Menguji Hati, Menguji Motif dan Niat

1 Samuel 8:1-9

Keputusan atau pilihan yang paling legal dan paling mulia di mata manusia, bisa jadi dilambari oleh niat hati atau motivasi atau cara pandang yang tidak benar di hadapan Tuhan. Bahkan hati manusia pun bisa menipu dirinya sendiri, karena merasa motivasinya murni: “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yer. 17:9). Dan Tuhan tidak bisa dikelabuhi, sebab: “Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” (Yer. 17:10).

Ayat 1. Waktu berjalan terus. Selama Samuel melayani sebagai nabi dan hakim Israel, umat TUHAN mengalami masa yang tenteram–salah satu indikatornya: menundukkan musuh bebuyutannya, yaitu bangsa Filistin, ada perdamaian dengan bangsa lain; kemudian aktivitas Samuel melayani dan mengajarkan hukum TUHAN berkeliling ke segala tempat orang Israel (1 Sam. 7:13-16). Situasi ini berlangsung selama sekitar 30 tahun.

Ayat 2-3. Samuel mempunyai 2 anak laki-laki, Yoel dan Abia; keduanya ditempatkan sebagai hakim di Bersyeba. Ini menjadi pemicu masalah. Pertama, kita tidak pernah tahu, bagaimana proses penunjukkan kedua anak ini menjadi hakim. Apakah Samuel yang memilih mereka sendiri? Karena selama ini, TUHAN yang membangkitkan seorang hakim/pemimpin Israel–kecuali Eli, yang tidak diketahui proses pengangkatannya.

Kedua, ternyata anak-anak Samuel ini hidupnya tidak seperti ayah mereka. Mereka korup, menerima suap, dan membengkokkan hukum demi keuntungan pribadi. Mungkin tidak separah anak-anak Eli, karena mereka bukan para imam, tetapi korupnya tetap sama. Sehebat apapun Samuel di hadapan TUHAN, ternyata kelemahan Eli juga menurun kepadanya! Ia tidak bisa mendidik anak-anaknya untuk menjadi pemimpin yang saleh! Dan kelak, Daud mengalami kegagalan mendidik anak-anaknya juga.

Hidup orangtua yang takut akan Allah tidak secara otomatis akan menurun kepada anak-anaknya. Yang jelas-jelas menurun adalah sifat dosa, sebab itu adalah kutukan dosa Adam–tetapi kekudusan dan kesalehan tidak bisa diturunkan. Itu adalah pekerjaan Tuhan atas diri masing-masing orang. Tidak mengurangi kegagalan orangtua dalam mendidik anak untuk takut pada Tuhan, tetapi tetap saja kasih karunia Tuhan yang bekerja sehingga seorang anak mempunyai hidup yang saleh.

Perhatikan catatan tentang Salomo. Sekalipun ia adalah anak dari Daud dan Batsyeba, tetapi “TUHAN mengasihi anak ini.” (2 Sam 12:24). Anugerah dan kemurahan dan kasih Tuhan yang menjadi faktor utama seorang anak akan bertumbuh dengan baik–bukankah hal yang sama dialami Samuel? Di tengah lingkungan yang begitu busuk, Samuel ditolong TUHAN untuk bertumbuh dengan baik, semakin dikasihi Allah dan manusia!

Bisa jadi, Samuel atau Daud tidak cukup memperjuangkan anak-anak mereka di hadapan Tuhan dengan doa. Berbeda dengan Hana yang sungguh-sungguh mendoakan Samuel, dan terus mengawal Samuel dengan perhatian dan doanya sekalipun anaknya yang kecil itu sudah dititipkan kepada Eli. Kembali diingatkan, bahwa manusia memang punya tanggung jawab untuk bekerja; tetapi anugerah Tuhanlah yang akan menentukan hasilnya! Maka, rendahkan diri dan berserulah terus memohon anugerah Tuhan untuk anak-anakmu, untuk dirimu, untuk kehidupanmu.

Ayat 4-7. Karena melihat bahwa Samuel sudah semakin tua–dan cepat atau lambat akan mati, dan melihat betapa anak-anaknya tidak bisa diharapkan untuk memimpin Israel dengan benar; maka para tua-tua Israel datang kepada Samuel di rumahnya, di Rama, dan mengajukan permohonan untuk diberi seorang raja. Alasan mereka jelas: (1) Fakta bahwa Samuel sudah tua; (2) fakta bahwa anak-anak Samuel tidak hidup benar seperti Samuel.

Kesalahan para tua-tua Israel adalah: mereka berpikir, sumber masalah mereka itu ada pada kepemimpinan atau sistem pemerintahan yang saat itu berjalan. Samuel dan TUHAN tahu, bahwa masalahnya bukan pada sistem, tetapi pada kondisi spiritual dari umat Tuhan. Sehingga TUHAN menyatakan bahwa: “bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka.” (ayat 7). Para tua-tua Israel itu lupa bahwa TUHANlah yang memerintah atas umat-Nya. Para pemimpin dan hakim hanyalah hamba-Nya. Dengan meminta seorang raja, mereka meminta manusia sebagai pemimpin tertinggi untuk mengatur bangsa itu.

Ayat 8-9. TUHAN memerintahkan Samuel untuk menuruti permintaan mereka. Tetapi Samuel harus menjelaskan apa konsekuensinya ketika bangsa Israel mengangkat raja. Sebenarnya, gagasan tentang seorang raja itu sudah ada sejak jaman Musa. Dalam Kel. 17:14, TUHAN sudah menyatakan bahwa Israel bisa atau akan memiliki raja–syaratnya adalah: raja itu harus dipilih oleh TUHAN dari antara bangsa Israel sendiri, bukan dari bangsa asing. Maka, permintaan untuk diberi raja itu tidak salah, hanya saja semangat yang mendasarinya yang salah: ketidakpercayaan bahwa TUHAN bisa menolong–karena korupnya pemimpin yang ada, sehingga minta dipimpin oleh seorang raja yang independen.

Apa motivasi di balik keputusan atau permintaan? Keputusan atau tindakan bisa saja benar dan legal, tetapi yang dilihat Tuhan adalah isi hati dan motivasi yang mendorongnya! Ketidakpercayaan kepada Tuhan, keinginan untuk tidak diatur dan dikendalikan oleh Tuhan, motif ingin hidup sesuai kehendak sendiri, kedengkian, hawa nafsu, kebencian, ketamakan, haus kekuasaan, cinta uang–semua itu adalah motif-motif yang bisa ada di balik pilihan atau keputusan yang “legal”.

Tuhan menginginkan ketulusan dan kemurnian hati. Maka benarlah apa kata Paulus, yang diusahakannya adalah: “Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.” (Kis. 24:16), dan penulis Amsal telah menyatakan: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Ams. 4:23).

Penerapan:
Memohon agar Tuhan terus memurnikan hati nurani saya, sehingga saya tidak munafik–menyembunyikan hati dan motif yang jahat di balik sikap atau keputusan yang legal atau benar.

Views: 5

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.