Wahyu 22:1-5
Yohanes menuliskan apa yang dilihatnya di Kota Yerusalem Baru, di langit baru dan bumi baru, tempat tinggal orang percaya di dalam kekekalan bersama Allah dan Anak Allah. Yang ada di Kota Yerusalem baru itu adalah: kehidupan untuk selama-lamanya, kemuliaan untuk selama-lamanya, menikmati hadirat Tuhan dan menyembah Tuhan untuk selama-lamanya, dan memerintah bersama Tuhan untuk selama-lamanya.
Ayat 1. Ada sungai air kehidupan, jernih bagikan kristal, mengalir keluar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba yang ada di Kota Yerusalem. Air jernih melambangkan kekudusan dan kemurnian Tuhan, yang mengalir di seluruh aspek yanga ada di Kota Yerusalem–kehidupan, kekudusan, kemurnian mengalir di setiap jalan-jalan di tempat kediaman orang-orang kudus.
Kalau diimplementasikan di dalam hidup orang percaya, kondisi yang seharusnya ada adalah: air kehidupan, yaitu kekudusan dan kemurnian Illahi itu mengalir di seluruh pembuluh darah, dan menyebar dan menyerap memberi kehidupan kepada seluruh tubuh. Tuhan Yesus pernah menjanjikan: “Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” (Yoh. 7:38). Dari hati lah, seluruh aspek hidup seseorang itu ditentukan. kalau dari hatinya mengalir air kehidupan, maka seluruh aspek hidupnya akan kudus dan murni!
Ayat 2. Di tengah-tengah jalan Kota Yerusalem Baru, di sisi-sisi sungai kehidupan yang mengalir tadi, ada sebatang pohon kehidupan–jadi ada 2 pohon kehidupan di kanan kiri sungai tadi. Pohon-pohon ini terus-menerus berbuah, setiap bulan sepanjang tahun, dan ada 12 jenis buah yang dihasilkan oleh pohon-pohon itu. Daun dari pohon kehidupan itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa.
Pohon kehidupan pertama kali disebut di Taman Eden: pohon kehidupan itu terletak di tengah-tengah taman Eden (Kej. 2:9). Buah dari pohon kehidupan itu membuat manusia bisa hidup untuk selama-lamanya (Kej. 3:22). Manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa, tidak diperbolehkan untuk memakan buah kehidupan–sehingga ia pasti akan mati. Tetapi di Kota Yerusalem Baru, pohon kehidupan itu sekarang boleh dikonsumsi, sehingga oran-orang kudus yang tinggal di sana dapat hidup untuk selama-lamanya.
Ayat 3-4. Di Kota Yerusalem baru tidak ada lagi laknat atau kutukan (curse), segala yang tidak baik: malapetaka, penyakit, bahaya, kelemahan, semuanya sudah tidak ada lagi. Orang hidup leluasa untuk mengembah Allah dan Anak Domba Allah, yaitu orang-orang percaya, yang di dahi mereka tertulis Nama Allah. Sekarang orang percaya bisa langsung melihat wajah Allah! Sebelumnnya, tidak ada yang bisa melihat wajah-Nya, karena Ia Mahakudus, sedangkan manusia itu berdosa. Tetapi sekarang, setelah dikuduskan dengan sempurna, orang percaya bisa berhadapan muka dengan Allah.
Ketidakkudusan dan kutuk karena dosa membuat orang tidak bisa mengalami hadirat Allah secara sempurna. Benarlah perkataan Tuhan Yesus: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Mat. 5:8). Keakraban dengan Tuhan hanya bisa dialami oleh orang yang hidupnya kudus, sebab Allah itu Mahakudus. Selama masih ada ketidakkudusan dan kecemaran di dalam diri seseorang, ia sulit untuk bersekutu dengan Allah.
Bukan Tuhan yang enggan untuk bersekutu, sebab: “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yes. 59:1-2).
Ayat 5. Tidak ada lagi malam di Kota Yerusalem Baru. Sumber cahaya dan sumber kehidupannya adalah kehadiran Allah sendiri. Tuhan Allah akan menerangi mereka–yaitu orang-orang kudus. Hidup dalam terang, tidak ada kegelapan, tidak ada kesesatan, tidak ada kejahatan, tidak ada kebingungan. Semuanya terang, semuanya jelas, semuanya mulia. Tuhan Yesus berkata: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yoh. 8:12).
Ayat 5b. Apa aktivitas orang-orang kudus di Kota Yesusalem Baru? Selain beribadah dan menyembah Allah dan Anak Domba Allah, orang-orang kudus akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya. Ada otoritas ada kemuliaan yang diberikan kepada orang-orang kudus. Memerintah dalam konsep Illahi, bukan memerintah dalam konsep duniawi.
Bukankah Tuhan Yesus berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;” (Mat 20:25-27).
Pemerintahan Illahi, pemerintahan Sorgawi, adalah pemerintahan yang melayani, bukan pemerintahan yang menindas, bukan pemerintahan yang memaksa orang mengikuti apa yang diinginkan. Tetapi pemerintahan yang melayani orang lain, yang memikirkan kebaikan orang lain, yang memenuhi kebutuhan orang lain. Itulah pemerintahan ala sorga. Pemerintahan yang nanti akan dijalankan oleh orang-orang kudus di Kota Yerusalem Baru.
Penerapan:
Saya mengerti bahwa yang sempurna itu tidak akan pernah bisa terjadi di bumi ini–yang masih ada dosa dan kecemaran, tetapi saya berdoa agar Tuhan berkenan terus menguduskan hidup saya, agar saya semakin mengalami Tuhan, dan Tuhan menolong hati saya untuk menjadi pelayan bagi Tuhan dan bagi orang lain.
Views: 3