Ketika Ada di Titik Terrendah

1 Samuel 21:11-15

Bagaimana respon orang normal ketika ia harus ada ke dalam situasi yang sangat hina dan memalukan? Ia bisa marah kepada orang-orang yang menjaid penyebab kondisinya; atau marah kepada keadaan sekitarnya, situasi yang membuatnya terpuruk. Ia mungkin juga akanmarah dan kecewa kepada Tuhan, sebab membiarkan dirinya masuk dalam kondisi itu. Tetapi, Daud berbeda! Responnya kepada TUHAN tidak seperti orang pada umumnya, padahal ia terpuruk ke titik yang terrendah dan terhina menurut ukuran manusia.

Ayat 11. Pada hari itu juga–setelah ia singgah di tempat Kemah Suci di Nob, Daud sampai ke kota Gat. Jaraknya sekitar 30 km dari Nob. Ini kota tempat kelahiran Goliat, rajanya bernama Akhis. Daud, sendirian, membawa pedang Goliat, pergi ke kota kelahiran Goliat di tanah Filistin. Apakah ia berpikir peluangnya untuk survive di tanah Filistin lebih besar daripada tetap di Israel? Ataukah ia bermaksud menawarkan diri sebagai tentara Filistin?

Ayat 12. Pegawai-pegawai Akhis berkata kepada tuannya: memperingatkan Akhis bahwa yang datang ini Daud–yang sudah terkenal sebagai prajurit yang hebat. Bahkan nyanyian yang memuji-muji Daud atas Saul pun diketahui oleh mereka. Dari mana mereka tahu bahwa Daud datang? Bisa jadi, Daud sudah mencari kontak untuk melamar sebagai tentara Filistin.

Ayat 13. Ketika mendengar komentar atau laporan para pegawai istana kepada Akhis, Daud menjadi takut sekali kepada Akhis–maka ia berlaku seperti orang sakit ingatan di depan mata mereka, dan berpura-pura gila di dekat mereka. Mungkin juga, ia berpura-pura sebagai orang gila yang mengaku-ngaku sebagai Daud–msulihat untuk mengelabuhi orang Filistin.

Ayat 14. Akhis termakan oleh siasat Daud. Ia tidak percaya bahwa itu adalah Daud, sang pejuang Israel, tetapi orang gila yang menyaru sebagai Daud di dalam kegilaannya. Maka ia menyuruh pegawai-pegawainya untuk mengeluarkan Daud dari rumahnya. Ini berarti Daud sudah mengenalkan diri, sudah di bawah ke hadapan Akhis, tapi ketika ia ketakutan, ia langsung berpura-pura gila, sehingga ia diusir keluar.

Betapa memalukan kondisi Daud, betapa rendah posisinya saat itu! Baru beberapa hari yang lalu ia adalah seorang pahlawan yang terhebat di Israel, pemimpin pasukan raja, menantu raja, pejabat istana, orang yang sangat dikasihi anak raja, dicintai dan dikagumi oleh semua orang Israel, dan sekarang, ia harus berpura-pura jadi orang gila demi menyelamatakan diri!

TUHAN mengijinkan itu semua terjadi, memakainya di dalam rencana-Nya untuk menyelamatkan dan memelihara nyawa Daud, sebab TUHAN sudah menetapkan Daud untuk menjadi raja bagi umat-Nya. Jalannya tidak mulus sama sekali, dan agaknya ini titik terrendah dalam hidup Daud, sebab setelah ini, keluarga dan orang-orang lain mulai bergabung kepadanya.

Seperti apa perasaan dan isi hati Daud? Itu bisa diketahui dari Mazmur 34, sebab mazmur itu dibuat oleh Daud ketika ia berpura-pura gila di hadapan Akhis. Isinya: puji-pujian kepada TUHAN, bagaimana jiwanya bermegah di dalam TUHAN, sebab TUHAN sudah melindunginya dan menyelamatkannya. Tidak ada kepahitan, yang ada pujian dan ucapan syukur kepada TUHAN, sekalipun ia harus menjalani kondisi yang sangat hina dan sangat memalukan. Tidak ada kemarahan, yang ada justru ajakan untuk datang dan berlindung kepada TUHAN, dan keyakinan bahwa TUHAN pasti akan menolong!

Penerapan:
Tolonglah supaya saya terus berharap kepada Tuhan, tolonglah supaya saya bisa memandang dan membawa segala situasi kepada Tuhan, tidak marah atau dendam atau pahit hati ketika dalam kesulitan, tetapi berseru-seru kepada Tuhan.

Views: 1

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.