{"id":1771,"date":"2022-05-16T04:49:43","date_gmt":"2022-05-15T21:49:43","guid":{"rendered":"http:\/\/catatanmurid.org\/?p=1771"},"modified":"2024-03-11T09:38:01","modified_gmt":"2024-03-11T02:38:01","slug":"rajin-bekerja-dalam-masa-penantian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/catatanmurid.org\/?p=1771","title":{"rendered":"Rajin Bekerja dalam Masa Penantian"},"content":{"rendered":"<p><strong>Matius 25:14-30<\/strong><\/p>\n<p><span class=\"dropcap\">T<\/span>uhan Yesus memberi perumpamaan yang lain untuk mengajar sikap apa yang harus dimiliki murid-murid selama menantikan kedatangan-Nya yang kedua. Seorang tuan pergi ke negeri yang jauh, dan mempercayakan harta miliknya kepada hamba-hambanya. Sejak awal sudah jelas posisinya: harta itu milik sang tuan, dan hamba-hamba itu bekerja untuk sang tuan. Para hamba dipercaya untuk mengelola harta sang tuan selama ia pergi.<\/p>\n<p><!--more-->Tuan itu membagi-bagi hartanya dalam jumlah yang berbeda kepada setiap hambanya, <strong>seusai dengan kemampuan masing-masing<\/strong>. Tidak ada yang diberi tanggung jawab yang lebih berat atau terlalu banyak. Setiap hamba diberi tanggung jawab sepadan dengan kemampuan yang dimiliki&#8211;sehingga setiap orang memiliki beban dan potensi yang sama untuk bekerja bagi sang tuan.<\/p>\n<p>Begitu menerima bagian mereka, dua hamba yang pertama langsung pergi dan berdagang dengan harta itu, menghasilkan laba sehingga harta yang mereka pegang bertambah menjadi dua kali lipat. Yang menerima modal 5 talenta, memperoleh 5 talenta; yang diberi 2 talenta, menghasilkan 2 talenta. Secara nominal berbeda, tetapi dari sisi produktivitas, keduanya sama. Tetapi, hamba yang ketiga pergi, menggali lubang tanah, dan menyembunyikan harta tuannya di dalamnya.<\/p>\n<p>Setelah waktu yang lama, sang tuan<strong> datang kembali dan mengadakan perhitungan<\/strong> dengan hamba-hambanya. Kedua hamba yang pertama memperlihatkan hasil usaha mereka, dan mereka mendapat penghargaan sebagai &#8220;hambaku yang baik dan setia&#8221; dan dipercaya dengan tanggung jawab yang lebih besar, serta menikmati sukacita tuannya.<\/p>\n<p>Hamba yang ketiga datang dan menyerahkan satu talenta yang disimpannya, dengan berkata: (1) tuannya manusia yang kejam, yang mengesploitasi hambanya utuk keuntungannya sendiri; (2) ia merasa takut&#8211;dalam versi Persia ditulis: &#8220;<em>takut untuk berdagang dengan uang itu<\/em>&#8220;, kalau tidak bisa menghasilkan laba, atau justru menjadi rugi. Karena itu ia menyembunyikan talenta di dalam tanah.<\/p>\n<p>Respons sang tuan: kamu adalah hamba yang &#8220;jahat dan malas&#8221;. Kemarahan sang tuan karena hamba itu tidak mau melakukan usaha apa-apa; termasuk usaha yang paling gampang yaitu: investasikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya bisa menghasilkan bunga.<\/p>\n<p>Tuan itu memerintahkan agar talenta hamba yang malas itu diberikan kepada hamba yang memiliki 10 talenta, sebab &#8220;<em>setiap orang yang mempunya, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapayang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya<\/em>&#8221; (<strong>ayat 29<\/strong>). Lalu ia memerintahkan agar hamba yang jahat itu dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap.<\/p>\n<p><strong>Penerapan<\/strong><br \/>\nSikap yang benar dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua adalah: rajin dan tekun bekerja bagi Tuhan&#8211;tidak boleh malas, tidak boleh mengeluh atau merasa dibebani (karena Tuhan tahu batas kemampuan saya), tapi dengan antusias dan rajin mengerjakan tugas yang sudah dipercayakan kepada saya.<\/p>\n<p>Views: 42<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Matius 25:14-30 uhan Yesus memberi perumpamaan yang lain untuk mengajar sikap apa yang harus dimiliki murid-murid selama menantikan kedatangan-Nya yang kedua. Seorang tuan pergi ke negeri yang jauh, dan mempercayakan harta miliknya kepada hamba-hambanya. Sejak awal sudah jelas posisinya: harta &hellip; <a href=\"https:\/\/catatanmurid.org\/?p=1771\">Continue reading <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[30,40,9],"tags":[],"class_list":["post-1771","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-matius","category-perjanjian-baru","category-saat-teduh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1771","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1771"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1771\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1774,"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1771\/revisions\/1774"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1771"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1771"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/catatanmurid.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1771"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}