Tuhan Sang Pemegang Kata Akhir

Wahyu 2:8-11

Smirna adalah kota yang besar dan kaya, sekitar 56 km di sebelah utara Efesus. Tapi berbeda dengan Efesus yang tinggal reruntuhan, sampai sekarang Smirna masih berdiri dan berkembang menjadi kota pelabuhan modern tersibuk kedua dan kota terbesar ketiga di wilayah Turki. Tidak ada teguran Tuhan untuk jemaat ini, melainkan nubuat dan janji yang besar untuk mereka; sebab pada akhirnya pandangan dan kemauan Tuhanlah yang akan tegak berdiri–apapun situasi dan pandangan dunia.

Ayat 8. Kepada jemaat di Smirna, Tuhan Yesus mengidentifikasikan Diri-Nya sebagai: “Yang Awal dan Yang Akhir“–menunjukkan kekekalan Tuhan Yesus, yang mengawali segala sesuatu dan yang nanti akan mengakhiri segala sesuatu. The Only One who have the first dan the last word on everything. Ia yang memutuskan hasil akhir dari segala sesuatu! Bukan dunia, bukan manusia, bukan keadaan, bukan kekuatan apapun; melainkan hanya Tuhanlah kata akhir atas segala sesuatu!

Tuhan Yesus juga menyebut Diri-Nya dengan: “Yang telah mati dan hidup kembali“. Tuhan yang adalah sumber kehidupan–yang adalah kehidupan itu sendiri. Tuhan yang telah mengalami kematina, tetapi yang bangkit dari kematian dan hidup untuk selama-lamanya. Kematian, yang menindas semua makhluk, tidak menindas Tuhan Yesus; justru Tuhan Yesus yang berkuasa atas kematian, dan kematian tidak bisa membelenggu Dia.

Ayat 9. Betapa atribut Tuhan Yesus sebagai Yang Memegang Kata Akhir dan yang telah mati dan hidup kembali itu diperlukan oleh jemaat Smirna. Sebab jemaat ini sedang mengalami penderitaan: kesusahan dan kemiskinan karena fitnah dan penganiayaan yang dilakukan oleh orang-orang yang menyebut diri mereka Yahudi (umat pilihan Tuhan).

Ada dua kontradiksi yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus: sekalipun di mata dunia jemaat Smirna itu susah dan miskin, tetapi sebenarnya mereka adalah jemaat yang kaya di hadapan Tuhan. Sebaliknya, sekalipun para penganiaya itu menyebut diri mereka sebagai orang Yahudi–umat Allah, tetapi di hadapan Tuhan mereka sebenarnya adalah jemaah Iblis! Mana yang benar? tentu saja pandangan Tuhanlah yang benar, sebab bukankah Dia Yang Memegang Kata Akhir?

Ayat 10a. Setelah menyatakan apa pandangan-Nya tentang situasi jemaat Smirna–and that is what matter–Tuhan Yesus memberikan kekuatan kepada mereka: Pertama, menghibur dan menguatkan agar mereka tidak takut kepada apa yang akan mereka hadapi. Tuhan sudah tahu Iblis akan menyerang mereka, memenjarakan unutk menguji iman dan menyusahkan hidup mereka selama 10 hari (penderitaan itu tidak terus menerus, tapi akan ada batas waktunya).

Tuhan tahu apa yang akan terjadi, Tuhan tahu apa rencana yang akan dilakukan oleh si Iblis–apalagi cuma rencana manusia, Tuhan tahu sampai berapa lama suatu peristiwa itu akan terjadi. Tuhan tahu semuanya, dan Tuhan mengendalikan semuanya. Tidak ada satupun yang lepas dari pengawasan dan pengendalian Tuhan; sehingga orang percaya tidak perlu takut, sebab segala sesuatu ada di dalam genggaman tangan Tuhan–yaitu Tuhan yang mengasihi mereka sampai mau mati untuk mereka.

Ayat 10b-11. Kedua, Tuhan memerintahkan jemaat Smirna agar setia sampai mati–tetap setia kepada Tuhan, tetap taat kepada kebenaran Tuhan, bahkan sampai mati. Dan Tuhan menjanjikan untuk memberikan mahkota kehidupan kepada mereka yang setia. Janji Tuhan sangat tegas dan harus sungguh-sungguh diperhatikan dan dipegang oleh jemaat: Barang siapa menang, yaitu tetap setia di tengah segala penderitaan, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua (tidak masuk ke dalma penghukuman, tapi menerima hidup kekal bersama dengan Tuhan).

Tuhan menolong jemaat untuk melihat kepada kekekalan, dan tidak pada situasi yang saat ini ada di dunia–terutama pada penderitaan yang harus mereka hadapi karena iman mereka kepada Tuhan. Apa yang harus diingat: (1) Tuhan yang Kekal dan Berdaulat itu mengetahui dan mengendalikan segala sesuatu; (2) Tuhan menjanjikan kehidupan yang kekal sebagai ganti penderitaan yang sementara waktu di dunia.

Penerapan:
Mempercayai bahwa Tuhan adalah Sang Pemegang Kata Akhir! Sehingga saya hanya memegang apa yang dinyatakan Tuhan–apakah itu pemahaman atas situasi yang sedang saya hadapi, apakah itu penilaian/standar moral/kebenaran, dan apakah itu janji yang dinyatakan-Nya.

Views: 5

This entry was posted in Perjanjian Baru, Saat Teduh, Wahyu. Bookmark the permalink.