{"id":3072,"date":"2024-12-25T06:42:17","date_gmt":"2024-12-24T23:42:17","guid":{"rendered":"https:\/\/catatanmurid.org\/?p=3072"},"modified":"2024-12-25T06:42:17","modified_gmt":"2024-12-24T23:42:17","slug":"kelayakan-palsu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/catatanmurid.org\/?p=3072","title":{"rendered":"Kelayakan Palsu"},"content":{"rendered":"<p><strong>Lukas 14:7-11<\/strong><\/p>\n<p><span class=\"dropcap\">S<\/span>alah satu naluri manusia adalah: ingin dihargai, ingin dihargai melebihi orang lain. Yohanes memakai istilah &#8220;<em>keangkuhan hidup<\/em>&#8221; (<em>pride of life<\/em>-KJV)&#8211;<strong>1 Yoh 2:16<\/strong>. Dalam konteks pesta yang dihadiri-Nya, Tuhan Yesus melihat orang-orang yang memilih tempat terhormat di meja perjamuan&#8211;mereka merasa layak untuk berada di sana, untuk memperolah penghormatan\/penghargaan. Perasaan layak adalah salah satu halusinasi dosa yang menjangkiti semua manusia.<\/p>\n<p><!--more-->Nasihat Tuhan Yesus: &#8220;<em>Do not take the place of honor<\/em>&#8221; (<strong>ayat 8<\/strong>-NIV). Bukan masalah tempatnya, karena pada kelanjutan pengajaran-Nya Tuhan Yesus menunjukkan bahwa orang bisa ditempatkan oleh tuan rumah untuk duduk di tempat terhormat. Masalahnya adalah: ada orang yang menempatkan dirinya sendiri di sana, yang berarti menganggap dirinya layak untuk menempatinya.<\/p>\n<p>Karena itu, Tuhan Yesus menyatakan pengajaran ini: &#8220;<em>Barangsiapa meninggan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan<\/em>&#8221; (<strong>ayat 11<\/strong>). Ini berbicara tentang cara pandang terhadap diri sendiri di hadapan Tuhan. Paralel dengan perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai yang berdoa di Bait Allah (<strong>Luk. 18:10-14<\/strong>)&#8211;siapa merasa layak karena siapa dirinya dan apa usahanya, justru ditolak oleh Tuhan.<\/p>\n<p>Pengajaran Tuhan Yesus ini bisa diselewengkan kalau hanya melakukan aktivitas lahiriah, tanpa bain yang rendah hati. Ada orang bersikap merendah-rendahkan dirinya&#8211;dalam perkataan atau sikap\/tindakannya&#8211;tetapi di dalma hati ia sebenarnya merasa layak, dan mengharapkan agar ia dilayakkan oleh orang lain. Orang sengaja memilih tempat di belakang, dengan isi hati: <em>aku sebenarnya layak di depan, tapi aku mau menunjukkan betapa aku rendah hati, supaya nanti aku diberi penghormatan dengan diminta pindah ke depan<\/em>\u00a0(<strong>ayat 10<\/strong>). Ini juga sombong&#8211;sebab kuncinya ada pada: hati yang merasa layak!<\/p>\n<p>Orang hanya bisa dengan tulus merendahkan diri apabila ia sungguh-sungguh melihat siapa dirinya di mata Tuhan yang Mahakudus: &#8220;<em>Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu<\/em>.&#8221; (<strong>Mazmur 103:14<\/strong>). Selama ia hanya melihat dirinya sendiri dengan kacamatanya sendiri&#8211;maka perasaan layak itu pasti akan muncul, karena memang itu naluri manusia berdosa. Tetapi kalau ia melihat hidupnya di dalma terang kekudusan Tuhan yang sempurna&#8211;ia akan sadar bahwa hidupnya hanyalah kain kotor (kain yang digunakan perempuan ketika datang bulan) yang najis (<strong>Yesaya 64:6<\/strong>).<\/p>\n<p><strong>Penerapan:<\/strong><br \/>\nBerdoa meminta Tuhan untuk menguji dan membersihkan hati saya dari kesombongan dan merasa layak. Meminta Tuhan meolong saya sungguh-sungguh menyadari bahwa saya ada semata-mata karena anugerah-Nya. Meminta Tuhan menumbuhkan kerendahan hati dalam hidup saya.<\/p>\n<p>Views: 46<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lukas 14:7-11 alah satu naluri manusia adalah: ingin dihargai, ingin dihargai melebihi orang lain. Yohanes memakai istilah &#8220;keangkuhan hidup&#8221; (pride of life-KJV)&#8211;1 Yoh 2:16. Dalam konteks pesta yang dihadiri-Nya, Tuhan Yesus melihat orang-orang yang memilih tempat terhormat di meja perjamuan&#8211;mereka &hellip; <a href=\"https:\/\/catatanmurid.org\/?p=3072\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6,40,9],"tags":[],"class_list":["post-3072","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-lukas","category-perjanjian-baru","category-saat-teduh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3072","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3072"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3072\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3073,"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3072\/revisions\/3073"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3072"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3072"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3072"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}