2 Timotius 2:19-21
Dunia mencari orang berbakat. Track record yang dituntut ketika menyeleksi orang untuk diberi kepercayaan atau tanggung jawab atau penghargaan adalah: prestasi, kompetensi, pengetahuan, dan pengalaman. Tetapi, dalam tata kelola Kerajaan Allah, kriteria paling utama orang yang bisa dipakai Tuhan adalah: kekudusan hidup–bagaimana ia terbukti telah dan sedang terus menyucikan diri dari hal-hal yang jahat.
Ayat 19. Paulus memulai bagian ini dengan kata “tetapi”, menunjukkan bahwa bagian ini berkaitan secara kontradiktif dengan bagian sebelumnya, yaitu kerusakan iman yang dalami anggota jemaat karena mengikuti ajaran omong kosong duniawi yang disebarkan oleh Himeneus dan Filetus (ayat 16-18). Paulus meyakinkan Timotius bahwa Tuhan mengenal siapa umatnya yang sejati, dan bahwa umat Tuhan yang sejati akan meninggalkan kejahatan.
Kehidupan seseorang akan menunjukkan identitas aslinya: apakah ia umat Tuhan sejati atau bukan. Sekalipun demikian, perilaku eksternal masih bisa dilakukan, tetapi Tuhan melihat jauh ke dalam roh seseorang. Tuhan tahu siapa yang sungguh-sungguh percaya. Tuhan membiarkan kedua kelompok orang itu tetap ada, sampai pada waktunya Tuhan akan memisahkan mereka. Pemisahan itu bisa jadi sekarang (misalnya ketika mereka pergi mengikuti ajaran yang palsu); atau nanti di akhir zaman ketika Tuhan akan menghakimi semua manusia.
Ayat 20. Melanjutkan gagasan tentang jemaat kepunyaan Tuhan, Paulus mengajarkan bahwa sama-sama orang percaya, eksistensi/karakter/kualitasnya bermacam-macam. Menggunakan perumpamaan perabot rumah tangga yang bermacam-macam: ada yang dari emas/perak untuk maksud mulia, dan dari kayu/tanah untuk maksud yang kurang mulia. Mulia atau tidak mulia ini bukan berdasarkan peran/fungsi, melainkan berdasarkan kadar kekudusan hidup.
Ayat 21. Barangsiapa menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat–termasuk omong kosong duniasi dan ajaran sesat–ia akan menjadi perabot untuk maksud yang mulia. Ia akan dikhususkan oleh Sang Tuan untuk digunakan dalam mengerjakan maksud-maksud yang mulia. Bukan masalah bakat atau talenta, bukan masalah usia atau pengalaman, tetapi masalah: seberapa serius seseorang hidup dalam kekudusan yang menjadi variabel yang menentukan kegunaan seseorang di hadapan Tuhan.
Karena Tuhan itu kudus, sehingga apapun yang akan dipakai-Nya harus kudus. Illustrasi yang sangat jelas dalam ritual ibadah bangsa Israel yang diatur dalam Hukum Musa. Setiap benda dan orang harus dikuduskan kalau akan digunakan dalam ibadah kepada Tuhan. Obyek hidup atau mati yang kedapatan ada cacat-celanya, tidak diperbolehkan terlibat dalam ibadah. Dalam PL cacat/cela itu direpresntasikan dalma hal fisik, tetapi itu adalah lambang tuntutan Tuhan agar batin/hidup seseorang kudus di hadapan Tuhan, kalau mau dipakai Tuhan.
Penerapan:
Mengingat terus bahwa hanya orang yang hdiupnya kudus bisa dipakai oleh Tuhan untuk maksud/tujuan-Nya. Supaya saya serius dan tekun menjaga kekudusan hidup saya.
Views: 3