Piala Wening

Sekitar dua minggu yang lalu, saya mendapat SMS dari Rut, istri saya. Saya diminta membuat satu kalimat penghargaan untuk Wening. Katanya, kalimat itu akan di-grafir di sebuah piala. Tentu saja saya bertanya: ”Piala apa?” Rupanya, dalam rangka Perayaan Paskah, Wening ikut lomba menyanyi di sekolahnya. Hanya saja, dia belum memenangkan lomba itu, sehingga tidak mendapat piala. Dan itu membuat Wening sangat sedih. Rut kemudian memutuskan untuk membelikan piala sendiri bagi Wening. Saya sangat setuju dengan keputusan itu.

Continue reading

Views: 43

Posted in Homili | 2 Comments

Suatu Petang di Tengah Jalan Menuju Emaus

Minggu malam, dua orang berjalan kaki menuju Emaus, sebuah kampung sekitar 7 mil (sekitar 11 km) di sebelah barat Yerusalem. Selama berjalan, kedua orang ini terus sibuk berbicara satu sama lain. Sementara mereka asyik bicara, Seseorang menyusul mereka dan turut berjalan di samping mereka. Tuhan Yesus berjalan bersama mereka, namun mata mereka tidak mengenaliNya.

Continue reading

Views: 50

Posted in Homili | 2 Comments

Kesaksian Pribadi

The First Contact

Saya dilahirkan pada tahun 1971, anak ke-2 dari 5 bersaudara. Kami tinggal di Karanganyar, sebuah kota kabupaten 15 km dari kota Solo, Jawa Tengah. Keluarga kami bukan keluarga Kristen. Ketika saya berusia 6 tahun, saya dan kakak saya mulai diajak untuk pergi ke Sekolah Minggu, yang bertempat di SD Kristen Karanganyar yang lokasinya di belakang rumah kami. Dari minggu ke minggu kami terus datang.

Continue reading

Views: 38

Posted in Refleksi | Leave a comment

Sekaleng Kelereng

Siapa yang belum tahu kelereng atau gundu? Hampir semua orang (terutama pria) pasti kenal dengan bola kaca dengan motif warna-warni ini. Entah berapa macam jenis permainan yang terinspirasi oleh benda kecil ini. Saya bukan seorang pemain kelereng yang terampil, tetapi ada beberapa teman saya di SD yang luar biasa hebat kalau sudah memegang kelereng.

Continue reading

Views: 62

Posted in Refleksi | 2 Comments

Makan Malam Terindah

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat undangan untuk makan malam di rumah salah satu keluarga. Tidak ada yang berulang tahun, tidak ada yang wisuda, tidak ada peristiwa khusus yang dirayakan. Semata-mata datang untuk makan bersama. Keluarga yang satu ini memang punya kebiasaan mengundang makan, terutama para bulok (bujangan lokal) yang sangat terbatas keragaman menu makannya (kalau bukan telor ceplok atau indomie rebus ya fish & chip dan burger, he…he…he…). Continue reading

Views: 33

Posted in Refleksi | Leave a comment