Jangan Tertipu oleh Cara Pandang Manusiawi

1 Samuel :1-14

Apa yang dilihat oleh manusia itu berbeda dengan apa yang dilihat oleh Tuhan. manusia berpikir dan menilai sebuah sistem kehidupan itu baik dan ideal–bisa jadi di mata Tuhan, sistem itu tidak benar atau baik. Manusia melihat dan menilai penampilan dan profil karakter seseorang itu baik dan ideal, tapi manusia tidak bisa elihat isi hati yang sebenarnya–terutama isi hati dalam relasinya dengan Tuhan. Sesungguhnya yang terpenting adalah: hati yang benar di mata Tuhan, dan cara hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Ayat 1-2. Perkenalan kepada raja Israel. Namanya Saul, dari suku Benyamin. Ayahnya bernama Kish, seorang yang kaya dan berpengaruh. Saul sendiri adalah seorang pemuda pilihan/istimewa: muda, tampan–lebih tampan daripada semua orang Israel yang lain, perawakannya tinggi, satu kepala lebih tinggi daripada semua bangsa Israel. Secara fisik dan latar belakang sosial, Saul adalah pemuda yang istimewa.

Ayat 3-4. Bagaimana dengan karakternya? Kesan pertama, ia seorang yang menurut pada ayahnya–mau berusaha untuk melakukan perintah ayahnya mencari seekor keledai ayahnya yang hilang. Dan usahanya juga bukan asal-asalan, tetapi sungguh-sungguh: menjelajahi ke berbagai wilayah selama 3 hari–ada yang memperkirakan perjalanan ini menempuh sekitar 60 mil (90 km).

Ayat 5-14. Kedua, kelihatan ia memiliki concern dan rendah hati mau mendengarkan orang lain–bahkan yang orang yang secara status lebih rendah daripadanya. Ia mempertimbangkan perasaan ayahnya yang menunggu di rumah, dan ia mau mendengar usul bujangnya untuk bertanya kepada nabi–yaitu Samuel–mencair tahu ke mana keledai itu bisa ditemukan. Juga, concern Saul apakah pantas untuk bertanya kepada nabi tanpa membawa persembahan apapaun. Kemudian, ia mau mendengarkan informasi dari anak-anak perempuan yang pergi menimba air.

Saul mewakili profil seorang pemimpin yang ideal dari kacamata dunia: secara penampilan fisik ia menonjol, sebab lebih tampan dan lebih gagah daripada semua orang; secara latar belakang, ia berasal dari keluarga yang kaya dan punya pengaruh di masyarakat; dan secara karakter ia menunjukkan watak yang baik di mata manusia: punya kepedulian, rendah hati, dan mau mendengarkan orang lain, menghargai orang yang statusnya lebih rendah daripadanya.

Tetapi, sejarah mencatat bahwa itu semua tidak cukup. Ada satu hal yang tidak disebutkan di dalam perkenalan kepada Saul: bagaimana hatinya dan relasi pribadinya dengan TUHAN. Apakah TUHAN sedang mengajar umat-Nya, bahwa: mereka menginginkan sistem pemerintahan dunia yang di mata mereka lebih baik daripada pemerintahan TUHAN; dan mereka diijinkan bertemu dengan seorang dengan profil pemimpin yang baik di mata dunia–tetapi, kedua hal itu tidak ada relasinya dengan TUHAN, dan akan berujung kepada kegagalan?

Bukankah, ketika TUHAN menyuruh Samuel mencari pengganti Saul, TUHAN berkata: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Sam. 16:7)? Yang terpenting dan yang menentukan adalah apa yang ada di dalam hati seseorang dalam pandangan TUHAN! Bukan apa yang nampak di luar di mata manusia dan dunia.

Ini awal umat TUHAN “tertipu” oleh mata dan cara pandang mereka. Apa Sistem pemerintahan yang menurut mereka baik, tidak bisa membuat mereka terhindar dari kehancuran. Orang yang di mata mereka ideal sebagai pemimpin, ternyata tidak bisa diandalkan dan justru membawa persoalan dan kerusakan. Ketika mengandalkan apa yang nampak, dan mengikuti cara berpikir manusiawi/duniawi–bukan sorgawi, maka itu bukan kehidupan yang ideal!

Penerapan:
Memohon kepada Tuhan agar saya ditolong untuk memandang dan menilai orang dan segala sesuatu dengan cara pandang Tuhan, supaya sya tidak tertipu, dan supaya saya ada di dalam jalur yang dikehendaki Tuhan.

Views: 4

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.