Di tengah situasi yang tidak ideal: di tempat pembuangan dengan status sebagai orang hukuman, Yohanes justru dikuatkan dengan identitasnya yang sebenarnya–kesadaran bahwa ia adalah warga Kerajaan Allah yang sednag menderita bagi Kristus; dan diperkuat dengan kenyataan bahwa Tuhan berkenan untuk menyatakan perkara yang mulia/agung dan illahi kepadanya–justru ketika ia diidentifikasikan oleh dunia sebagai orang hukuman.
Ayat 9. Penulis mengidentifikasikan dirinya sebagai: Yohanes, yaitu (1) yang adalah saudara dan teman sepenanggungan di dalam Kerajaan Allah dan di dalam penderitaan karena Kristus; dan yang sama-sama sabar menanggung penderitaan itu dengan kekuatan yang dari Kristus; (2) yang saat itu tinggal di Pulau Patmos karena firman Tuhan dan kesaksian tentang Tuhan Yesus Kristus.
Yohanes adalah murid Kristus yang mengalami penderitaan di Pulau Patmos–banyak catatan menyebutkan bahwa ini adalah pulau tempat pembuangan sebagai hukuman oleh Kerajaan Romawi. Ia menderita dan dibuang karena memberitakan firman Tuhan dan karena bersaksi tentang Tuhan Yesus Kristus.
Tetapi, Yohanes tidak sendirian menderita; sebab umat Tuhan juga sedang mengalami penderitaan karena iman mereka. Tetapi, penderitaan itu bisa ditanggung karena kekuatan/kesabaran/ketekunan yang berasal dari Tuhan Yesus Kristus. Dan, sekalipun dunia memandang mereka sebagai orang hukuman, tetapi di dalam perspektif illahi, mereka adalah umat Allah, warga Kerajaan Allah.
Siapakah saya? Dunia memiliki pandangan tentang siapa saya, membuat identaitas saya. Tetapi identitas sayyang sesungguhnya tidak ditentukan oleh dunia ini. Identitas saya yang sejati ditentukan dari perspektif Illahi. Identitas saya adalah: umat Allah, warga Kerajaan Allah, yang menjalani apapun situasi kehidupan karena kekuatan yang dari Tuhan Yesus Kristus.
Ayat 10. Yohanes menuliskan apa yang ia alami. Pengalaman itu terjadi pada Hari Tuhan (hari Minggu). Yohanes sedang berada di dalam Roh–kemungkinan ia sedang dikuasai oleh Roh Kudus. Di tengah penderitaannya, kelelahan dan kesakitan di pembuangan, Tuhan berkenan membawa Yohanes ke alam roh–yang lebih mulia daripada alam duniawi ini.
Di masa itu, pada Hari Tuhan, orang percaya berkumpul untuk bersekutu, memecah roti, dan beribadah bersama-sama. Yohanes, di Pulau Patmos tempat pembuangannya, tidak bisa beribadah bersama jemaat yang lain. Namun demikian, Yohanes mengalami pengalaman di dalam Roh Kudus, kepenuhan Roh Kudus–sehingga diperkenankan melihat perkaa-perkara Illahi.
Kiranya Tuhan berkenan untuk membawa saya masuk ke dalam kepenuhan Rh Kudus, sekalipun saya sedang berada di tengah semua aktivitas di dunia ini. Mengalami relasi yang intim dengan Roh Kudus, mengalami penguasaan dan kepenuhan Roh Kudus, merasakan kasih dan pimpinan Roh Kudus.
Ayat 11. Yohanes mendengar suara dari belakangnya–suara yang tidak seperti lumrahnya suara manusia–suara yang menyerupai terompet. Suara itu memerintahkan Yohanes untuk menuliskan dalam gulugan kitab apa yang dilihatnya (akan dilihatnya), dan mengirimkan gulungan kitab itu kepada tujuh gereja/jemaat Tuhan.
Suara Tuhan mengejutkan Yohanes, karena tidak hanya dari berlakangnya–dia tidak mengantisipasi; tetapi juga karena suaranya tidak seperti suara manusia biasa, melainkan seperti suara terompet–keras, berfrekuensi tinggi; sehingga menarik perhatian Yohanes, membuat Yohanes fokus tertuju kepadanya. Bisa jadi, karena Yohanes sedang ada di dalam Roh, sedang khusyuk dalma doa atau perenungan, sehingga perlu “dibangunkan” dengan suara yang unik itu.
Ajarlah saya seperti Samuel, supaya bisa membedakan suara-Mu. Di tengah berbagai hal yang berkecamuk di dalam pikiran saya; di tengah segala situasi yang menarik perhatian saya, tolonglah saya agar mendengar suara-Mu; tariklah perhatian saya agar fokus kepada pernyataan-Mu. Buatlah saya pka kepada suara-Mu.
Views: 3