{"id":4403,"date":"2026-07-29T18:33:12","date_gmt":"2026-07-29T11:33:12","guid":{"rendered":"https:\/\/catatanmurid.org\/?p=4403"},"modified":"2026-07-29T18:33:28","modified_gmt":"2026-07-29T11:33:28","slug":"kesabaran-tuhan-di-tengah-kemerosotan-manusia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/catatanmurid.org\/?p=4403","title":{"rendered":"Kesabaran Tuhan Di Tengah Kemerosotan Manusia"},"content":{"rendered":"<p><strong>1 Samuel 2:22-36<\/strong><\/p>\n<p>Tuhan tidak menginginkan satupun binasa, melainkan setiap orang mendapat keselamatan. Akan tetapi, orang bisa memilih untuk mengeraskan hatinya&#8211;seperti juga manusia pertama, yang tanpa dosa itu, memilih untuk tidak taat kepada perintan Tuhan. Di dalam kekerasan hati manusia, Tuhan terus memberikan tegoran dan peringatan&#8211;dan kalau perlu disertai ancaman, supaya orang berbalik. Tetapi, ada orang yang memilih untuk tidak mengindahkan peringatan Tuhan.<\/p>\n<p><!--more--><strong>Ayat 22-25<\/strong>. Eli mendengar kejahatan anak-anaknya&#8211;artinya, kejahatan anak-anaknya itu bukan rahasia lagi, melainkan sudah diketahui oleh publik. Bahkan Eli sendiri mengatakan bahwa segenap bangsa, atua semua orang, telah menceritakan kejahatan anak-anaknya kepadanya. Eli berusaha menegor mereka, dengan memperingatkan bahwa mereka sudah berdosa kepada TUHAN, dan karena berdosa kepada TUHAN.<\/p>\n<p>Tetapi, anak-anak Eli tidak mau mendengarkan tegoran ayah mereka. Mereka mengeraskan hati dan tetap menuruskan kejahatan mereka. Sebab, TUHAn sudah memutuskan untuk menghukum atau mematikan mereka. Seperti sikap TUHAN kepada Firaun, yaitu membiarkannya dalam kekerasan hatinya, demikianlah TUHAN memperlakukan anak-anak Eli. TUHAN lepas tangan, sebab mereka sudah tidak mau mendengarkan tegoran, mereka sudah memilih untuk tetap memberontak melawan TUHAN.<\/p>\n<p><strong>Ayat 26<\/strong>. Bagian ini disisipi dengan catatan tentang Samuel. Sementara anak-anak Eli semakin keras hati dan semakin dalam melakukan dosa dan kejahatan mereka menuju kepada titik akhir, yaitu kebinasaan, Samuel mengalami pertumbuhan yang sehat di hadapan TUHAN. Dimulai dengan kata &#8220;<em>Tetapi<\/em>&#8220;, untuk menunjukkan kontras dengan hidup anak-anak Eli, Samuel dicatat: &#8220;s<em>emakin besar dan dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia<\/em>.&#8221; Anak-anak Eli makin jadi bahan gunjingan, sedangkan Samuel semakin dipuji dan diperkenan. Anak-anak ELi makin merosot, sedang Samuel makin tumbuh tinggi dan kuat.<\/p>\n<p>Kelak, ada catatan yang serupa untuk menggambarkan keluarga Saul dan Daud. Karena ketidaktaatan yang dilakukannya, Saul ditolak oleh TUHAN; dan TUHAN memilih Daud, sebagai pribadi yang lebih baik daripada Saul. Dan sejak itu: &#8220;<em>Daud kian lama kian kuat, sedang keluarga Saul kian lama kian lemah<\/em>.&#8221; (<strong>2 Sam 3:1<\/strong>). Bukan masalah kemampuan, kepintaran, kekuatan; tetapi penundukan diri kepada Tuhan yang membuat seseorang akan semakin besar dan kuat. Fokuslah kepada hidup yang makin taat kepada Tuhan&#8211;itu adalah kunci kepada kebesaran dan kemuliaan.<\/p>\n<p><strong>Ayat 27<\/strong>. TUHAN tidak berdiam diri. TUHAN tetap bekerja untuk mengingatkan Eli dan anak-anaknya. Salah satu caranya&#8211;di tengah nubuatan yang sangat langka&#8211;TUHAN mengirim seorang abdi Allah datang kepada Eli dan memberikan tegoran dan peringatan TUHAN untuknya dan anak-anaknya. Dan betapa keras tegoran dan peringatan itu, mungkin karena sudah berkali-kali TUHAN berbicara dengan berbagai cara, dan tetap tidak diindahkan oleh Eli dan anak-anaknya.<\/p>\n<p><strong>Ayat 28<\/strong>. TUHAN mengingatkan Eli bahwa ia dan keluarganya dipilih oleh TUHAN untuk menduduki jabatan imam&#8211;sebuah anugerah dan kehormatan yang sangat besar, sebab tidak sembarang orang bisa menduduki posisi itu. Dan sebenarnya TUHAN sudah pernah berjanji bahwa keluarga dan kaum Eli akan hidup di hadapan TUHAN selamanya (<strong>ayat 30<\/strong>). TUHAN tidak hanya menganugerahkan posisi yang mulia tetapi juga berkat yang besar.<\/p>\n<p><strong>Ayat 29<\/strong>. Tapi Eli dan keluarganya telah berdosa kepada TUHAN sebab: <strong>Pertama<\/strong>, ia memandang dengan loba&#8211;menginginkan\/merebut apa yang menjadi bagian TUHAN untuk diri mereka sendiri&#8211;agaknya Eli pun menikmati hasil dari rampasan korban oleh anak-anaknya itu sebab TUHAN menyatakan ia telah &#8220;<em>menggemukkan dirimu dengan &#8230; korban sajian umat-Ku, Israel<\/em>&#8220;. Tegoran Eli kepada anak-anaknya ternyata tidak sungguh-sunguh dan tidak konsekuen. Sebab sekalipun ia mengritik mereka, namun ia juga mau menikmati daging hasil kejahatan mereka.