Wahyu 4:1-11
Yohanes diberi anugerah untuk melihat apa yang akan terjadi di masa depan dan di dalam sorga. Hal pertama yang dinyatakan Tuhan kepadanya adalah: suasana di sorga, di mana Allah duduk di atas takhta dan menerima pujian dan hormat dan sembah dan ucapan syukur terus menerus, siang dan malam. Tuhan Allah adalah Raja yang bertakhta atas segalanya; hanya Dia yang layak untuk menerima pujan dan penyembahan.
Ayat 1. Setelah menerima pernyataan langsung dari Tuhan Yesus tentang tujuh jemaat di Asia Kecil, Yohanes menerima penglihatan: pintu terbuka di sorga dan kembali suara Tuhan terdengar–yaitu suara yang pernah di dengarnya, yang seperti terompet, berkata agar Yohanes naik ke sorga dan Tuhan akan memperlihatkan apa yang akan terjadi di masa depan.
Apa yang akan dinyatakan Tuhan kepada Yohanes adalah apa yang akan terjadi setelah apa yang dinyatakan kepada/tentang gereja-gereja. Beberapa penafsir menyatakan bahwa ketujuh jemaat itu adalah representasi tujuh masa/periode perkembangan umat Tuhan dengan karakteristik-karakteristik tertentu. Dan setelah ketujuh masa itu terjadi, maka barulah apa yang akan dinyatakan Tuhan ini terjadi.
Ayat 2-3. Yohanes dikuasai Roh Kudus, dan ia melihat apa yang ada di sorga–karena panggilan yang didengarnya adalah: “Naiklah ke mari“, yaitu ke sorga yang pintunya terbuka. Yohanes melihat sebuah takhta berdiri di sorga dan di takhta itu duduk Seseorang.
Yohanes melihat bahwa Dia yang duduk di takhta sorgawi itu nampak bagai permata yaspis (jasper) dan sardis (sardine/ruby). Keduanya adalah batu-batu permata yang indah; yang terpasang di baju efod Imam Besar (Kel. 28:17-20), batu berharga yang terdapat di Eden (Yeh. 28:13), batu-batu yang menjadi pondasi Yerusalem Baru (Wah. 21:19-20).
Dia yang duduk di takhta di sorga itu penampakannya sangat indah dan sangat berharga: great beauty and color. Ditambah dengan ada pelangi yang melingkungi takhta itu, cemerlang seperti zamrud–ini menambah keindahan dari takhta sorgawi itu. Yohanes kehabisan kata-kata untuk bisa menggambarkan keindahan yang dilihatnya.
Ayat 4. Di sekeliling takhta itu–takhta yang utama–ada dua puluh empat takhta yang lain. Dan di masing-masing kedua puluh empat takhta itu duduklah dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan makhkota emas di kepala mereka. Kata “tua-tua” memakai kata “presbuteros” yang biasa digunakan sebutan bagi pemimpin umat. Sedangkan kata “mahkota” memakai istilah “stephanos” yaitu mahkota penghargaan karena menang dalam lomba–bukan mahkota seorang raja.
Ada beberapa penafsiran tentang identitas kedua puluh empat tua-tua itu, salah satunya: mereka adalah simbol dari umat Tuhan di sorga: mendapatkan kehormatan untuk duduk di takhta dan telah dianugerahi dengan mahkota kemenangan dari Tuhan. Yohanes melihat kerajaan/pemerintahan Tuhan itu nyata di sorga, dan di sana umat Tuhan dimuliakan dan dihormati sebagai pemenang.
Ayat 5. Dari takhta yang utama itu keluar kilat dan bunyi guruh menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu. Obor-obor itu adalah ketujuh Roh Allah. Di sorga, Allah Tritungal dinyatakan–Allah Bapa duduk di atas takhta dan Roh Kudus direpresentasikan dengan ketujuh obor menyala. Dan kemudian, Tuhan Yesus akan dinyatakan sebagai Anak Domba Allah (Wah. 5:1-14).
Ayat 6-8. Di hadapan takhta Allah ada lautan kaca sepeti kristal, dan ada empat makhluk yang penuh dengan mata. Keempat makhluk itu menyerupai: singa, anak lembu, memiliki seperti muka manusia, dan burung nazar yang sedang terbang. Mereka tidak berhenti-hentinya berseru siang dan malam: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.”
Ayat 9-11. Setiap kali keempat makhluk itu mempersembahkan pujian, hormat, dan syukur kepada Allah Bapa, tersungkurlah ke dua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta. Kedua puluh empat tua-tua itu menyembah Allah dan melemparkan makhkota di hadapan takhta itu sambil berkata: “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”
Suasana di depan takhta sorgawi adalah suasana pujian dan penyembahan kepada Allah Bapa. Makhluk sorgawi, maupun mereka yang mendapat kehormatan atau kemuliaan akan terus tersungkur menyembah Allah Bapa–segala kehormatan dan kemuliaan yang mereka miliki, dilemparkan ke hadapan takhta Allah–tak berarti dibandingkan dengan kemuliaan Allah Bapa; sebagai pernyataan bahwa hanya Allah yang patut menerima segala pujian dan sembah.
Fokus penyembahan kepada Allah Bapa adalah: karena Allah Bapa yang telah menciptakan segala sesuatu; dan segala sesuatu itu ada oleh karena kehendak-Nya. Memuji Allah karena kedaulatan-Nya dan kuasa-Nya dalma penciptaan segala sesuatu–karena kehendaknya dan kuasanya segala sesuatu itu diciptakan. Maka, betapa sombong dan tidak tahu dirinya, ketika seseorang berani berkata sepeti Nebukadnezar: “Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?” (Dan. 4:30).
Penerapan:
Menyembah Tuhan dan memuji Tuhan, mengakui bahwa apapun yang ada itu karena diciptakan oleh Tuhan, karena Tuhan yang menghendaki agar semua itu ada. Bukan saya, bukan siapa pun yang menjadikannya, tetapi Tuhan yang menjadikannya.
Views: 1