Wahyu 3:1-6
Kota Sardis berlokasi sekitar 45 km di sebelah tenggara Tiatira, ada di jalur perdagangan yang penting, memiliki berbagai industri utama yang membuat kota ini kaya. Kota ini juga menjadi pusat penyembahan berhala karena memiliki kuil Dewi Artemis–seperti yang di Efesus. Gereja ini merasa masih hidup–dengan rutinitas ibadah dan aktivitas yang lain, tapi di mata Tuhan mereka sudah mati. Ini adalah panggilan agar mereka bangun dari ilusi kenyamanan mereka, melihat kenyataan mereka yang sebenarnya di hadapan Tuhan, dan bertobat.
Ayat 1a. Tuhan Yesus memperkenalkan Diri-Nya sebagai “Dia, yang memegang ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu“, deklarasi bahwa Tuhan Yesus adalah Pemilik dan Penguasa yang berdulat atas semua jemaat dan semua pemimpin jemaat. Bukan manusia atau komisi atau organisasi, tetapi Tuhan Yesus yang memiliki, menguasai, dan memegang otoritas atas setiap jemaat.
Ayat 1b-2. Berbeda dengan apresiasi Tuhan Yesus atas jemaat-jemaat yang lain, kepada gereja Sardis Tuhan tidak memakai kalimat: “Aku tahu perbuatanmu.” Apakah ini berarti bahwa jemaat ini tidak melakukan apapun yang bernilai di hadapan Tuhan Yesus? Justru Tuhan Yesus menyatakan: “tidak ada satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna/selesai di hadapan Allah-ku“.
Masalahnya, jemaat tidak merasa bahwa kehidupan atau pekerjaan mereka dicela oleh Tuhan. Mereka masih merasa bahwa mereka adalah jemaat yang “hidup”, padahal di mata Tuhan, mereka itu mati! Dan Tuhan menyatakan bahwa hanya ada beberapa hal yang tertinggal, dan itupun hampir mati! Sardis adalah potret jemaat yang tinggal nama/organisasi/ritual rutin, tapi sudah tidak melakukan apapun yang diinginkan Tuhan, yang bernilai bagi Tuhan.
Ayat 3. Tuhan Yesus memperingatkan mereka agar bertobat dari situasi itu. Perintah Tuhan Yesus adalah: (1) bangun dari “kematian”–sadari kondisi mereka yang kosong di hadapan Tuhan; (2) menguatkan apa yang masih tertinggal–ada hal-hal yang masih berkenan kepada Tuhan, tapi sudah nyaris mati; jemaat harus menguatkan perkara-perkara itu; (3) terus setia dan berjaga-jaga, jangan lengah lagi sehingga menjadi kendor lagi.
Tuhan mengingatkan bahwa kalau mereka tidak melakukan perintah itu, maka mereka akan terkejut ketika Tuhan datang menjumpai/memeriksa pekerjaan mereka. Metafora “kedatangan pencuri” digunakan di sini, agaknya untuk menekankan agar jemaat waspada untuk terus tekun mengerjakan apa yang Tuhan perintahkan–seperti seorang hamba yang setia karena tidak tahu kapan sang tuan akan datang.
Ayat 4-6. Tuhan menyatakan bahwa masih ada beberapa orang–berarti mereka minoritas di dalam jemaat–yang hidupnya tidak tercemar: hidup kudus dan mengerjakan pekerjaan mereka dengan sempurna di hadapan Tuhan. Untuk mereka, Tuhan memberikan status yang mulia: mengenakan pakaian putih yang hanya layak untuk orang yang berkenan kepada Tuhan, dan nama mereka tidak akan dihapus dari Buku Kehidupan, dan Tuhan Yesus tidak akan malu mengakui nama mereka di hadapan Allah Bapa dan para malaikat-Nya.
Penerapan:
Hanya tinggal sedikit yang masih tersisa dari kehidupan yang dikehendaki Tuhan sebagai umat-Nya. Jangan merasa puas dan sudah cukup; karena di mata Tuhan, hanya sedikit yang tertinggal. Bangunlah lagi rumah itu dari pondasi sampai ke atapnya–dan jangan kendor, tapi tekulah terus melakukannya setiap hari.
Views: 0