<\/p>\n<p><strong>Kedua<\/strong>, Eli lebih menghormati anak-anaknya ketimbang menghormati TUHAN, sehingga ia membiarkan anak-anaknya tetap hidup dalam dosa mereka. Tidak melakukan tindakan yang tegas untuk mencegah dan menghentikan kejahatan anak-anaknya itu. Sebagai Kepala Keluarga dan Imam Besar, Eli sebenarnya punya otoritas untuk bertindak tegas; dan TUHAN pasti akan mendukungnya&#8211;seperti TUHAN telah menjaga kekudusan keimaman pada zaman Musa dan Harun. Tetapi, Eli tidak berani tegas kepada anak-anaknya&#8211;apakah anak-anaknya sudah menjadi kuat dan berpengaruh sehingga bisa menekan dan mengintimidasi Eli?<\/p>\n<p><strong>Ayat 30<\/strong>. TUHAN menetapkan hukuman untuk Eli dan keluarganya: mencabut berkat-Nya atas keluarga Eli, karena mereka tidak menghormati TUHAN, sebab &#8220;<em>Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah<\/em>.&#8221; Dan pencabutan berkat TUHAN itu berakibat sangat menakutkan.<\/p>\n<p><strong>Pertama<\/strong>, keluarga Eli akan kehilangan kekuatan\/kekuasaan\/pengaruhnya, dengan berbagai penyebab, kekuatan mereka akan dipatahkan sehingga takkan ada seorang kakek (orang tua, pemimpin) untuk selamanya&#8211;sekalipun TUHAN memberkati seluruh Israel, tetapi khusus keluarga Eli tidak akan mengalami atau menikmati berkat TUHAN, tapi hanya ada kesesakan (distress).<\/p>\n<p><strong>Kedua<\/strong>, keluarga Eli tidak lagi dipilih untuk melayani di mezbah TUHAN, artinya keimaman mereka dicabut oleh TUHAN dan diberikan kepada keluarga atau kaum yang lain. Dan usia keluarga Eli akan pendek&#8211;keturunan Eli akan mati pada usia yang muda (prime of their life)&#8211;sebagai tanda dari TUHAN bahwa itu benar-benar akan terjadi: kedua anak Eli, yakni Hofni dan Pinehas, akan mati pada hari yang sama.<\/p>\n<p><strong>Ketiga<\/strong>, TUHAN akan memberikan jabatan imam dari keluarga Eli kepada orang lain. TUHAN sendiri akan mengangkat imam yang dipercaya-Nya, yang hidup sesuai dengan kehendak TUHAN. Imam itu akan menghasilkan keturunan yang teguh setia, yang selalu hidup di hadapan orang yang diurapi TUHAN&#8211;dinasti imam yang akan melayani para raja di Israel. Dan keluarga Eli akan datang kepada penggantinya untuk meminta belas kasihan agar bisa bertahan hidup.<\/p>\n<p><strong>Penerapan<\/strong>:<br \/>\n(1) Selama masih ada kesempatan untuk bertobat, bertobatlah. Kalau sampai secara emosi dan kehendak tidak ada keinginan untuk bertobat, berdasarkan akal budi saja&#8211;berseru meminta belas kasihan Tuhan agar ditolong untuk bertobat.<br \/>\n(2) Fokus utama kepada: membangun rasa takut kepada Tuhan&#8211;sebab &#8220;Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan.&#8221; (Ams. 1:7). Masalah training, pengembangan diri, perlengkapan kompetensi&#8211;itu adalah jalan saja; faktior penentunya adalah takut akan Tuhan.<br \/>\n(3) Selam amasih bisa berbicara dan mengingatkan, jangan berdiam diri; supaya tidak dituntut pertanggung jawaban oleh Tuhan. Perkara orang lain tidak mau mendengarkan dan tetap keras hati, itu urusan mereka dengan Tuhan.<\/p>\n<p>Views: 5<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>1 Samuel 2:22-36 Tuhan tidak menginginkan satupun binasa, melainkan setiap orang mendapat keselamatan. Akan tetapi, orang bisa memilih untuk mengeraskan hatinya&#8211;seperti juga manusia pertama, yang tanpa dosa itu, memilih untuk tidak taat kepada perintan Tuhan. Di dalam kekerasan hati manusia, &hellip; <a href=\"https:\/\/catatanmurid.org\/?p=4403\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[38,39,9],"tags":[],"class_list":["post-4403","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-1-samuel","category-perjanjian-lama","category-saat-teduh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4403","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4403"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4403\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4405,"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4403\/revisions\/4405"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4403"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4403"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4403"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}