1 Samuel 7:7-14
Salah satu cara berpikir yang menguasai manusia yang jatuh dalam dosa adalah: mengandalkan diri sendiri atau kemampuan manusia. Harta, kekuatan fisik, kekuatan militer, kepandaian, strategi, taktik, ketrampilan–itulah hal-hal yang dipandang dan diyakini sebagai sumber keberhasilan dan kemenangan. Tapi, ternyata bukan! Tuhanlah sumber kekuatan dan kemenangan. Secar ekstrem, bagian ini menunukkan bahwa sebuah bangsa bisa mengalahkan bangsa lain hanya bermodal doa kepada Tuhan!
Ayat 7. Ketika orang Filistin mendengar ada pertemuan besar seluruh Israel di Mizpah, para raja mereka bergerak untuk melawan/menyerang Israel. Sehingga orang Israel menjadi takut. Apa alasan orang Filistin bergerak? Apakah mereka mengira bahwa kebaktian atau ibadah yang diadakan Samuel di Mizpah itu merupakan tindakan untuk menyerang mereka? Bisa dimengerti orang Israel menjadi takut. Mereka sudah mengalami kekalahan telak dari bangsa Filistin sehingga tabut TUHAN sampai bisa dirampas.
Ayat 8-9. Tetapi, respon orang Israel sudah berbeda dibandingkan pada zaman Eli dulu. Sekarang, ketika mereka dilanda ketakutan, mereka memohon agar Samuel tekun mendoakan–memohon agar TUHAN menyelamatkan mereka dari orang Filistin. Samuel mengambil anak domba dan mempersembahkan sebagai korban bakaran kepada TUHAN–respons yang tidak akan masuk dalam buku siasat perang; sedang diserang musuh kok malah hanya berdoa!
Tapi justru itulah strategi yang paling benar. Sebab, Samuel tidak mengandalkan kekuatan tentara atau senjata, tidak pula mengandalkan kepandaian untuk membuat strategi dan siasat perang. Samuel hanya mengandalkan TUHAN, hanya berseru kepada TUHAN–“maka TUHAN menjawab dia.” Karena Samuel berseru memohon pertolongan TUHAN saja, maka TUHAN menjawab seruannya.
Ayat 10-11. Sementara Samuel sedang mempersembahkan korban sembari berdoa kepada TUHAN, pasukan Filistin maju hendak memerangi orang Israel. Tetapi TUHAN mengguntur–benar-benar pekerjaan TUHAN melalui alam–dengan bergitu dahsyatnya, sampai seluruh pasukan Filistin jadi kacau sehingga mereka bisa dikalahkan orang Israel. Jelas-jelas, bukan karena kekuatan pasukan Israel, tetapi karena TUHAN yang membuat orang Filistin kalah, bahkan sampai lari dikejar oleh orang Israel.
Ayat 12-14. Sebagai peringatan akan pekerjaan TUHAN itu, Samuel membuat monumen dan diberi nama Emen-haezer, yang secara harafiah berarti “batu keselamatan”. Momen itu menjadi awal bangsa Israel menundukkan orang Filistin, sehingga mereka tidak lagi masuk ke wilayah Israel. Bahkan beberapa kota yang semual dikuasai Filistin bisa kembali ke tangan Israel. Mengapa? Sebab “Tangan TUHAN melawan orang Filistin seumur hidup Samuel” (ayat 13). Kemenangan semata-mata karena doa!
Sampai di bagian ini, Samuel tidak digambarkan sebagai pemimpin politik atau pemimpin militer–berbeda dengan Yosua atau para hakim-hakim sebelumnya. Samuel ditampilkan sebagai seorang nabi dan imam–tetapi dampak pelayanannya itu sampai menghasilkan kemenangan militer! Sesunggunya, pusat kehidupan adalah ibadah kepada Tuhan. Hidup yang beribadah dan takut akan Tuhan akan menghasilkan kemenangan di semua aspek hidup yang “sekuler”.
Penerapan:
Terus belajar untuk tekun berdoa, dan mengandalkan Tuhan untuk segala macam persoalan dan urusan hidup sehari-hari. Mempercayai dan mengandalkan pertolongan Tuhan dalam semua aspek kehidupan.
Views: 8