa TUHAN menyertai Daud dan bahwa seluruh Israel mengasihi Daud. Upayanya untuk mencelakai justru membuat penyertaan TUHAN semakin nyata atas diri Daud, dan makin membuat Daud termasyur dan dicintai rakyat. Senjata makan tuan! Saul menjadi takut kepada Daud, tetapi ia tetap memusuhi Daud seumur hidupnya.

Sesungguhnya, si pendengki itu sedang melawan Tuhan. Ia begitu aktif untuk membuat rencana dan siasat untuk mencelakai orang lain–sementara orang yang dibencinya itu berespons dengan positif atas setiap siasat yang ditimpakan kepadanya, dan ia tetap menang dan makin besar namainya–sebab Tuha menyertainya. Ketika rasa dengki itu sudah sedemikian kuat, ditambah seseorag sudah ditnggalkan Tuhan, bahkan ketika ia melihat bukti-bukti bahwa ia kalah, pendengki itu tetap mengerask hati–tidak mau bertobat, dan tetap memelihara kebenciannya sampai mati.

Penerapan:
(1) Bersyukur oleh karena Tuhan telah memberikan janji penyertaan-Nya kepada saya: dua telapak tangan yang mengarahkan dan melindungi saya, sementara kedua ibu jari dipakai untuk menopang saya agar tidak jatuh. Terpujilah Tuhan, terpujilah Tuhan. Tuhan itu baik, Ia memutuskan untuk menyertai bukan karena saya baik, tetapi karena Tuhan mengasihi saya.
(2) Menyerahkan diri ke dalam penyertaan dan perlindungan Tuhan–saya tidak tahu apakah ada orang yang sedang mendengki dan berusaha mencelakakan saya. Saya tidak perlu cemas dan menjadi paranoid, tetapi saya belajat untuk berlindung kepada Tuhan yang setia, yang kuat, yang telah memilih saya.

Views: 6

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.